METROPEKALONGAN.COM, Batang – PCNU Kabupaten Batang bersiap merombak tata kelola tanah wakaf agar lebih produktif dan bernilai ekonomi tinggi. Melalui kolaborasi dengan IPB University dalam program Dosen Pulang Kampung (DOSPULKAM) 2026 dan PT Nestlé Indonesia, PCNU Batang akan menyulap tanah wakaf seluas 5,67 hektare di Desa Selopajang Timur, Kecamatan Blado, menjadi ekosistem agribisnis terpadu.
Langkah strategis ini diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar pada Selasa 4 Agustus 2026. Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Batang, KH. Ahmad Munir Malik menjelaskan, lahan seluas 5,6 hektare itu merupakan wakaf dari PT Puspita Niki yang proses legalitasnya sedang dirampungkan. Ia menyebut, selama ini lahan tersebut telah digarap oleh petani, namun hasilnya belum maksimal akibat ketiadaan perencanaan yang matang.
"Bersama tim ahli dari IPB University, tanah wakaf NU di Selopajang ini kita harapkan menjadi pusat ekosistem agribisnis. Warga masyarakat yang kita berdayakan nantinya bisa mengelola sektor pertanian, perkebunan, bahkan peternakan," ungkapnya.
Munir membeberkan bahwa kawasan ini juga diproyeksikan menjadi sentra peternakan sapi perah. Kebutuhan pasokan susu industri untuk Nestlé dinilai masih sangat besar, sementara kapasitas peternak lokal di Batang saat ini belum mampu memenuhinya.
Baca Juga: Bus Trans Jateng Dipastikan Masuk Batang 2028
Posisi Warga sebagai Subjek Utama
Dalam rancangan pengelolaannya, PCNU Batang memastikan warga setempat tidak hanya ditempatkan sebagai pekerja kasar, melainkan sebagai subjek pengelola. Model pembagian hasil akan menggunakan akad syariah guna mendongkrak kesejahteraan warga yang selama ini menjadi penggarap.
Sebagai langkah konkret, tim dosen IPB langsung turun ke lapangan memberikan pelatihan intensif selama dua hari (Selasa-Rabu) kepada warga.
"Mayoritas warga Nahdliyin adalah petani yang mengelola lahan secara tradisional. Kalau dihitung secara bisnis, sering kali tidak untung, bahkan buntung. Melalui keahlian IPB, kita bantu warga agar cara bertaninya bertransformasi menjadi lebih terarah, produktif, dan menghasilkan," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Pengembangan Kerja Sama PSP3 IPB, Caswiyono Rusydie Cakrawangsa, merinci bahwa pendampingan DOSPULKAM kali ini membawa tiga agenda utama. Mulai dari penyusunan site plan secara partisipatif, penguatan tata kelola ZISWAF bagi PCNU, hingga pelatihan sistem terpadu bagi warga.
“Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan model pengelolaan wakaf produktif yang berkelanjutan dan menjadi contoh bagi daerah lain,” terang Caswiyono.
Ia menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan target industrialisasi pedesaan di kawasan Batang Selatan seperti Blado dan Reban.
Menanggapi kolaborasi besar ini, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Batang, KH. Muhammad Luthfi, sangat mengapresiasi dan berharap program tersebut mampu melahirkan solusi strategis. "Semoga ini menjadi lompatan yang membawa kemaslahatan nyata bagi seluruh warga," pungkasnya.(yan/dit)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan