Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Nilai Matematika Jeblok di TKA 2026, Disdikbud Batang Siapkan Bank Soal Perkuat Numerasi Siswa

Riyan Fadli • Sabtu, 6 Juni 2026 | 00:42 WIB
TKA: Salah satu sekolah di Kabupaten Batang saat menyiapkan ruangan untuk TKA
TKA: Salah satu sekolah di Kabupaten Batang saat menyiapkan ruangan untuk TKA

METROPEKALONGAN.COM, Batang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang melakukan evaluasi menyeluruh hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan.

Fokus utamanya memperkuat kemampuan numerasi, literasi, dan pembelajaran berbasis berpikir kritis peserta didik di seluruh satuan pendidikan.

Sekretaris Disdikbud Batang Tri Adi Susanto mengatakan evaluasi TKA penting untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi capaian peserta didik sekaligus menyusun langkah perbaikan pembelajaran yang lebih efektif.

Seperti diketahui nilai rata-rata pada mata pelajaran Matematika adalah 40, Sedangkan Bahasa Indonesia 60.

“Kami sependapat bahwa hasil TKA perlu dilihat secara objektif sebagai bahan refleksi bersama. Evaluasi ini penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi capaian peserta didik sekaligus menyusun langkah perbaikan yang lebih efektif ke depan,” katanya.

Menurut Tri, evaluasi ini berdasarkan aspirasi kepala sekolah, pengawas, koordinator wilayah pendidikan, serta para guru yang menghadapi tantangan serupa pada pelaksanaan TKA tahun ini.

“Ini bukan hanya persoalan satu sekolah, tetapi menjadi pembelajaran bagi seluruh satuan pendidikan,” jelasnya.

Capaian kemampuan literasi peserta didik Kabupaten Batang menunjukkan hasil cukup baik dan berada di atas rata-rata Jawa Tengah.

Namun demikian, kemampuan numerasi masih menjadi perhatian karena membutuhkan penguatan, terutama pada aspek penalaran, analisis, dan pemecahan masalah.

“Kondisi ini tidak hanya terjadi di Batang. Berbagai daerah di Jawa Tengah maupun nasional juga menghadapi tantangan yang relatif sama, terutama dalam membangun budaya berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan persoalan yang membutuhkan penalaran tingkat tinggi,” terangnya.

Tri menilai pelaksanaan TKA tahun ini memberikan banyak pembelajaran karena merupakan tahap awal implementasi asesmen dengan karakteristik soal yang berbeda dibanding evaluasi pembelajaran sebelumnya.

Selain beririsan dengan agenda akademik akhir tahun, seperti asesmen semester, ujian praktik, dan persiapan kelulusan, sekolah juga masih membutuhkan waktu beradaptasi dengan pola asesmen berbasis penalaran.

“Persiapan perlu dilakukan lebih awal sehingga sekolah memiliki waktu yang cukup untuk melakukan penguatan materi, pembiasaan soal berbasis penalaran, serta evaluasi hasil try out secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam TKA bukan semata pada penguasaan materi, melainkan kemampuan peserta didik memahami soal berbasis konteks, menganalisis informasi, menghubungkan konsep, dan menentukan solusi secara tepat.

“Karakteristik soal TKA, terutama pada aspek numerasi, lebih banyak disajikan dalam bentuk studi kasus atau soal cerita yang membutuhkan kemampuan membaca, berpikir logis, serta pengambilan keputusan berbasis analisis. Ini yang perlu terus dilatih dalam pembelajaran sehari-hari. Anak-anak perlu dibiasakan dengan soal yang mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS),” tegasnya.

Selain aspek akademik, Disdikbud juga mencatat sejumlah kendala teknis selama pelaksanaan TKA, mulai dari keterbatasan perangkat komputer atau laptop, pelaksanaan asesmen secara bergelombang, hingga kendala konektivitas internet di beberapa sekolah.

Meski demikian, Tri menegaskan hasil TKA tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan, melainkan sebagai instrumen diagnosis untuk memetakan area pembelajaran yang masih perlu diperkuat.

“Yang paling penting bukan sekadar angka hasil asesmen, tetapi bagaimana hasil tersebut menjadi dasar perbaikan pembelajaran di sekolah. TKA harus dimaknai sebagai alat refleksi untuk meningkatkan kualitas proses belajar peserta didik,” imbuhnya.

Sebagai tindak lanjut, Disdikbud Kabupaten Batang akan memperkuat peran bidang pembinaan SD dan SMP melalui penyediaan bank soal berbasis kisi-kisi nasional, peningkatan kapasitas guru melalui forum KKG dan MGMP, serta pelaksanaan try out yang lebih terencana.

Sekolah dengan capaian TKA yang baik juga akan dilibatkan untuk berbagi praktik baik guna mempercepat pemerataan mutu pendidikan di Kabupaten Batang.

Di sisi lain, Disdikbud juga terus mendorong penerapan pembelajaran mendalam dengan mengintegrasikan numerasi dan literasi ke dalam pengalaman belajar sehari-hari.

“Numerasi dan literasi harus menjadi budaya belajar, bukan sekadar materi ujian. Anak-anak perlu dibiasakan menghadapi persoalan nyata sehingga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah dapat tumbuh secara alami,” pungkasnya. (yan)

 

Editor : Ida Nor Layla
#ujian nasional #tka #batang