Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Abrasi Telan Pantai Sigandu, Hanya Sisakan Puing-Puing Reruntuhan

Riyan Fadli • Jumat, 26 Juni 2026 | 13:06 WIB
ABRASI: Kondisi pantai Sigandu yang memprihatinkan karena ditelan abrasi 
ABRASI: Kondisi pantai Sigandu yang memprihatinkan karena ditelan abrasi 

METROPEKALONGAN.COM, Batang - Abrasi di pesisir utara Jawa sudah menenggelamkan Pantai Sigandu di Kabupaten Batang.

Fenomena alam yang terus menggerus daratan ini tidak hanya merusak sejumlah fasilitas pariwisata, tetapi juga telah menelan lebih dari 200 meter bibir pantai lahan milik Pemerintah Daerah (Pemda).

Kepala Bidang Destinasi & Usaha Pariwisata Disparpora Batang, Debby Sintya Rengganis, mengungkapkan bahwa dampak abrasi di Pantai Sigandu sudah masuk dalam kategori memprihatinkan. 

Dari total 6 hektare lahan yang dikelola Pemda di kawasan tersebut, sebagian besar kini telah raib akibat hantaman ombak.

"Di Kabupaten Batang, wisata yang terdampak parah adalah Pantai Sigandu. Kita (Pemda) memiliki kurang lebih 6 hektare lahan yang dikelola di sana, dan yang sudah terkena rob serta abrasi itu mencapai 2 hektare lebih," terang Debby.

Before: Kondisi pantai Sigandu pada tahun 2025 saat tulisan ikonik masih berdiri.
Before: Kondisi pantai Sigandu pada tahun 2025 saat tulisan ikonik masih berdiri.

Berdasarkan pantauan di lapangan, keindahan Pantai Sigandu kini menjadi tumpukan puing-puing akibat abrasi laut yang terus-menerus.

Garis pantai bukan lagi pasir halus, melainkan lanskap hancur yang didominasi oleh batu-batu besar, paving, puing beton, dan material bekas.

Permukaan tanah dipenuhi pecahan beton, batu koral, kayu gelondongan yang berserakan, sampah, dan barang-barang lusuh lainnya.

Beberapa struktur beton yang dulu gagah membentuk tulisan Pantai Sigandu, kini telah runtuh sejak setahun lalu dan sebagian tenggelam di air laut yang keruh dan berwarna cokelat.

Balok-balok ini memiliki cat berwarna-warni (merah, kuning, hijau), yang menunjukkan bahwa ini dulunya adalah bagian dari struktur ikonik pantai, sekarang hanya menjadi reruntuhan yang setengah tenggelam. 

Ombak menerjang mendekati pantai dengan buih putih, terus-menerus mengikis sisa-sisa daratan.

Erosi abrasi yang parah, menghancurkan infrastruktur dan objek wisata, dan meninggalkan tumpukan puing-puing yang menyedihkan di garis pantai.

Menyikapi kondisi abrasi yang kian parah, pihak Disparpora Batang mengambil langkah untuk fokus pada penanaman mangrove.

Beberapa titik terlihat sudah menjadi area mangrove dengan tanaman yang tumbuh tinggi.

"Insyaallah untuk tahun 2027 mendatang, fokus Pemkab Batang di pariwisata, semoga ada pembenahan ke arah Pantai Sigandu," terangnya.

Kondisi memilukan ini turut dirasakan oleh warga lokal. Casmuti, 63, salah seorang warga yang berdagang di area Pantai Sigandu sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Ia menjadi saksi hidup bagaimana laut perlahan merampas daratan.

Menurut Casmuti, sebelum tahun 2000-an, Pantai Sigandu masih sangat luas dan indah. Dataran pasir dulunya terbentang hingga ratusan meter ke arah utara dari bibir pantai saat ini.

Kawasan tersebut bahkan dulunya dipenuhi oleh hamparan perkebunan bunga melati milik para petani setempat sebelum akhirnya dikelola menjadi destinasi pariwisata.

"Pantai ini hilangnya sampai ratusan meter. Dulu di sana itu kembangan (kebun bunga) melati. Tahun 2000-an pantainya masih bagus, tapi mulai parah digerus rob sekitar tahun 2011. Sekarang, tahun 2020 ke atas, tanahnya sudah habis terkikis," terangnya dalam bahasa Jawa.

Ia menyaksikan bagaimana tulisan ikonik Pantai Sigandu satu persatu tumbang dalam beberapa hari.

"Ikon tulisan Pantai Sigandu saja sudah ambruk tahun lalu secara perlahan," tutur Casmuti dengan nada prihatin.

Menurutnya, sekarang Pantai Sigandu sudah tidak menarik lagi. Dulu saat belum separah ini, masih ada pemancing yang datang berkunjung dan membeli dagangannya.

Sekarang mereka tidak datang lagi karena sudah tidak ada tempat untuk memancing di sana. Pengunjung yang datang sekarang kebanyakan hanya orang yang tersesat.

Mereka awalnya ingin menuju area kawasan Sigandu yang berderet kafe-kafe, namun salah jalur ke arah Pantai Sigandu yang asli. "Yang ke sini yang kesasar," cetusnya.

Warga sangat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan pesisir Batang agar mereka tetap bisa mencari nafkah.

"Harapannya ya diselamatkan (pantainya), biar orang-orang pada bisa mencari nafkah," tandasnya. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#abrasi #pantai #sigandu #batang