Mitos Warga Tulang Kuning dan Sejarah Pelarian Putri Raja di Balik Nyadran Alas Pandawa Batang

Riyan Fadli • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 18:54 WIB
RAWAT TRADISI: Suasana tradisi Nyadran Alas Pandawa di Desa Kreyo, Kecamatan Wonotunggal.
RAWAT TRADISI: Suasana tradisi Nyadran Alas Pandawa di Desa Kreyo, Kecamatan Wonotunggal.

 

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Sebuah mitos mistis dan sejarah pelarian kerajaan masih menyelimuti rimbunnya Alas Pandawa di Desa Kreyo, Kecamatan Wonotunggal.

Di balik rimbunnya hutan tersebut, tersimpan kisah tentara keraton gaib yang konon masih terus merekrut pasukan dari warga sekitar.

Kisah ini kembali mencuat di tengah pelaksanaan tradisi turun-temurun Nyadran Alas Pandawa, Kamis 23 Juli 2026.

Kepala Desa Kreyo, Suryoto, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut bermula dari tempat persembunyian seorang putri raja dan para pengawalnya yang lari dari kejaran tentara Belanda.

Sang putri semalaman bertapa hingga tentara Belanda pergi ke arah selatan dan menamai kawasan itu Alas Siji (Wonotunggal). Namun, sang putri akhirnya wafat di tempat tersebut.

"Sampai sekarang orang jahat kalau ke Alas Pandawa selalu apes. konon putri raja dulu disitu membawa banyak pengawal yaitu tentara kraton yang tidak berani kembali ke kraton karena gusti ayu putri meninggal disitu, para tentara itu katanya sampai muksa. dan menurut cerita sampai sekarang tentara tersebut masih berjaga, dan masih merekrut/menerima tentara baru. Katanya kalau ada warga yang bertulang kuning di desa tersebut biasanya meninggal sebelum menikah, karena dijadikan tantara,” jelasnya.

Baca Juga: Komisi II DPRD Batang Sidak Stadion Moh Sarengat: Siasati Cuaca Hujan, Pembangunan Joging Track Kejar Target Oktober

Terlepas dari mitos yang menyelimutinya, tradisi Nyadran Alas Pandawa kini menjadi wadah penting bagi masyarakat Desa Kreyo. Ritual ini bukan sekadar doa syukur atas hasil bumi, melainkan forum komunikasi santai warga untuk membahas persoalan desa dan menjaga keharmonisan.

“Melalui Nyadran Alas Pandawa, kami ingin mengajarkan pentingnya menjaga kebersamaan, menghormati warisan leluhur, serta melestarikan budaya lokal agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” katanya.

 

Melihat upaya warga Desa Kreyo merawat kearifan lokal ini, Kepala Disdikbud Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Soedibyo, menyebut tradisi sebagai modal kuat pembangunan daerah.

“Tradisi seperti Nyadran Alas Pandawa memiliki nilai sosial yang sangat tinggi. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini memperkuat semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan kebersamaan yang menjadi modal utama dalam pembangunan desa,” terangnya.

Pihaknya berharap agar generasi muda semakin aktif terlibat agar warisan budaya di Wonotunggal ini tidak terkikis zaman.

 “Melalui Nyadran Alas Pandawa, Desa Kreyo menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga menjadi perekat sosial yang memperkuat komunikasi, gotong royong, dan keharmonisan masyarakat. Nilai-nilai tersebut diharapkan terus menjadi fondasi dalam menjaga persatuan serta mendukung pembangunan Kabupaten Batang yang berbudaya dan berdaya saing,” pungkasnya. (yan/dit)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
kreyo Wonotunggal nyadran batang