METROPEKALONGAN.COM. Batang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang terus menggalakkan upaya untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai (gadget). Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan menghidupkan kembali permainan tradisional melalui Festival Dolanan Anak tingkat Kabupaten Batang yang digelar di halaman Pendopo Kabupaten Batang.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, yang meninjau langsung pelaksanaan festival tersebut, terlihat antusias menyaksikan ratusan siswa sekolah dasar (SD) unjuk kebolehan dalam berbagai permainan tradisional, seperti gobak sodor hingga suda manda (engklek). Menurut Bupati Faiz, dolanan anak bukan sekadar sarana hiburan, melainkan media pembentukan karakter yang memadukan kecerdasan, olahraga, dan kebersamaan.
“Permainan-permainan ini sebenarnya olahraga yang dikemas dalam bentuk permainan. Ada olahraga fisik, olahraga pikir, dan olahraga otak. Dampak positifnya sangat banyak. Permainan seperti gobak sodor melatih kelincahan, kecepatan bergerak, kerja sama tim, hingga kemampuan menyusun strategi. Sementara permainan suda manda atau yang lebih dikenal sebagai engklek di sejumlah daerah juga mampu melatih keseimbangan tubuh serta koordinasi gerak anak,” jelasnya, Rabu (1/7/202)
Menyaksikan keseruan para siswa, memori Bupati Faiz pun ikut mundur ke masa kecilnya saat masih duduk di bangku SD. Ia mengenang sebuah insiden lucu saat bermain gobak sodor.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Adu Tangkas Dolanan Anak di Pendopo Kabupaten Batang
“Waktu main gobak sodor saya pernah tertangkap, celana saya sampai ketarik dan melorot. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa permainan tradisional pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan anak-anak Indonesia sebelum berkembangnya permainan digital. Karena itu, Pemkab Batang berkomitmen menghidupkan kembali dolanan anak melalui kegiatan pendidikan di sekolah,” terangnya.
Demi membentengi anak-anak dari efek negatif gawai, Bupati Faiz mewacanakan agar dolanan anak ini dimasukkan secara resmi ke dalam program sekolah.“Kita berharap, permainan tradisional ini nantinya menjadi ekstrakurikuler di setiap sekolah, supaya anak-anak mengenal permainan yang melatih fisik, melatih otak, sekaligus meminimalisasi ketergantungan terhadap gadget,” harapnya.
Terkait potensi menjadikannya sebagai kompetisi rutin di kancah yang lebih tinggi, Faiz membuka peluang tersebut lebar-lebar sebagai bentuk pelestarian budaya. “Kalau sekarang belum ada kompetisi sampai tingkat provinsi atau nasional. Tapi nanti insyaallah kita pikirkan supaya bisa dibuat juga. Kompetisi permainan tradisional dapat menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyalurkan bakat di bidang permainan rakyat yang mulai jarang dimainkan,” tegasnya.
Baca Juga: Ditres PPA dan PPO Polda Jateng, Ungkap Sejumlah Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Sementara itu, antusiasme tak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari peserta lomba. Rifki, salah satu perwakilan siswa dari SD Kauman 7 Batang, mengaku antusias meski baru pertama kali memainkan gobak sodor secara kompetitif.
“Senang sekali bisa bermain sambil bertanding. Kami latihan sekitar seminggu sebelum lomba. Gobak sodor bukan sekadar permainan biasa karena membutuhkan kerja sama seluruh anggota tim agar mampu melewati penjagaan lawan. Permainan ini mengajarkan kerja sama tim, kelincahan, dan strategi supaya bisa melewati lawan,” ujar dia.
Melalui penyelenggaraan kompetisi ini, Pemkab Batang berharap permainan tradisional bisa kembali eksis dan menjadi sarana pembentukan generasi masa depan yang sehat, sportif, dan mencintai budaya bangsanya sendiri. (yan/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto