Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Temuan Habitat Penyu di Kawasan Pandan Duri Ujungnegoro, Terancam Pengembangan Wisata

Riyan Fadli • Senin, 1 Juni 2026 | 15:07 WIB
EKOSISTEM : Lokasi pandan duri yang kini banyak ditebang untuk pengembangan wisata.
EKOSISTEM : Lokasi pandan duri yang kini banyak ditebang untuk pengembangan wisata.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Kawasan perairan Pantai Ujungnegoro, Kabupaten Batang, ternyata menyimpan keanekaragaman hayati yang tak ternilai. Belakangan ini, area tersebut diketahui sempat menjadi jalur perlintasan dan habitat satwa laut dilindungi, yakni penyu. Sayangnya, seiring pesatnya aktivitas pariwisata lokal, keberadaan satwa ini mulai terancam dan makin jarang menampakkan diri.

Pendiri komunitas penggiat alam Racikapalm, Nurhadi, mengungkapkan bahwa perairan di sekitar karang kawasan Pandan Duri, Pantai Ujungnegoro, sebelumnya kerap disinggahi oleh penyu laut. Informasi ini diperoleh dari hasil pengamatan panjang serta laporan para nelayan tradisional atau "Pemancing Kungkum" yang biasa berendam mencari ikan di sekitar batu karang pada radius tak lebih dari satu kilometer dari bibir pantai.

"Di kawasan Pandan Duri itu, beberapa kali sebelum ramai oleh aktivitas wisata, masih terlihat beberapa penyu di sana. Fakta ini kami himpun dari sekitar sepuluhan Pemancing Kungkum yang memang beraktivitas langsung di perairan tersebut," beber Nurhadi.

Keberadaan penyu di area tersebut kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Nurhadi menyebutkan bahwa sejak pesisir Ujungnegoro semakin viral dan dipenuhi lalu-lalang speedboat maupun perahu wisata, satwa-satwa tersebut seolah raib. Apalagi kawasan pohon pandan itu juga banyak yang sudah ditebangai untuk pengembangan area wisata.

"Sejak mulai ramai, ada kapal atau perahu dan lainnya, saya mengecek ke sana sekitar tiga bulan lalu, para pemancing mengaku sudah tidak pernah lagi melihat penyu di situ," sesalnya.

Kawasan perairan pesisir Ujungnegoro sejatinya telah ditetapkan sebagai zona konservasi. Hal ini berdasarkan SK Bupati Batang Nomor 523/194/2012., Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.29/MEN/2012. Area ini membentang dari Ujungnegoro hingga Roban. Di kawasan yang berdekatan dengan pusat kuliner Ndas Manyung di Ujungnegoro tersebut, bahkan telah terpasang plang informasi kawasan konservasi yang juga mencakup perlindungan untuk spesies Hiu Tutul dan satwa perairan lainnya.

Selain habitat laut, Nurhadi juga menyoroti kelestarian daratan pesisir, khususnya rimbunnya tanaman Pandan Duri yang menjadi ikon penyeimbang abrasi alami di sepanjang pesisir Batang. Ia berharap agar pengembangan sektor wisata tidak mengorbankan ekosistem darat tersebut.

"Tadinya sangat lebat pandan-pandannya. Kami meminta semua pihak untuk menghormati status konservasi ini. Jangan menggunakan paku untuk membuat ornamen wisata atau rumah pohon yang justru merusak pohon," tegasnya.

Di tengah persiapan Pemerintah Kabupaten Batang menjadikan sektor pariwisata sebagai program rencana prioritas pada tahun 2027, Nurhadi menyarankan agar dilakukan penataan ulang yang mampu menyeimbangkan unsur ekonomi kemasyarakatan dan pelestarian lingkungan.

"Harapannya, kawasan ini ditata dengan baik. Harus ada papan imbauan, larangan, atau sosialisasi yang jelas di luar area milik wisata Pemda. Kami tidak melarang wisata berjalan, namun prinsipnya harus saling menjaga; sektor pariwisata bisa jalan, tapi kelestarian alam juga harus tetap jalan," pungkasnya. 

Kepala Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Kabupaten Batang, Budhi Santosa, menyebut bahwa pihaknya belum mendapatkan laporan terkait kehadiran penyu di wilayah Batang. "Kalau untuk penyu, kita belum mendeteksinya dan sejauh ini belum ada laporan masuk terkait hal itu," terangnya. (yan)

 

Editor : Ida Nor Layla
#Ujungnegoro #batang #laut