Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Cerita Makam Mbah Dowo di Komplek Gereja Katolik Batang

Riyan Fadli • Kamis, 16 Juli 2026 | 11:19 WIB
TOLERANSI: Para peziarah saat berdoa di sekitar makam Mbah Dowo di area gereja.
TOLERANSI: Para peziarah saat berdoa di sekitar makam Mbah Dowo di area gereja.

 

METROPEKALONGAN.COM, Batang– Pemandangan menyejukkan penuh semangat toleransi muncul di Kabupaten Batang. Lantunan tahlil dan surat Yasin kerap menggema di sekeliling Makam Pangeran Arya Purbaya, atau yang lebih akrab disapa Mbah Dowo. Uniknya, tradisi keagamaan ini digelar di Gereja Katolik Santo Yusup.

Seperti yang dilakukan ratusan jemaah yang menggelar haul beberapa waktu lalu di area makam tersebut. Makam Mbah Dowo sendiri diketahui merupakan salah satu tokoh keturunan Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten. Keberadaannya di lingkungan gereja sukses menjadi magnet dan pesan toleransi beragama yang sangat nyata di tengah masyarakat.

Ketua RW 1 Proyonanggan Tengah, Rizal Fahmi, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran haul Pangeran Arya Purbaya tahun ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat unik dan sarat makna persatuan.

“Ini membuktikan ada toleransi antar umat beragama yang baik, karena bisa dilihat umat Islam dengan Katolik berdampingan secara nyata. Keduanya sama-sama melestarikan budaya, semoga kegiatan ini bisa berjalan tiap tahunnya, sehingga jadi teladan rakyat Indonesia dalam menjaga toleransi beragama,” ungkap Rizal.

Budayawan asal Batang, Supriyo Laksono, turut menyoroti pentingnya pelestarian tradisi haul ini. Ia berharap warga RT 3 RW 1 Proyonanggan Tengah memiliki kebanggaan tersendiri serta mampu meneladani semangat perjuangan sang waliyullah.

Terkait posisi makam Mbah Dowo yang berada tepat di sebelah tempat ibadah umat Katolik, Supriyo menegaskan tidak ada masalah, asalkan masyarakat tetap mengedepankan sikap saling menghormati.

Baca Juga: Puluhan Bapak Menangis di Acara Father Date Dinsos Kabupaten Pekalongan

“Secara fiqih tidak masalah, ziarah atau tahlil di makam yang bersebelahan dengan tempat ibadah agama lain. Apalagi Romo atau Pastornya, memberikan kesempatan bagi umat Islam berziarah dengan kelengkapan sarana prasarananya, ini wujud nyata toleransi antar umat beragama,” jelas Supriyo.

Haul Mbah Dowo ini memang rutin diadakan setiap bulan Suro atau Muharam. Agenda tahun ini merupakan yang ketiga kalinya digelar. Pemilihan hari pelaksanaannya pun memiliki perhitungan tradisi tersendiri. 

"Biasanya bertepatan dengan Malam Jumat Kliwon," terangnya lebih lanjut.

Sebagai informasi, Pangeran Arya Purbaya hijrah ke Kadipaten Batang akibat perebutan kekuasaan di Kesultanan Banten dengan sang kakak, Pangeran Haji. Demi menjaga kondusivitas dan menghindari konflik dengan Pangeran Haji yang saat itu didukung VOC, ia memilih mengasingkan diri di Batang hingga akhir hayatnya.

Toleransi ini tak lepas dari keterbukaan pihak gereja. Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Yusup, Romo Paskalis Tejo Wibowo, dengan tangan terbuka memfasilitasi umat Islam yang ingin berziarah atau menggelar haul tahunan di Makam Mbah Dowo.

“Ini sebuah suka cita bagi kami, karena dapat membantu umat Islam melaksanakan ibadahnya berdoa, menggelar tahlilan di Makam Mbah Dowo. Justru ini keunikan yang kami miliki dan tidak dimiliki gereja-gereja lain di Indonesia, yakni tepat di area gereja terdapat Makam Pangeran Arya Purbaya yang menjadi tempat berziarah bagi saudara kami muslim,” tuturnya.

Baca Juga: Meracik Harapan di Balik Secangkir Kopi, Penyandang Tuli dan ATS Temukan Jalan Baru Menuju Wirausaha

Pihak gereja berkomitmen membuka pintu seluas-luasnya bagi siapapun yang ingin berziarah ke makam ulama tersebut. Tak ayal, peziarah pun datang dari berbagai penjuru daerah.

“Yang sudah berziarah ke sini, ada dari Depok, Jakarta, Wonotunggal, Warungasem, Batang, pernah pula dari Trah Kesultanan Banten, maka silakan bagi yang ingin berziarah,” tandas Romo Paskalis.(yan/dit)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
makam mbah dowo Gereja Katolik Santo Yusup Sultan Ageng Tirtayasa Kesultanan Banten Kabupaten Batang