METROPEKALONGAN.COM, Batang — Di balik dedikasinya yang tak kenal lelah dalam menggerakkan minat baca masyarakat, Bunda Literasi Kabupaten Batang Faelasufa Faiz Kurniawan ternyata menyimpan rekam jejak masa kecil yang penuh inspirasi.
Jauh sebelum mengemban amanah sebagai tokoh penggerak literasi daerah, kecintaannya pada dunia aksara rupanya sudah mengakar kuat lewat hobi menulis sejak usia dini.
Menulis bukan sekadar merangkai kata di atas kertas. Lebih dari itu, keterampilan literasi ini terbukti mampu membuka pintu peluang, mengasah daya kritis, hingga mendatangkan pundi-pundi rupiah sejak usia remaja.
Pesan inspiratif inilah yang dibagikan langsung oleh Bunda Literasi Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan, di hadapan ratusan pelajar SMP dan SMA sederajat. Bertempat di Aula Kantor Batang pada Kamis 3 September 2026, ia hadir dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Lomba Wartawan Cilik yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kabupaten Batang bekerja sama dengan Bank Indonesia Tegal dan Jawa Pos Metro Pekalongan.
Di hadapan para peserta yang antusias, Faelasufa membuka sesi dengan membagikan secuil kisah masa kecilnya yang sarat akan kecintaan pada dunia tulis-menulis.
"Dulu pas SD, cita-cita saya tulis astronot dan jurnalis. Sejak kelas 3 SD, saya sudah suka menulis dan bikin cerpen pertama judulnya 'Hadiah untuk Ibu'," kenang Faelasufa di hadapan para pelajar.
Ketekunan itu membawanya pada pencapaian luar biasa di usia muda. Saat duduk di bangku kelas 6 SD hingga kelas 1 SMP, tulisan isengnya dikirimkan ke media massa cetak dan berhasil dimuat. Tak tanggung-tanggung, ia sudah mengantongi honor kepenulisan sebesar Rp50.000 pada masa itu.
Baca Juga: Cetak Wartawan Cilik, Bunda Literasi Batang Ajak Pelajar Angkat Ekonomi Batang
Memasuki masa SMA, produktivitasnya semakin melonjak. Faelasufa rutin mengirimkan cerita bersambung (cerber) yang terbit setiap minggu di koran dengan honor mencapai Rp500.000 per judul, serta Rp150.000 untuk artikel reguler.
Tak berhenti di koran, jiwa kreatifnya terus terasah hingga ia berhasil merilis novel remaja (teenlit) diterbitkan oleh penerbit mayor Gramedia saat masih berseragam putih abu-abu, yang memberikannya royalti pertamanya sebesar Rp10 juta.
Melalui Lomba Wartawan Cilik bertema "Melihat Ekonomi Batang dari Dekat", Faelasufa mendorong para pelajar untuk berani melangkah keluar zona nyaman. Ia berpesan agar para peserta tidak perlu mencari kisah-kisah besar yang rumit, melainkan mengangkat cerita yang personal dan dekat dengan kehidupan sehari-hari di sekitar mereka.
"Jangan mencari cerita yang paling besar. Carilah cerita yang paling personal dan dekat dengan kalian. Kalau ada saudaranya nelayan, atau tetangga yang menjadi pedagang di pasar, gali tantangan mereka. Datangi pasar, bicaralah dengan petani dan pedagang," pesan Faelasufa penuh semangat.
Menurutnya, terjun langsung ke lapangan untuk melakukan reportase dan wawancara akan melatih sejumlah soft skill krusial yang tidak diajarkan di dalam kelas, di antaranya berpikir kritis (Critical Thinking), kebiasaan mempertanyakan fenomena kecil di sekitar guna melatih nalar analitis.
Keberanian & jaringan (Networking), memaksa diri untuk berkomunikasi secara langsung dan percaya diri dengan narasumber yang beragam.
Baca Juga: Beda dengan Swasta, Bupati Batang M Faiz Kurniawan Pertanyakan Alasan ASN Harus Disumpah Jabatan
Struktur berpikir runtut, keterbiasaan merangkai informasi secara logis dan sistematis, baik saat menulis maupun saat menyampaikan pendapat.
Di tengah masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Faelasufa juga mengingatkan para generasi muda agar tidak menjadi pribadi yang malas berpikir.
Kendati aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude sangat membantu, ia menekankan pentingnya porsi riset mandiri dan menulis secara organik.
"Di era AI, menulis sendiri, cari info sendiri ke pasar, ke UMKM sendiri, itu hal yang penting. Kalau dikit-dikit tanya AI, anak-anak muda ini jadi malas mikir. Kita harus belajar berpikir agar tidak mudah dibodohi orang lain," tegasnya. (yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan