METROPEKALONGAN.COM, Batang – Fenomena invasi hama ikan sapu-sapu yang mengancam keseimbangan ekosistem perairan darat mulai meresahkan warga Kabupaten Batang. Menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait terganggunya kelestarian sungai, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Batang melakukan pantauan dan pembasmian ikan yang menjadi hama tersebut.
Kepala DKP Kabupaten Batang, Budhi Santosa, membenarkan bahwa populasi ikan sapu-sapu saat ini menjadi ancaman serius, khususnya di aliran sungai wilayah hilir atau Batang kota. Meski demikian, pihaknya bersyukur perairan di wilayah hulu sejauh ini masih terbebas dari invasi hama tersebut.
"Ya, memang fenomena ikan sapu-sapu ini sangat mengganggu. Fokus sebaran saat ini banyak terpusat di daerah bawah (hilir). Alhamdulillah, kalau perairan di daerah atas masih aman dan terbebas dari sapu-sapu," ungkap Budhi, Senin 1 Juni 2026.
Pembersihan tahap awal difokuskan di aliran sungai wilayah Kauman. Di titik ini, debit air yang relatif dangkal membuat koloni hama invasif tersebut terlihat sangat jelas. Tingginya antusiasme serta aduan dari warga setempat membuat DKP bertindak cepat membasmi hama yang dapat menurunkan kualitas air dan mendesak populasi ikan lokal ini. Hasilnya cukup mengejutkan. Dari operasi pembersihan di Kauman, tim berhasil mengangkat ratusan kilogram ikan sapu-sapu berukuran raksasa.
"Kemarin tangkapan di Kauman itu luar biasa, sampai berkuintal-kuintal. Kalau diestimasi, sekitar 2 kuintal (200 kg) sepertinya ada. Ukurannya pun besar-besar, satu ekornya bisa mencapai lebih dari satu kilogram," jelas Budhi.
Berbeda dengan Kauman, aliran sungai yang mengarah ke daerah Karangasem hingga saat ini belum dievakuasi. Menurut Budhi, karakteristik sungai yang lebih dalam dengan kondisi air yang cenderung keruh membuat populasi ikan sapu-sapu di titik tersebut tidak terlihat secara kasatmata.
"Kalau di Karangasem itu sungainya dalam dan airnya agak keruh, jadi populasinya tidak kelihatan. Di samping itu, belum ada pengaduan karena masyarakat di sana juga masih banyak yang memancing dan mendapatkan ikan biasa," tambahnya.
Namun, Budhi juga menyoroti bahwa kondisi air yang keruh tersebut mengindikasikan kualitas air yang kurang baik, sehingga berpotensi menghambat perkembangbiakan ikan endemik lainnya.
Menyikapi hal ini, DKP Batang menegaskan tidak akan tinggal diam. Pemantauan intensif di wilayah Karangasem dan titik rawan lainnya akan terus dilakukan. Jika nantinya terindikasi ada ledakan populasi yang mengancam kesehatan sungai, DKP siap kembali menginisiasi gerakan pembersihan sungai massal.
"Kita akan terus lihat perkembangannya. Kalau memang nanti populasinya meledak di sana, kita akan usahakan mengadakan gerakan pembersihan lagi bersama masyarakat," pungkasnya.(yan)
Editor : Ida Nor Layla