METROPEKALONGAN.COM, Batang – Suasana sedih masih menyelimuti keluarga korban terbakar saat bermain dengan temannya di Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kecamatan Batang.
Korban, RZA, bocah berusia 9 tahun, kini mengalami luka bakar hingga 30 persen.
Anak bungsu yang tidak memiliki ibu ini harus tergolek lemah dengan luka bakar serius di rumah sakit.
Usai diduga menjadi korban akibat ulah temannya yang bermain api di dekat kandang merpati, Minggu 10 Mei 2026.
Peristiwa nahas ini bak petir di siang bolong bagi Sucipto, 49, ayah korban.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai satpam perumahan di daerah Pasekaran ini mengaku kaget saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit sekitar pukul 10.00 WIB pagi.
"Saya lagi kerja, dikabari anak masuk rumah sakit. Langsung saya ke sana, kondisinya sudah tidak sadar dan diinfus. Kaget sekali," ungkap Sucipto dengan nada lirih kepada awak media.
Berdasarkan informasi yang dihimpun keluarga, sebelum kejadian, RZA sedang asyik bermain bersama teman-temannya di area kandang burung dara dari pagi hari.
"Dengarnya ada (teman) yang main api. Anak saya posisinya di belakang. Dia kan memang badannya paling kecil, tiba-tiba kena. Saya minta tanggung jawab sepenuhnya sampai anak saya sehat. Harus ada kompensasi untuk masa depannya, karena khawatir wajahnya berubah dan cacat," tegas Sucipto.
Saat ini, kasus tersebut telah dilaporkan oleh pihak keluarga dan tengah dalam penyelidikan pihak kepolisian. Kisah Reza rupanya menyimpan cerita haru.
Tetangga korban, Sri Rahayu, membeberkan bahwa Reza adalah anak yang pendiam dan bertubuh mungil. Sejak usia 40 hari, ia sudah ditinggal wafat oleh ibunda tercintanya.
"Anaknya biasa-biasa saja, ceria tapi pendiam. Kasih sayang dia dapatkan dari nenek dan bulik (tante) yang tinggal serumah, karena bapaknya sibuk bekerja. Kalau keseharian memang sering main di sekitar kolongan merpati itu," jelas Sri Rahayu.
Di sekolahnya, SD Proyonanggan 15, bocah malang ini masih duduk di bangku kelas 1. Sri Rahayu juga membenarkan bahwa keluarga Sucipto tergolong keluarga kurang mampu (Desil 4) yang kerap menerima bantuan pemerintah.
Terkait dugaan adanya perundungan terhadap korban, Sri Rahayu menjawab tidak begitu paham.
"Untuk itu kurang begitu paham ya, karena kan saya kan jauh dari lokasi. Kan itu lokasinya kan ada di belakang ini, pas belakang rumahnya. Jadi kurang sering memperhatikan. Ini yang sampingnya kan juga sering lihat ada anak-anak di sini katanya nggak. Ya umumnya anak-anak lah nggak terlalu dibully gitu," terangnya.
Kejadian yang menimpa bocah piatu ini langsung mengundang simpati dari jajaran kelurahan setempat.
Kasie Trantib Kelurahan Proyonanggan Selatan, Yuniar, mengonfirmasi bahwa pihak kelurahan bersama Lurah, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa telah turun langsung menengok korban pasca-operasi.
"Alhamdulillah anak tersebut sudah selesai dioperasi, tapi masih agak rewel karena luka bakar dan kondisinya yang masih kecil," tutur Yuniar.
Sebagai bentuk kepedulian, pihak kelurahan bergerak cepat mengupayakan bantuan pengobatan dan biaya pendampingan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Batang.
"Keluarga ini memang masuk kategori kurang mampu (Desil 4). Rumahnya dulu pernah mendapat program Bedah Rumah. Anak ini juga rutin mendapat santunan yatim piatu. Dari kami kelurahan akan berupaya semaksimal mungkin membantu meringankan musibah ini," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, jajaran kepolisian masih memintai keterangan dari beberapa saksi, termasuk keluarga, guna mengetahui secara pasti kronologi insiden api di kolongan merpati yang nyaris merenggut masa depan bocah malang tersebut. (yan/Ida)
Editor : Ida Nor Layla