BATANG – Ancaman sampah plastik yang kian mengkhawatirkan memantik kepedulian berbagai pihak. Yayasan pelestari lingkungan, Sungai Watch, menggelar sosialisasi dan edukasi langsung kepada 100 siswa-siswi di SMAN 1 Batang, Rabu 6 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan rangkaian kampanye lingkungan setelah pagi harinya tim Sungai Watch menggelar Fun Run bersama Bupati Batang, M Faiz Kurniawan.
Niken, perwakilan dari Sungai Watch yang hadir sebagai pemateri, mengajak para pelajar untuk lebih kritis melihat persoalan sampah yang ada di sekitar mereka. Ia menekankan bahwa plastik memiliki dualisme; di satu sisi sangat memudahkan kehidupan, namun di sisi lain menjadi bom waktu bagi kelestarian alam.
"Plastik itu murah, mudah dibuat, ringan, dan serbaguna. Tapi tahukah teman-teman, dari semua produksi plastik di dunia, hanya sekitar 9 sampai 10 persen yang telah didaur ulang? Sisanya berakhir di tempat pembuangan sampah, atau bahkan membentuk gunung sampah seperti yang ada di berbagai daerah," ungkap Niken di hadapan ratusan pelajar SMAN 1 Batang.
Pada agenda edukasi tersebut DLH Batang ikut andil dengan memberikan bantuan tempat sampah untuk sekolah. Sosialisasi ini berlangsung interaktif. Niken mengajak siswa berdiskusi langsung mengenai persepsi mereka terhadap plastik. Salah satu siswa kelas 11A, Abu Bakar Hasan Pratama, memberikan pandangan kritisnya terkait limbah.
"Apa yang terlintas di pikiranku ketika mendengar kata plastik? Langsung saya tertuju ke sampah, proses limbah, dan pencemaran lingkungan. Hanya itu," tegas Hasan.
Sementara itu, siswa lainnya, Firza, menyoroti penggunaan plastik sekali pakai yang masih sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Bungkus mi, plastik es teh, sampai plastik belanja," jawabnya polos saat ditanya mengenai bentuk plastik di sekitarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Niken juga memperkenalkan lebih jauh profil Sungai Watch yang didirikan oleh tiga bersaudara kewarganegaraan Prancis, Sam, Kelly, dan Gary Bencheghib. Meski berstatus WNA, ketiganya telah bermukim di Indonesia selama 20 tahun dan mendedikasikan hidup mereka untuk mencegah sampah plastik mengalir ke laut dengan memasang jaring penghalang (barrier) di sungai-sungai.
Hingga kini, pusat operasi Sungai Watch berada di Bali, dengan titik pemilahan yang sudah merambah ke Banyuwangi dan Sidoarjo, Jawa Timur. Melalui momen sosialisasi dan kolaborasi lari bersama Bupati Batang di pagi hari, Sungai Watch memberikan sinyal kuat untuk memperluas jangkauan aksi peduli lingkungan mereka.
"Harapannya, next-nya kita bisa ke Jawa Tengah juga tentunya," pungkas Niken yang disambut antusias oleh para siswa.
Kegiatan edukasi di SMAN 1 Batang ini diharapkan mampu memantik kesadaran generasi muda, khususnya di Kabupaten Batang, untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan lebih peduli terhadap isu kebersihan lingkungan di daerahnya.
Kehadiran tim Sungai Watch di Kabupaten Batang ternyata membawa misi khusus. Perwakilan Sungai Watch lainnya, Dewi, mengungkapkan bahwa kedatangan mereka adalah bagian dari ekspedisi besar bertajuk Run for Rivers.
"Kita lari dari Bali menuju Jakarta sejak 28 Maret lalu untuk menggalang dana supaya nantinya bisa membuka station (stasiun pemilahan) Sungai Watch di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sampai di Kabupaten Batang ini, kita sudah menempuh jarak lebih dari 700 kilometer," jelas Dewi memaparkan progres perjalanan mereka.
Dewi menambahkan, sepanjang rute lintas provinsi tersebut, tim yang dimotori oleh tiga bersaudara ini tidak sekadar berlari. Setiap kali menjumpai titik sungai yang kotor dipenuhi tumpukan sampah, mereka akan berhenti untuk melakukan aksi pembersihan (river clean up), sekaligus menggelar edukasi pelestarian lingkungan ke sekolah-sekolah.
Rencana ekspansi pembangunan stasiun Sungai Watch ke Jawa Tengah ini mendapat sambutan antusias dari para siswa yang menyatakan kesiapannya untuk turun tangan membantu. Setelah merampungkan penerimaan dan kegiatan di Batang, ekspedisi Sungai Watch akan langsung melanjutkan rute estafetnya.
"Besok kita akan melakukan fun run dan aksi bersih sungai bersama Gubernur Jawa Tengah. Bagi teman-teman yang mau ikutan, bisa langsung bergabung di Alun-alun Pekalongan," ajak Dewi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang (Waka) Kurikulum SMA Negeri 1 Batang, Adi Putvi, menyampaikan apresiasinya terhadap materi isu lingkungan yang dibawa oleh organisasi tersebut. Menurutnya, isu sampah bukanlah barang baru, namun penanganannya di lapangan kerap kali masih jauh dari kata maksimal.
"Sebenarnya kalau kita berbicara tentang isu sampah, ini isu yang bukan hal yang baru. Tapi untuk penanganannya sampai sekarang masih belum ditangani secara maksimal," ungkap Adi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa krisis sampah kini menjadi concern atau perhatian utama semua pihak, tidak hanya di lingkup pendidikan tetapi juga masyarakat luas. Sampah yang tidak dikelola dengan baik bukan sekadar membawa dampak buruk saat ini, tetapi menjadi ancaman nyata bagi masa depan.
"Sampah itu tidak hanya membawa hal yang buruk, tapi juga akan merugikan dari generasi ke generasi," tegasnya.(yan)
Editor : Agus AP