METROPEKALONGAN.COM, Batang – Penderitaan nelayan Kabupaten Batang akibat dangkalnya muara sungai segera dicarikan jalan keluar. Merespons keluhan tersebut, Pemkab Batang siap menggelontorkan anggaran sekitar Rp 5 miliar pada APBD Perubahan 2026 untuk pengadaan kapal keruk baru.
Langkah taktis ini menjadi solusi krusial untuk mengatasi sedimentasi parah yang selama ini melumpuhkan aktivitas nelayan, baik saat hendak berlabuh, bertambat, maupun bertolak ke laut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Batang, Budhi Santosa, menegaskan bahwa keluhan nelayan menjadi atensi serius pemerintah. Kondisi endapan lumpur dan pasir di muara saat ini sudah sangat memprihatinkan.
“Permasalahan yang sangat klasik adalah muara sungai yang pengendapannya sudah dianggap parah,” kata Budhi.
Akibat pendangkalan tersebut, mobilitas dan perputaran ekonomi nelayan menjadi tidak optimal. Merespons hal itu, Bupati Batang mendorong pengadaan armada baru yang ditargetkan sudah bisa beroperasi sebelum datangnya cuaca buruk atau musim baratan di akhir tahun.
“Harapannya mendekati Desember sudah ready. Kita usahakan secepatnya terealisasi,” ujarnya.
Baca Juga: Muara Sambong Kritis Akibat Pendangkalan, DPRD Batang Dorong Pembelian Kapal Keruk Baru
Tak hanya mengandalkan armada anyar, Pemkab Batang juga menempuh strategi ganda dengan memperbaiki kapal keruk lama hasil pengadaan tahun 2013 yang kini telah berusia 13 tahun. “Yang satu pengadaan baru dan perbaikan yang lama,” kata Budhi.
Nantinya, kedua armada ini akan berbagi tugas secara efektif. Kapal keruk yang lama akan dimaksimalkan untuk menangani pekerjaan di sepanjang alur sungai. "Sedangkan kapal baru diprioritaskan untuk penanganan sedimentasi di kawasan muara," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Penguatan Daya Saing DKP Batang, Ibnu Abihatim, merinci bahwa pagu anggaran fantastis tersebut dialokasikan untuk dua instrumen utama. “Sekitar Rp5 miliar untuk dua komponen tersebut. Ekskavator sama pontonnya,” ujarnya.
Ibnu menjelaskan, realisasi pengadaan ini dikebut agar rampung pada November 2026. Tantangan terbesarnya ada pada perakitan ponton yang diprediksi memakan waktu satu hingga dua bulan, berbeda dengan ekskavator yang lebih cepat tersedia. Nantinya, daya jelajah kapal baru ini tidak hanya terpusat di satu titik. Armada ini diproyeksikan mampu bermanuver melayani perawatan muara di kawasan pesisir lain, seperti Roban, Celong, dan Siklayu.
“Harapannya ke depan muara-muara sungai yang ada di Batang itu kita bisa melakukan perawatan,” kata Ibnu.
Ke depan, pengerukan muara tidak lagi bersifat menunggu endapan menumpuk. Pada 2026, anggaran pemeliharaan alur telah disiapkan untuk 75 hari kerja yang dibagi secara proporsional dalam empat triwulan. Porsi pekerjaan akan dimaksimalkan pada triwulan pertama dan keempat untuk mengantisipasi dinamika cuaca.
“Supaya kalau ada gelontoran sediment yang masuk, kita bisa langsung melakukan penanganan,” kata Ibnu.(yan/dit)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan