Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

6 Tahun Jadi 'Lahan Mati' Akibat Rob, Pemkab Batang dan BRIN Kembangkan Padi Biosalin di Sicepit

Riyan Fadli • Rabu, 17 Juni 2026 | 19:16 WIB
MENANAM: Bupati Batang M. Faiz Kurniawan saat menyerahkan bibit padi pada petani dalam peresmian program budidaya padi biosalin.
MENANAM: Bupati Batang M. Faiz Kurniawan saat menyerahkan bibit padi pada petani dalam peresmian program budidaya padi biosalin.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Harapan baru akhirnya menyapa para petani pesisir di Kabupaten Batang.

Lahan puluhan hektare yang selama bertahun-tahun terbengkalai dan dianggap mati akibat terjangan rob, kini kembali dihidupkan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi meluncurkan program budidaya padi biosalin di hamparan lahan terdampak rob seluas 32 hektare yang berlokasi di Dukuh Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Selasa 16 Juni 2026.

Langkah ini menjadi angin segar bagi sektor pertanian kawasan pesisir. Menariknya, terobosan ini tak hanya berfokus pada varietas padi yang kebal air garam, tetapi juga mengintegrasikan sistem minapadi salin dengan budidaya ikan nila di perairan bersalinitas tinggi.

Tanaman padi ditanam di area rob dengan lumpur yang hitam pekat. Program strategis ini juga di-dukung penuh oleh kementerian terkait, PT Pertamina (Persero), hingga Pertamina Foundation.

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menyoroti bahwa di tengah pesatnya iklim industrialisasi di Kabupaten Batang, nasib masyarakat pesisir yang lahannya terendam rob tidak boleh diabaikan.

Ia mengibaratkan lahan menganggur tersebut bagai sebuah teka-teki yang akhirnya menemukan jalan keluar.

Terdapat lebih dari 300 hektare lahan di dua kelurahan yang selama enam tahun terakhir tidak dapat digarap akibat genangan air laut dan tingginya kadar garam di tanah.

"Selama ini ada lahan lebih dari 300 hektar yang seperti tersimpan di dalam kotak Pandora, karena belum ada solusi nyata bagi para petani. Hari ini saatnya kita mengembalikan harapan itu,” jelasnya.

Kehadiran varietas padi biosalin ini memang didesain memiliki ketahanan ekstra terhadap tingginya kadar garam dan genangan air pasang, menjadikannya senjata pamungkas untuk melawan intrusi air laut.

Faiz menegaskan, peluncuran ini adalah simbol kebangkitan kawasan pesisir Batang.

“Ini bukan akhir, tapi permulaan baru bagi Kabupaten Batang. Kita hadir bersama untuk membuktikan bahwa lahan yang dulu dianggap mati dapat kembali menjadi ladang kehidupan,” terangnya.

Ke depan, Pemkab Batang menargetkan pilot project seluas 32 hektare ini bisa berekspansi untuk menyelamatkan lebih dari 300 hektare lahan rob lainnya.

“Kami ingin para petani kembali memiliki harapan. Pemerintah pusat dan daerah punya komitmen untuk terus mendampingi, mulai dari penyediaan bibit hingga membuka akses pasar,” harapnya.

Di sisi lain, Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN RI, Yopi, menekankan bahwa ketahanan pangan merupakan agenda strategis yang butuh pendekatan inovatif berbasis sains. Terutama, di tengah ancaman nyata perubahan iklim dan alih fungsi lahan.

“Program Minapadi Salin bertema Green Manufacturing untuk Optimalisasi Lahan Salin Pesisir pada Kawasan Salinitas Tinggi menjadi contoh nyata penerapan hasil riset untuk menjawab tantangan di lapangan,” tuturnya.

Melalui sistem budidaya terpadu ini, lahan terbatas dikombinasikan untuk menghasilkan padi toleran salinitas, ikan nila salin, hingga rumput laut.

Yopi juga menegaskan bahwa hasil riset BRIN pantang hanya sekadar menjadi tumpukan dokumen di laboratorium, melainkan harus turun langsung menjadi solusi keekonomian warga.

Karena itu, BRIN mengapresiasi kolaborasi antara Pemkab Batang, Pertamina, akademisi, kelompok tani, hingga pemerintah pusat sebagai bentuk ideal hilirisasi inovasi berbasis riset.

"Kolaborasi ini menjadi model bagaimana hasil riset diterapkan langsung untuk meningkatkan produktivitas usaha tani, membuka peluang ekonomi baru, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar dia.

Dengan diresmikannya budidaya padi biosalin ini, pesisir Batang optimis menatap masa depan untuk kembali produktif, memperkuat lumbung ketahanan pangan daerah, serta menggerakkan roda ekonomi baru bagi para petani yang sempat terpuruk oleh rob. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#padi Bio Salin #rob #batang