Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Tewas Tersambar Kereta, Diduga Depresi Gagal Panen

Riyan Fadli • Sabtu, 2 Mei 2026 | 00:21 WIB
EVAKUASI : Petugas mengevakuasi jasad korban tersambar kereta di KM 76+8, Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. (DOK. POLRES BATANG)
EVAKUASI : Petugas mengevakuasi jasad korban tersambar kereta di KM 76+8, Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. (DOK. POLRES BATANG)

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Suasana dini hari di jalur perlintasan kereta api KM 76+8, Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang mendadak gempar, Senin 27 April 2026.

Seorang pria paruh baya ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan setelah tersambar Kereta Api (KA) Blambangan Ekspres.

Korban diketahui bernama Wasukir, 59, warga Desa Dampyak, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang.

Ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka berat setelah dihantam rangkaian kereta api relasi Banyuwangi–Pasar Senen sekitar pukul 03.12 WIB.

Kapolres Batang AKBP Veronica melalui Pelaksana Tugas Kasi Humas, Sri Widadi, membenarkan insiden maut tersebut. Berdasarkan kronologi awal, korban tiduran di tengah rel kereta.

“Kami menerima laporan adanya seorang laki-laki yang meninggal dunia akibat tertemper kereta api di petak 76+8 masuk Dukuh Punggangan, Desa Tegalsari,” ujar Sri Widadi.

Peristiwa ini pertama kali dilaporkan oleh masinis KA Blambangan Ekspres, Pudjijana, bersama asisten masinis Ayub M kepada petugas Stasiun Ujungnegoro.

Petugas keamanan stasiun dan pihak kepolisian segera meluncur ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan pengamanan jalur.

“Kapolsek Tulis bersama Kasubsektor Kandeman dan enam personel langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara,” kata Sri Widadi.

Petugas gabungan bersama tim medis langsung mengevakuasi jenazah korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kalisari Batang untuk proses identifikasi.

“Hingga saat ini, jenazah sudah dibawa ke RSUD Kalisari untuk proses identifikasi lebih mendalam,” jelasnya.

Terkait desas-desus yang beredar di masyarakat, korban nekat mengakhiri hidup karena depresi akibat persoalan ekonomi, seperti kelangkaan pupuk dan gagal panen. Namun pihak kepolisian belum bisa memberikan kepastian.

“Informasi tersebut masih belum terkonfirmasi. Kami masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kejadian,” tegas Sri Widadi.

Pihak kepolisian juga mengimbau warga yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk segera melapor.

Selain itu, masyarakat kembali diingatkan untuk tidak beraktivitas di sepanjang jalur rel karena sangat membahayakan keselamatan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan tidak berada di jalur rel demi keselamatan bersama,” pungkasnya.

Sementara itu, Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menyatakan keprihatinannya atas kejadian ini.

Pasca kejadian, KA Blambangan Ekspres sempat berhenti di Stasiun Pekalongan untuk pemeriksaan sarana sebelum dinyatakan aman untuk melanjutkan perjalanan.

“PT KAI Daop 4 Semarang turut prihatin dan menyayangkan atas kejadian tersebut,” ungkap Luqman.

Ia menekankan, larangan beraktivitas di jalur kereta api telah diatur dalam Pasal 181 ayat (1) UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. KAI Daop 4 berkomitmen untuk terus melakukan sosialisasi keselamatan guna menekan angka kecelakaan di jalur rel. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#tewas tersambar kereta #depresi gagal panen #kereta api