METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah di wilayah eks-Keresidenan Pekalongan guna menekan laju inflasi.
Langkah strategis tersebut difokuskan pada penguatan pasokan pangan dari sektor hulu dengan menyesuaikan karakteristik serta keunggulan tiap daerah.
Kepala KPw BI Tegal, Bimala, menegaskan bahwa pemetaan potensi lokal menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan pasokan komoditas pangan pemicu inflasi.
"Di sisi hulu, kita melakukan penguatan pasokan. Kita melihat karakteristik di masing-masing daerah, apa yang perlu kita perkuat," ujar Bimala, dalam media briefing di Kota Pekalongan, Kamis 13 Agustus 2026.
Salah satu terobosan signifikan dilakukan di Kota Pekalongan. Memanfaatkan lahan bekas rob yang mengering pascapembangunan tanggul laut, BI Tegal mengintervensi lahan produktif yang sempat mati suri selama 10 tahun.
Melalui program yang dimulai pada akhir 2024, kawasan tersebut kini berhasil dipanen menggunakan varietas padi Biosalin.
Baca Juga: UMKM Pekalongan Go Digital, Pasar Kini di Genggaman
Selain Kota Pekalongan, pemetaan komoditas pangan di wilayah lainnya meliputi Kabupaten Brebes, penguatan rantai pasok dan kapasitas kelompok tani komoditas bawang merah
Kabupaten Batang fokus pendampingan pada peningkatan produksi komoditas cabai, Kabupaten Pemalang penguatan sarana produksi beras di Kecamatan Belik menggunakan teknologi paddy dryer (mesin pengering) bertenaga sampah.
Kabupaten Pekalongan komoditas beras dan optimalisasi sektor kopi. Produk kopi daerah ini bahkan sukses mencatatkan nilai ekspor hingga Rp1,9 miliar ke Yunani dan Prancis pada ajang Java Coffee Festival.
Sinergi Pengendalian Harga dan Digitalisasi
Penguatan ketahanan pangan di tingkat produsen tersebut diimbangi dengan efisiensi transaksi dan perluasan digitalisasi melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
Langkah kolaboratif dari hulu ke hilir ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, menekan laju inflasi daerah, sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah Jawa Tengah bagian barat.
Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Jawa Tengah masih mencatatkan tren positif, namun kecepatannya mulai melambat.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, M Noor Nugroho, mengungkapkan bahwa masyarakat kini cenderung berhati-hati dan mulai mengubah strategi belanja harian mereka.
“Pertumbuhan konsumsi berada di kisaran 4,31 persen, turun dari periode sebelumnya yang mencapai 5,08 persen,” ujar Noor.
Baca Juga: Bank Jateng Ingin Jadi “Bank Sejuta Umat”, Salurkan Rp 279 Miliar ke 1.100 Debitur UMKM dan Rumah
Perlambatan ini paling dirasakan oleh kelompok masyarakat berpenghasilan tetap. Di tengah pendapatan yang tidak mengalami kenaikan signifikan, lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sejumlah komoditas pangan pokok makin mempersempit ruang belanja harian. Kondisi tersebut memaksa masyarakat untuk merombak ulang prioritas pengeluaran.
Asesmen BI menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat berdasarkan jenis kebutuhannya.
Kebutuhan Primer, menunjukkan penjualan makanan dan minuman masih relatif kuat dan konsisten mencatatkan pertumbuhan sepanjang triwulan I dan II.
Barang sekunder & tersier, menunjukkan bahwa pembelian pakaian, barang tahan lama, serta peralatan rumah tangga mengalami penurunan drastis. Beberapa kategori bahkan mencatatkan kontraksi pada triwulan II.
Perubahan paling menonjol terlihat pada frekuensi belanja konsumen. Berdasarkan asesmen BI terhadap jaringan peritel, kebiasaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga telah bergeser.
Masyarakat yang tadinya rutin membeli persediaan stok untuk satu bulan penuh, kini beralih memilih belanja untuk kebutuhan satu minggu atau bahkan beberapa hari saja. Strategi ini dilakukan demi menjaga kestabilan arus kas rumah tangga di tengah tekanan ekonomi.
“Ini menjadi indikasi bahwa masyarakat cenderung menahan belanja. Mereka merasa lebih aman memegang uang tunai (cash) dan membelanjakannya secukupnya sesuai kebutuhan terdekat,” kata Noor.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan