METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di tengah ketatnya kompetisi olahraga, godaan suap sering kali membayangi. Pesan menohok ini ditegaskan oleh Wakil Bupati (Wabup) Batang, Suyono, saat menggembleng mental puluhan calon wasit dalam Latihan Perwasitan Renang Kategori C/Madya di Desa Pasekaran, Kecamatan Batang.
Suyono mengingatkan bahwa tantangan terberat seorang wasit bukanlah sekadar menghafal regulasi perlombaan, melainkan melawan godaan materi yang bisa merusak sportivitas olahraga.
“Maka datanglah orang yang menawarkan uang Rp10 juta, bahkan Rp15 juta. Ketika itu diterima, maka akan meruntuhkan integritas anda, yang seharusnya menjadi wasit yang profesional,” terangnya.
Kegiatan itu diikuti 34 peserta. Menurutnya, menjadi wasit bukan hanya soal profesi, melainkan jalan pengabdian dan ibadah. Ia meminta para calon wasit menjadikan kejujuran sebagai panglima tertinggi saat memimpin pertandingan.
“Jadilah wasit yang berintegritas, wasit yang mengikuti kata hatinya dengan kejujuran. Karena segala sesuatu dipertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat,” ujar dia.
Lebih jauh, Wabup menekankan bahwa rekam jejak yang bersih dan tingkat profesionalisme yang tinggi akan berbanding lurus dengan 'nilai jual' seorang wasit. “Keterbukaan era digital dan media sosial saat ini membuka peluang lebar bagi para tenaga profesional untuk berkiprah hingga ke tingkat nasional.
Baca Juga: Dinkes Pekalongan Sweeping Balita yang Terlewat Imunisasi
Mungkin kalau Anda nanti bekerja secara profesional, apalagi sekarang media sosial sudah biasa, bisa diundang ke mana-mana. Ke Surabaya, pesawat sudah disiapkan, tiketnya, hotelnya sudah. Tapi kalau belum profesional, ya bagaimana cara menjualnya,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia meminta para peserta untuk fokus membangun idealisme karier sejak dini. “Dari sekarang Anda semua harus fokus pada ruangnya, fokus pada idealisnya, fokus pada tujuannya. Awal pertama kita niatkan bekerja, kalau bisa niatkan ibadah agar memberikan manfaat,” tegasnya.
Ketua KONI Batang, Teguh Supriyatno, yang turut hadir memberikan dukungan penuh. Ia menilai lahirnya atlet berprestasi sangat bergantung pada keadilan dan ketegasan wasit di arena.
“Suatu pertandingan bisa sukses, atlet bisa berprestasi, tidak hanya tergantung pada atlet itu sendiri dan pelatih. Kita juga membutuhkan wasit sebagai perangkat pertandingan yang jujur, berintegritas, dan memahami aturan-aturan pertandingan yang ada,” ujar dia.
Teguh menambahkan, saat ini ketersediaan wasit olahraga di Kabupaten Batang cukup memadai. Sebagai bentuk keseriusan peningkatan SDM, pelatihan wasit renang berlisensi tingkat B (Nasional) juga akan segera diselenggarakan pada akhir Agustus mendatang.
Pelatihan tingkat Jawa Tengah yang berlangsung ini diikuti oleh peserta berusia 19 hingga 45 tahun dari wilayah Jateng dan DIY. Ketua Harian PRSI/Akuatik Batang sekaligus Ketua Panitia, Tisna Zuhri Madina, menjelaskan bahwa olahraga renang memiliki detail teknis yang kompleks dengan sekitar 18 pos tugas.
“Saat ini Kabupaten Batang telah memiliki sekitar 60 wasit dan juri renang, serta tiga wasit berlisensi tingkat nasional,” tuturnya.
Sebagai langkah konkret regenerasi, Ketua Akuatik Batang, Andang Tri Kusnaedy, memastikan para lulusan yang telah teruji integritasnya ini akan langsung diterjunkan sebagai pengadil di lapangan pada kompetisi bergengsi daerah.
“Setelah lisensi C, Insyaallah SDM yang ini bisa digunakan untuk wasit juri pada Bupati Cup November 2026. Kita akan mengakomodir, disisipi dengan yang sudah senior-senior supaya ilmunya bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.(yan/dit)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan