METROPEKALONGAN.COM, Batang – PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku pengelola PLTU Batang memamerkan inovasi pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) untuk pelestarian lingkungan. Masyarakat dikenalkan dengan FABA sebagai material alternatif unggulan.
Langkah ini merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap konstruksi berkelanjutan, penerapan ekonomi sirkular, sekaligus pengelolaan limbah yang aman dan ramah lingkungan.
External Relation Manager PT BPI Batang, Bagus Dona Doni menjelaskan, FABA sejatinya adalah material sisa hasil pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang masih sangat bernilai dan dapat dimanfaatkan kembali secara maksimal.
“Fly ash adalah partikel halus yang terbawa gas buang dan ditangkap melalui sistem pengendalian emisi, sedangkan bottom ash merupakan abu kasar yang mengendap di dasar ruang pembakaran. Keduanya memiliki potensi besar sebagai bahan baku konstruksi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa fly ash yang kaya akan silika, alumina, dan mineral bermanfaat lainnya, dikelola menggunakan sistem tertutup dan disimpan dengan aman dalam silo berkapasitas raksasa.
Sementara itu, bottom ash dengan karakteristik granularnya sangat fleksibel untuk menopang berbagai kebutuhan pembangunan fisik.
Pemanfaatan material ini rupanya tidak sebatas di darat. BPI juga menyulap limbah tersebut untuk kelestarian biota perairan.
“Selain untuk konstruksi, FABA juga dimanfaatkan dalam pengembangan ekosistem laut melalui pembuatan struktur Artificial Fish Apartment (AFA) dan Artificial Patch Reef (APR),” terangnya.
Struktur berbahan beton ramah lingkungan tersebut sengaja didesain menyerupai habitat asli ikan.
Harapannya, inovasi ini bisa menjadi rumah perlindungan, lokasi berkembang biak, dan memicu peningkatan keanekaragaman hayati laut di pesisir Batang.
“Program ini sudah kami mulai sejak 2020 dan berlanjut hingga sekarang. AFA dan APR telah dipasang di kawasan Karang Sebapang dan Karang Mahesa,” tegasnya.
Hasil pantauan di lapangan pun sangat menggembirakan. Struktur terumbu buatan yang dipasang di dasar laut terbukti kokoh dengan tingkat pertumbuhan karang yang optimal. Kini, kawasan tersebut mulai ramai menjadi habitat berbagai spesies perairan.
“Informasi dari nelayan, di area tersebut sudah ditemukan hiu paus, lumba-lumba, dan beberapa jenis hiu yang mulai datang dan beraktivitas di sekitar struktur,” ungkapnya.
Menatap kelanjutan program di tahun 2026 ini, BPI menargetkan penambahan hingga 10 unit AFA dan APR baru.
Desainnya akan lebih diperkuat dengan menggandeng kalangan perguruan tinggi guna menjamin efektivitas serta keberlanjutan program dalam jangka panjang.
“Ke depan, program ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya bagi kelestarian lingkungan laut, tetapi juga bagi peningkatan hasil tangkapan nelayan melalui efek spillover dari habitat yang terbentuk,” ujar dia.
Jika ekosistem laut terjaga dengan baik, populasi ikan diyakini akan meningkat pesat, yang pada akhirnya mendongkrak sumber daya perikanan bagi kesejahteraan masyarakat.
“Melalui inovasi ini, BPI menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Batang, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial,” pungkasnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla