Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Efek Gejolak Ekonomi, Jumlah Hewan Kurban di Batang Diprediksi Menurun

Riyan Fadli • Senin, 25 Mei 2026 | 14:35 WIB
SIDAK: Pemeriksaan hewan kurban oleh dokter hewan Dispaperta Batang.
SIDAK: Pemeriksaan hewan kurban oleh dokter hewan Dispaperta Batang.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Semarak pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha tahun ini di Kabupaten Batang diprediksi tidak akan seramai tahun-tahun sebelumnya.

Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang memperkirakan adanya tren penurunan jumlah warga yang berkurban akibat pengaruh kondisi ekonomi saat ini.

Dokter Hewan Dispaperta Batang, Ambar Puspitaningsih, membenarkan adanya potensi penurunan tersebut.

Menurutnya, daya beli masyarakat yang lesu atau adanya gejolak ekonomi menjadi faktor utama yang paling berpengaruh.

"Perkiraan mungkin lebih sedikit dari tahun kemarin ya, karena gejolak ekonomi dan sebagainya, mungkin jadi agak berkurang. Kalau tahun kemarin itu untuk sapi sekitar 1.500-an ekor, sedangkan kambing itu tembus lebih dari 3.000 sampai 4.000 ekor," kata Ambar, Senin 25 Mei 2026.

Meski secara kuantitas diprediksi menurun, Dispaperta memastikan kualitas dan kesehatan hewan kurban di Batang tetap menjadi prioritas utama.

Sebanyak 21 petugas paramedis diterjunkan untuk menyisir 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Batang.

Petugas secara maraton mendatangi pengepul, kandang-kandang peternak, hingga lapak-lapak dadakan di pinggir jalan yang mulai bermunculan.

Pemeriksaan meliputi syarat sah kurban, apakah sapi atau kambing tersebut sudah poel (cukup umur) atau belum.

"Selain itu dari segi kesehatan, kami cek area mulut dan kulit, karena kambing rawan terkena scabies. Bagi hewan yang sehat, langsung kami keluarkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH)," terangnya.

Dalam pantauan di lapangan tersebut, tim Dispaperta ternyata masih menemukan adanya penyakit menular.

Di Kecamatan Warungasem, petugas mendapati tiga ekor sapi yang terindikasi terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Ambar menjelaskan, sapi-sapi tersebut diketahui merupakan hewan pendatang yang baru tiba dari Jawa Timur.

"Fokus kami memang antisipasi PMK dan LSD. Meski sudah mereda, kemarin di Warungasem ada tiga sapi baru dari Jawa Timur yang terindikasi PMK. Kami sudah ambil sampel swab dan dikirim ke Balai Veteriner Semarang. Rekomendasi tegas dari kami, sapi itu harus dipisahkan, diobati sampai sembuh, dan tidak boleh dijual untuk kurban tahun ini," tegasnya. (yan)

Editor : Ida Nor Layla
#kurban #kambing #sapi #batang