METROPEKALONGAN.COM, Batang – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang mencoba nguri-uri budaya lokal dalam Festival Dolanan Anak Tingkat Kabupaten Batang Tahun 2026 di Pendopo Kantor Bupati Batang, Rabu (1/7/2026). Festival tersebut sukses menyedot antusiasme ratusan siswa sekolah dasar.
Di arena Pendopo Kabupaten, keriuhan dan canda tawa anak-anak pecah saat mereka mengikuti berbagai perlombaan tradisional. Terdapat empat jenis permainan yang diperlombakan secara beregu maupun individu, yakni Lomba Dakon, Sudamanda (engklek), Egrang, dan Gobak Sodor.
Selain perlombaan, festival ini juga memamerkan 10 jenis dolanan tradisional lainnya agar anak-anak semakin mengenal kekayaan budaya mereka. Beberapa permainan yang dieksibisikan antara lain Yoyo, Semprengan, Dam Das, Owal Awil, Bekelan, hingga Nekeran (kelereng).
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Disdikbud Kabupaten Batang, Nurlaili Endahwati, mengungkapkan bahwa festival ini lahir dari keprihatinan atas fenomena degradasi budaya di kalangan generasi muda.
Lebih lanjut, Nurlaili memaparkan bahwa festival kali ini merupakan pilot project (proyek percontohan) dari implementasi program Ketan Budaya. Tercatat, kurang lebih ada 200 anak yang menjadi peserta. Mereka merupakan perwakilan dari 11 satuan pendidikan (SD) yang tersebar di wilayah Kecamatan Batang, Kecamatan Tulis, dan Kecamatan Kandeman. Mereka adu ketangkasan bermain permainan tradisional.
"Saat ini terjadi penurunan atau degradasi pemahaman serta minat anak-anak terhadap budaya lokal. Sehingga kita perlu mengintegrasikan warisan budaya ini ke dalam kurikulum pendidikan, yaitu sebagai pembelajaran ekstrakurikuler melalui dolanan (permainan) anak," jelas Nurlaili saat ditemui di sela-sela acara.
Baca Juga: Cegah Peredaran Narkoba, Walikota Pekalongan Aaf Ajak Relawan Bersatu Lindungi Pelajar
Tidak sekadar bermain dan bersenang-senang, Nurlaili menegaskan ada nilai edukasi yang sangat kuat di balik setiap permainan tradisional tersebut. "Manfaat utama dari kegiatan ini adalah memberikan pendidikan karakter pada anak, bagaimana mereka bisa lebih mencintai warisan budaya bangsanya," ungkapnya.
Di samping itu, dolanan anak dinilai sangat efektif untuk melatih kecerdasan emosional dan sosial peserta didik. "Di sini anak dilatih untuk bergotong royong, bekerja sama dengan temannya, belajar bersaing secara sehat dalam perlombaan, serta bagaimana mereka bersosialisasi secara langsung tanpa terhalang layar gawai," imbuh Nurlaili.
Ke depan, Disdikbud Batang menargetkan kurikulum ekstrakurikuler dolanan anak ini tidak hanya berhenti di 11 sekolah percontohan saja. Harapannya, program ini bisa segera diimplementasikan secara menyeluruh di semua satuan pendidikan yang ada di Kabupaten Batang.
Bupati Batang M Faiz Kurniawan menilai, permainan tradisional memiliki dampak positif yang jauh lebih komprehensif dibandingkan sekadar bermain gawai. Permainan lawas ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan sebuah paket olahraga lengkap yang melatih ketangkasan fisik, strategi, dan motorik anak secara bersamaan.
"Olahraga ini sebenarnya dikemas dalam permainan. Ada olahraga pikir, fisik, dan otak. Jadi, permainan-permainan tradisional ini dampak positifnya sangat banyak," terangnya.
Baca Juga: Pemkab Pekalongan Akui Anggaran Pemeliharaan Jalan-Jembatan Jauh dari Ideal
Bupati mencontohkan beberapa permainan yang patut dilestarikan, seperti gobak sodor, dakon, hingga engklek. Menurutnya, permainan seperti gobak sodor menuntut banyak pergerakan fisik karena anak-anak harus berlari menghindar, namun tetap dalam suasana komunal yang menyenangkan.
Menariknya, orang nomor satu di Kabupaten Batang ini memiliki kenangan kocak yang tak terlupakan dengan dolanan tradisional di masa kecilnya.
"Masih ingat saya. Waktu main gerobak sodor, saya ketangkap, celana saya ketarik dan akhirnya melorot. Itu waktu kelas 2 SD kalau tidak salah. Melorot dan kebetulan tidak pakai celana dalam lagi," ungkapnya sembari tertawa mengenang kejadian tersebut. (yan/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto