Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Atasi Kuli Sawah Langka, Petani Beralih Gunakan Drone Pertanian, Semprot 1 Hektare dalam 30 Menit

Riyan Fadli • Senin, 6 Juli 2026 | 11:15 WIB
TEKNOLOGI: Drone saat diterbangkan untuk menyemprot area persawahan.
TEKNOLOGI: Drone saat diterbangkan untuk menyemprot area persawahan.

METROPEKALONGAN.COM, Batang - Petani asal Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang memutuskan beralih menyewa jasa drone untuk penyemprotan obat dan pupuk cair. Langkah tersebut dilakukan menyusul semakin langkanya tenaga kerja atau kuli sawah. Menyewa jasa drone juga demi menghindari dampak buruk pestisida bagi kesehatan jangka panjang.

"Alasannya satu, efisiensi waktu, juga tenaga. Kan terusan yang utama masalah kesehatan, Mas. Residu obat itu kan bagi tenaga itu kan sekali dua kali mungkin dia ndak terasa, tapi setelah 2-3 tahun kemudian kan residunya termasuk ada paru-paru, ada kanker kulit, dan lain sebagainya,” ungkap Mudadi, Petani asal Kalipucang Wetan

Selain faktor kesehatan, hitung-hitungan bisnis dari penggunaan drone ini ternyata sangat rasional. Untuk menggarap lahannya yang seluas 1,3 hektare di Kalipucang, petani tersebut menyewa jasa drone dengan sistem terima beres.

“Kalau di sini kan saya rental. Jasa ya, 1 hektare itu Rp600.000. Itu sekalian obat,” jelasnya. 

Baca Juga: Warga Kota Pekalongan Bisa Bertemu Dokter Spesialis Tanpa Ribet Rujukan

Meski ia mengakui biaya drone sedikit lebih mahal dibandingkan manual (selisih sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000), efisiensi waktunya sangat jomplang. Jika menggunakan tenaga kuli manual, penyemprotan lahan 1,3 hektare membutuhkan waktu satu hari penuh.

“Kalau tenaga kerja kan tetap 1 hari. Kalau ini (drone) paling ndak nyampe 2 jam,” imbuhnya. 

Lebih canggihnya lagi, penggunaan drone memungkinkan petani menentukan jam penyemprotan yang paling presisi secara agronomi.

Baca Juga: Mayat di Karangdadap Diduga Korban Pembunuhan, Ada Luka Sayat di Leher

“Kalau pagi sampai jam 10.00 itu kan stomata daun membuka, Mas. Kebutuhan tanaman juga tinggi. Jadi, efektif untuk obatnya sama tanamannya masuk lah,” bebernya. 

Penyedia jasa mekanisasi pertanian dari Maxxi, Turina Adiprayogo, mengatakan bahwa pemanfaatan drone di area persawahan tidak hanya sekadar gaya-gayaan, melainkan solusi nyata yang menawarkan efisiensi waktu dan biaya secara signifikan.

“Untuk efisiensi waktu sangat efisien, hampir lebih cepat dua kali lipatnya. Untuk luasan 1 hektare, dibutuhkan waktu hanya sekitar 30 menit kurang lebih,” ungkap Turina.

Dari segi finansial, penggunaan drone diklaim mampu memangkas biaya operasional petani, terutama jika diaplikasikan pada lahan yang luas. Maxxi bahkan menawarkan program kemitraan dengan potongan harga khusus. 

Untuk tarifnya, Turina merinci bahwa petani memiliki fleksibilitas dalam memilih layanan.

Teknologi drone yang digunakan adalah merek XAG, yang dirancang khusus untuk kebutuhan agrikultur. Drone tipe ini dibekali tangki berkapasitas 30 liter. Untuk menyemprot lahan seluas 1 hektare, biasanya hanya dibutuhkan dua kali terbang (dua tangki) atau total 60 liter cairan.

Baca Juga: Aniaya Perempuan Hingga Luka Berat, Aiptu "N" Anggota Polres Tegal Kota Dipatsus

Menariknya, pengoperasian drone ini sangat efektif karena sistem daya yang dapat di-rolling atau diganti secara bergantian.

“Satu baterai itu kisaran waktu terbangnya kurang lebih 15 menit. Ngecasnya juga sekitar 15 menit. Jadi kalau misal luasan 5 hektare pun, bawa 2 baterai sudah cukup. Terbang 15 menit, (baterai lain) dicas 15 menit juga, jadi habis landing, baterai satu sudah full,” jelas Turina.  

Meski adopsi mekanisasi drone di wilayah Pemalang, Pekalongan, dan Batang belum semasif daerah lain, trennya diprediksi akan terus merangkak naik. Turina membandingkannya dengan Kabupaten Brebes, di mana hampir 90% petaninya sudah beralih menggunakan mekanisasi, mulai dari pengolahan lahan hingga panen. 

“Prediksinya 1-2 tahun lagi mungkin akan lebih masif (di Batang dan sekitarnya), karena memang dari tenaga kerja atau kuli sawah itu sudah semakin langka,” ujarnya.

Baca Juga: UMKM Center Pekalongan Jadi Surga Jajanan Tradisional, Kini Buka Tiga Hari Sepekan

Di wilayah Kabupaten Batang sendiri, drone Maxxi sudah mulai merambah ke beberapa area, salah satunya di Kecamatan Kandeman. Tidak hanya menyemprot hamparan sawah, drone ini juga pernah digunakan untuk menyemprot perkebunan pohon durian. 

Menurut Turina, drone pertanian ini sangat fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan permintaan klien. Layanannya bisa digunakan untuk segala jenis komoditas, mulai dari padi, tebu, jagung, bawang merah, hingga berbagai tanaman kacang-kacangan.(yan/dit)

 

 

 

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
#drone pertanian #petani kabupaten batang #teknologi drone #jasa sewa drone #Kabupaten Batang