METROPEKALONGAN.COM, Batang – Kabupaten Batang ternyata menyimpan "surga" tersembunyi bagi para pecinta alam. Berderet pegunungan dengan ketinggian bervariasi mulai dari 1.800 hingga 2.500 Meter di Atas Permukaan Laut (MDPL) membentang di wilayah selatan.
Deretan gunung tersebut menawarkan pesona alam yang masih perawan dan menantang untuk dieksplorasi.
Meski demikian, potensi besar wisata alam di Bumi Alas Roban ini didorong untuk tidak dibuka secara bebas dan masif layaknya gunung-gunung populer di daerah lain.
Ketua Komunitas Pendaki Gunung Kabupaten Batang (KPGB), Yuswanto membeberkan, gunung-gunung di Batang memiliki karakteristik unik dengan vegetasi flora dan fauna yang masih sangat terjaga. Oleh karena itu, konsep yang diusung ke depan adalah "Gunung Edukasi", bukan pendakian massal.
"Batang itu punya deretan gunung yang banyak. Cuma untuk Batang lebih condong ke arah gunung edukasi. Bukan jenis pendakian seperti Gunung Prau via jalur umum, Sindoro, atau Sumbing. Gunung edukasi ini izinkan didatangi, tapi dengan regulasi yang sangat ketat dan kuota terbatas," tegas Yuswanto.
Pihaknya mencontohkan insiden viralnya Gunung Kamulyan beberapa waktu lalu yang membuat kewalahan karena membeludaknya pengunjung.
KPGB berharap pembukaan jalur pendakian di Batang dibarengi dengan edukasi konservasi, mitigasi kebencanaan, dan pengenalan keanekaragaman hayati, agar alam tidak rusak dan terhindar dari krisis sampah di atas gunung.
Gunung di Kabupaten Batang membentang dari timur ke barat, diantaranya adalah Gunung Kamulyan dengan 1.800-an MDPL.
Meski terlihat menonjol karena posisinya di depan, gunung ini merupakan salah satu yang terendah namun memiliki pesona yang sempat viral. Pos pendakian pun sudah tersedia.
Lalu Gunung Kembang di ketinggian 1.900-an MDPL). Fasilitas pos pendakian menuju puncak sudah dibuat secara lengkap.
Gunung Gundul / Sigandul dengan ketinggian 2.200-an MDPL yang memiliki pemandangan terbuka. Gunung ini sangat indah karena area puncaknya tidak tertutup pepohonan rimbun. Pos pendakian pun sudah ada.
Gunung Prau via Ngelak, Bawang dengan ketinggian 2.500-an MDPL. Akses ini memiliki jalur ekstrem yang menawarkan sensasi ekspedisi sejati. Melintasi hutan lebat, waktu tempuh bisa mencapai 7 hingga 14 jam.
Gunung Alang dengan 2.500-an MDPL yang berada di atas Telaga Sidringo, menawarkan view telaga yang memanjakan mata layaknya Ranu Kumbolo.
Kemudian ada Gunung Butak sekitar 2.500 MDPL. Berada di daerah Kradenan, ini merupakan titik tertinggi atau atap dari Kabupaten Batang.
Selain daftar di atas, masih terdapat gunung-gunung lain yang potensial seperti Gunung Kobar (via Wonotunggal dengan akses jalan aspal mulus hingga Kampung Pedati), Gunung Gajah Mungkur, Gunung Mayit, Gunung Sarwo Dadi, hingga Gunung Kelaras.
Meski akses jalan raya menuju titik basecamp rata-rata sudah mulus beraspal, pengembangan wisata pendakian ini masih menemui jalan terjal.
Yuswanto mengungkapkan, tantangan terbesar saat ini adalah regulasi perizinan dari pihak pemangku kawasan seperti Perhutani.
Beberapa inisiatif pembukaan jalur, seperti di Gunung Gundul yang diinisiasi pemuda setempat, hingga kini masih tertahan regulasi. Padahal Gunung Gundul dianggap sebagai gunung dengan pemandangan paling bagus.
"Tahun 2024 pemuda Sigandul ngajak buka lagi, tapi sampai saat ini belum ada kejelasan. Kita kebentur regulasi," imbuhnya.
Di sisi lain, minat pendaki generasi sekarang juga menjadi tantangan. Jalur gunung di Batang yang didominasi hutan lebat dengan trek panjang dan ekstrem kurang diminati oleh pendaki masa kini yang cenderung mencari rute instan.
"Anak sekarang pengennya satu-dua jam nyampe puncak, foto-foto. Sedangkan di sini konsepnya ekspedisi. Harapan saya, biarlah gunung Batang tetap asri. Saya justru kurang setuju kalau dibuka umum dan bebas. Biar yang mendaki itu benar-benar teredukasi tentang pelestarian alam," pungkas Yuswanto. (yan)
Editor : Ida Nor Layla