METROPEKALONGAN.COM, Batang – Transformasi Kabupaten Batang menjadi kawasan industri diprediksi akan membawa banyak perubahan, tak terkecuali pada pergeseran nilai sosial dan kemasyarakatan.
Merespons tantangan tersebut, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mewanti-wanti para Duta Pancasila Kabupaten Batang agar menjadi benteng pertahanan dalam memperkuat nilai kegotongroyongan sekaligus mencegah maraknya kasus bullying (perundungan).
Pesan mendalam ini ditekankan Faiz saat menghadiri prosesi Pelantikan Duta Pancasila Kabupaten Batang di Aula Kantor Bupati Batang, Selasa 8 September 2026 siang. “Perkembangan industri, teknologi, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat membawa dampak positif.
Namun, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama potensi semakin berkurangnya interaksi sosial di tengah masyarakat,” jelas Faiz.
Orang nomor satu di Pemkab Batang ini membeberkan fenomena pergeseran demografi secara nasional. Jika pada tahun 2000 jumlah masyarakat desa mencapai 57 persen dan kota 43 persen, komposisi tersebut kini telah bergeser drastis.
Baca Juga: Beda dengan Swasta, Bupati Batang M Faiz Kurniawan Pertanyakan Alasan ASN Harus Disumpah Jabatan
Pada tahun 2020 lalu, masyarakat kota mulai mendominasi hingga 53 persen. Bahkan, diprediksi pada 2045 mendatang, sekitar 72 persen penduduk akan menetap di wilayah perkotaan.
“Hal ini menunjukkan bahwa ada pertumbuhan ekonomi, peningkatan ekonomi yang semakin membaik, kemajuan teknologi, masyarakat yang semakin sejahtera. Tetapi di satu sisi lain kita memiliki ancaman serius terhadap potensi disintegrasi bangsa, kita memiliki ancaman serius terhadap kehidupan yang asosial,” bebernya.
Menurut Faiz, corak kehidupan perkotaan dan iklim kawasan industri rawan membuat hubungan sosial antarwarga menjadi lebih renggang. Kondisi itu sangat kontras dengan kearifan lokal di pedesaan yang komunal.
“Di desa, masyarakat desa tidak ada gerbang, tidak ada pagar. Tetapi di kota, pagarnya tinggi-tinggi. Karena itu, keberadaan Duta Pancasila diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak untuk menjaga semangat gotong royong dan membangun dukungan sosial di tengah masyarakat,” terangnya.
Tantangan ini yang nantinya akan dihadapi oleh generasi muda. Para Duta Pancasila dituntut mampu menanamkan nilai-nilai kegotongroyongan dan membangun support system sosial yang kokoh. Terlebih di lingkungan sekolah, Faiz menyoroti pentingnya pencegahan praktik perundungan yang dapat merusak mental pelajar.
“Nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam hubungan antar pelajar di lingkungan sekolah. Maka Duta Pancasila ikut mencegah praktik bullying dan tindakan mendiskreditkan siswa di lingkungan sekolah,” tegasnya.
Perbedaan status sosial, latar belakang ekonomi, hingga daerah asal, kata Faiz, sama sekali tidak boleh menjadi dalih untuk mendiskriminasi sesama pelajar. Ia juga mengingatkan agar para siswa tidak menilai kawan hanya dari kendaraan yang dibawa ke sekolah atau kondisi kekayaan keluarganya.
Baca Juga: Bupati Batang M. Faiz Targetkan UHC Pulih Oktober 2026
“Semua anak, semua siswa, semua siswi punya hak yang sama. Mereka semuanya sama, tidak boleh dilihat dari warna kulitnya, tidak boleh dilihat dari asal daerahnya, tidak boleh dilihat dari background orang tuanya,” tegas Faiz.
Sekolah sejatinya harus menjadi ruang aman yang inklusif untuk bertumbuh, saling membantu, dan membangun solidaritas. Hubungan baik inilah yang nantinya akan menjadi jejaring kuat dan modal penting bagi masa depan anak bangsa.
“Ketika menjadi dewasa, ini adalah jejaring yang harus dijaga. Kegotongroyongan kita, jejaring kita sebagai anak bangsa, jejaring kita sebagai warga negara Republik Indonesia, inilah yang akan terus membantu kita satu dengan yang lain,” pungkasnya. (yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan