METROPEKALONGAN.COM, Batang – Geliat literasi di Kabupaten Batang terus menunjukkan tren positif. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme pelajar dalam ajang Lomba Wartawan Cilik Kabupaten Batang Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Disperpuska Batang setempat.
Ajang ini sekaligus menjadi momentum bagi Bunda Literasi Kabupaten Batang untuk menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem literasi yang kuat, kritis, dan berdaya saing di kalangan generasi muda.
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis, sejumlah talenta muda berhasil unjuk gigi menampilkan karya jurnalistik terbaik mereka. Ajang wartawan cilik ini diikuti 50 pelajar tingkat SLTA dan 56 pelajar tingkat SLTP.
Pengumuman dilakukan dalam acara Festival Literasi di halaman Disperpuska Batang, Senin 14 September 2026. Pada tingkat SMP sederajat, Dita Priscillia dari SMP N 3 Warungasem sukses menyabet Juara 1. Disusul oleh Azzam Suryandanu dari SMP N 1 Warungasem di posisi kedua, dan Akhadus Shomad dari SMP N 2 Bawang sebagai Juara 3.
"Jadi dari awal tahun, pertengahan tahun kita memiliki banyak sekali lomba. Ada lomba membaca, ada lomba read aloud bertutur, ada lomba menulis, terakhir juga ada lomba wartawan cilik yang disupport juga oleh Jawa Pos Metro Pekalongan," terang Bunda Literasi Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan.
Sementara itu, persaingan ketat yang menuntut daya analisis tinggi juga terjadi di tingkat SMA sederajat. Gelar Juara 1 berhasil diraih oleh Ardela Sri Rejeki dari SMK N 1 Batang.
Posisi Juara 2 ditempati oleh Chumayro Kinaryosih Banuwarlan dari SMK Peternakan Lembah Hijau, dan Juara 3 diraih oleh Ahmad Zida Khoiruniam dari MA Sunan Kalijaga Bawang.
Semangat kritis para pemenang Lomba Wartawan Cilik ini sangat sejalan dengan visi Bunda Literasi Kabupaten Batang. Dalam sambutannya baru-baru ini, ia menekankan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan mengeja, melainkan alat utama untuk membedah informasi.
"Semoga mereka bisa menjadi ujung tombak literasi Indonesia, Kabupaten Batang ke depan. Saya sendiri dulu juga tumbuh di lingkungan wartawan. Jadi saya dulu sering ikut lomba menulis, kemudian tulisan saya di-pos di koran-koran begitu kan. Dan saya juga terinspirasi dengan wartawan-wartawan, jurnalis-jurnalis ini, jadi suka baca berita di koran-koran. Harapannya anak-anak kita juga jadi anak-anak yang melek literasi, begitu," ucapnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan literasi di akar rumput, Bunda Literasi memberikan apresiasi khusus dan mendonasikan 50 buku berkualitas kepada Taman Baca Sekuda di Kecamatan Bawang.
Menariknya, buku-buku yang disumbangkan, berdasarkan permintaan langsung dari komunitas didominasi oleh literatur pemikiran kritis, seperti karya-karya Tan Malaka hingga Das Kapital karya Karl Marx.
“Tidak apa-apa, saya pun baca buku-buku itu dulu dan itu penting. Karena dari literasi ini, yang paling penting adalah mengajarkan kalian critical thinking (kemampuan berpikir kritis),” tegas Bunda Literasi.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Batang tidak hanya berhenti pada donasi. Bunda Literasi membeberkan rencana strategis untuk memisahkan fasilitas baca anak dari kantor kedinasan agar lebih ramah dan nyaman.
“Kita akan mengusahakan untuk membuatkan perpustakaan yang layak untuk anak-anak di Kabupaten Batang. Sekarang perpustakaan kita masih nyatu dengan kantor Disperpuska,” ungkapnya.
Melihat tingginya aktivitas komunitas seperti Taman Baca Sekuda yang kerap menggelar forum diskusi buku di Alun-Alun Batang, Bunda Literasi juga mengajak pihak swasta untuk turun tangan.
Ia mengimbau agar dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan dapat diarahkan untuk menyumbang buku ke perpustakaan desa atau taman baca yang aktif.
Di akhir sambutannya, ia menitipkan pesan mendalam bagi ruang lingkup keluarga yang menjadi madrasah pertama bagi anak. “Harapan saya lebih ke ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir di sini untuk mencontohkan ke anak-cucunya bahwa membaca itu keren. Membaca itu penting, dan membaca itu bisa merubah nasib hidup seseorang,” pungkasnya.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan