Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Permintaan Ekspor Kopi Tinggi Realisasi Kecil, Genjot Lewat Sekolah Lapang Iklim

Nanang Rendi Ahmad • Sabtu, 2 Mei 2026 | 01:44 WIB
SEKOLAH LAPANG : Plt. Bupati Pekalongan Sukirman dan Kepala KPw BI Tegal Bimala saat peluncuran SLI Kopi untuk menggenjot standar mutu ekspor kopi lokal, Rabu 29 April 2026. (DOK. PEMKAB PEKALONGAN)
SEKOLAH LAPANG : Plt. Bupati Pekalongan Sukirman dan Kepala KPw BI Tegal Bimala saat peluncuran SLI Kopi untuk menggenjot standar mutu ekspor kopi lokal, Rabu 29 April 2026. (DOK. PEMKAB PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Permintaan kopi robusta asal Kabupaten Pekalongan, khususnya dari pasar Eropa, ternyata cukup tinggi.

Namun realisasinya sejauh ini masih kecil. Salah satu kendala utama karena belum terpenuhinya standar mutu ekspor.

Saat ini, luas lahan kopi di Kabupaten Pekalongan sekitar 16 hektare yang tersebar di Sengare dan Jolotigo.

Potensi tersebut dinilai cukup besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah, meski masih terkendala sarana, teknologi, dan akses pasar.

Namun data menunjukkan, dari permintaan pasar 30 kontainer, saat ini baru terealisasi 4 kontainer. 

Upaya mendongkrak standar mutu itu kini mulai digarap serius. Salah satunya dengan meluncurkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi, di Kecamatan Karanganyar, Rabu 29 April 2026. 

Program tersebut merupakan kolaborasi antara Pemkab Pekalongan bersama Bank Indonesia (BI). Akan menyasar peningkatan kemampuan petani dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus memenuhi standar pasar ekspor. 

Plt Bupati Pekalongan Sukirman mengatakan, perubahan iklim membuat petani kesulitan membaca pola tanam sehingga berdampak pada turunnya produksi dan kualitas kopi.

“Melalui sekolah lapang ini, petani dibekali keterampilan agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.

Kepala KPw Bank Indonesia Tegal Bimala menambahkan, program ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga kualitas, kelembagaan, hingga akses pembiayaan dan pasar.

SLI Kopi dirancang dalam enam pertemuan, mencakup materi dari hulu hingga hilir. Mulai dari literasi iklim oleh BMKG, teknik budidaya, hingga pengolahan pascapanen dan uji cita rasa. Program ini diikuti 30 petani dari Desa Sengare dan Jolotigo.

"Selain itu, petani juga dibekali akses pembiayaan, asuransi usaha, serta strategi menembus pasar global," tambahnya. 

Plt Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan Siti Masruroh menyebut, program ini juga membuka peluang kemitraan dengan eksportir.

“Harapannya, kualitas meningkat, produksi naik, dan kesejahteraan petani ikut terdongkrak,” katanya. (nra/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Sekolah Lapang Iklim #ekspor kopi #Kabupaten Batang