METROPEKALONGAN.COM, Batang – Kejaksaan Negeri (Kejari) Batang gencar memberikan edukasi hukum kepada kalangan pelajar. Melalui program Jaksa Masuk Sekolah (JMS), Korps Adhyaksa tak hanya mengenalkan tugas Aparat Penegak Hukum (APH), tapi juga membentengi anak muda dari bahaya narkotika dan dampak negatif media sosial.
Kegiatan JMS ini menyasar dua lokasi, yakni SMPN 1 Tulis dan SMAN 1 Bawang. Khusus di SMAN 1 Bawang, program ini dikemas inovatif. Kejari menggandeng instansi pelayanan publik, mulai dari layanan Adminduk Disdukcapil, perpustakaan keliling, hingga layanan perbankan BNI.
Kepala Kejari (Kajari) Batang, Ratih Andrawina Suminar menyebut, JMS menjadi sarana untuk mendekatkan APH dengan pelajar dan guru. Pengenalan tidak hanya soal kejaksaan, tapi juga institusi lain seperti Polresta hingga Lapas Kelas II B Batang.
"Tujuan utamanya lebih pada pengenalan tugas fungsi APH. Anak-anak SMA ini perlu mengenal lebih dekat apa tugas masing-masing kami," kata Ratih.
Kajari menjelaskan, kolaborasi dengan berbagai instansi ini bertujuan memberi layanan langsung di sekolah. Termasuk perekaman e-KTP dan pembukaan rekening bagi pelajar. Kegiatan juga dirangkai dengan aksi tanam pohon, kampanye safety riding, serta Forum Integrated Criminal Justice System (ICJS) untuk memperkuat sinergi penegakan hukum di Batang.
"Kami bagi tim. Ada yang jaksa masuk sekolah terkait penerangan hukum, fungsi tugas masing-masing APH, kemudian di luar juga Adminduk jalan, layanan perbankan jalan, perpustakaan keliling jalan, ada tanam pohon juga," ujarnya.
Terkait materi hukum, Ratih menegaskan pentingnya literasi digital dan bahaya narkoba. Usia pelajar dinilai sangat rentan terhadap pengaruh buruk lingkungan sehingga butuh pendampingan ekstra sebelum berujung pada perkara pidana.
Kita lebih pada edukasi tentang bahaya medsos, narkotika, itu masuk juga di program kami. Karena sekarang masa-masa mereka ini kan masa-masa rentan," katanya.
Edukasi ini memantik antusiasme pelajar. Banyak siswa bertanya seputar hukum, profesi APH, hingga info pendidikan kedinasan. Hal ini memotivasi mereka untuk menentukan langkah pasca-lulus SMA. "Anak-anak sudah ada gambaran, what's next setelah lepas dari SMA ini? Ada pendidikan kedinasan juga dari Lapas, kemudian pengenalan kami juga sebagai APH," ujarnya.(yan)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan