Dorong Regenerasi dan Ekonomi Pembatik Rifaiyah Batang

Riyan Fadli • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 14:50 WIB
BATIK: Pembatik Rifaiyah saat berbincang bersama peserta kegiatan Batik Bhinneka Tunggal Ika.
BATIK: Pembatik Rifaiyah saat berbincang bersama peserta kegiatan Batik Bhinneka Tunggal Ika.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Pemkab Batang bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Institut Pluralisme Indonesia dan Ford Foundation memperkuat komitmen dalam menjaga keberlanjutan tradisi batik tulis lokal.

Melalui program kolaboratif bertajuk Batik Bhinneka Tunggal Ika, langkah ini tak hanya berfokus pada pelestarian warisan budaya, tetapi juga mendorong regenerasi pembatik muda serta peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Ketua Tim Kerja Sama LSM/BSA Pusat Fasilitasi Kerja Sama Kemendagri, Ahmad Rifanto menjelaskan, kunjungan lapangan ini dilakukan dalam rangka Monitoring dan Evaluasi (Monev) pengakhiran Master Study Plan (MSP) kerja sama antara Kemendagri dan Ford Foundation yang berjalan hingga 4 April 2027 mendatang.

"Agenda monitoring ini berlangsung selama sepekan untuk melihat langsung efektivitas program pemberdayaan pembatik, khususnya kelompok pembatik muda dan perajin Batik Rifa'iyah di Kabupaten Batang," ujar Ahmad Rifanto, Selasa 15 September 2026.

Ia mengapresiasi keautentikan karya para pembatik lokal yang dihasilkan dari rumah-rumah sederhana. Menurutnya, karya batik tulis Batang memiliki kualitas sangat tinggi, baik dari segi pewarnaan maupun kerapian motif, bahkan sebagian produk telah berhasil menembus pasar internasional seperti Singapura.

"Meskipun hasil karyanya luar biasa, kami mencatat masih ada kendala di sektor pemasaran dan media promosi. Karena itu, koordinasi bersama Pemda, Kesbangpol, hingga Bappeda terus diperkuat agar program ini berkelanjutan," tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bagian Perekonomian Setda Batang sekaligus Sekretaris Dekranasda Kabupaten Batang, Abu Hurairah menegaskan, para perajin batik tidak hanya berperan mencari nafkah, tetapi juga memegang misi penting melestarikan budaya lokal.

Untuk meningkatkan daya saing perajin, Pemkab Batang dan Dekranasda telah memfasilitasi berbagai kegiatan pelatihan inovasi. Salah satunya menghadirkan Maestro Batik Nasional, Dudung Alisyahbana, di Hotel Sendangsari Batang.

"Melalui pelatihan tersebut, para perajin diajari berinovasi agar karya batik tulis mereka semakin diminati pasar sehingga berimplikasi langsung pada peningkatan pendapatan keluarga," jelas Abu Hurairah. 

 

Selain pelatihan, support alat, modal, dan kesempatan mengikuti pameran tingkat nasional terus diberikan. Indonesia, Alexander Irwan menyampaikan bahwa keterlibatan Ford Foundation bertujuan mendorong keadilan sosial, toleransi, dan mencegah polarisasi melalui pendekatan budaya.

"Program Batik Bhinneka Tunggal Ika ini adalah bentuk dorongan kita terhadap nilai-nilai keberagaman. Di Batang, kolaborasi ini berhasil menggerakkan multi-stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, swasta, hingga kelompok masyarakat," paparnya.

Alex menekankan pentingnya proses regenerasi mengingat banyaknya pembatik senior yang sudah berusia lanjut, bahkan ada yang mencapai usia 87 tahun. Transfer ilmu dan nilai-nilai keahlian membatik kepada generasi muda menjadi kunci utama agar tradisi batik tulis Batang tidak punah.

Sementara itu, perajin Batik Rifaiyah Batang, Miftakhutin menyambut positif hadirnya kolaborasi lintas daerah ini. Menurutnya, program ini menjadi ruang belajar sekaligus ajang mengenalkan kekayaan motif daerah.

"Kami para perajin tua dituntut untuk menurunkan ilmu kepada anak-anak muda. Melalui program ini, batik dikolaborasikan dan dimodifikasi dengan motif dari daerah lain seperti Jambi. Ini kesempatan bagus untuk saling mengenalkan kekayaan batik Indonesia," ungkapnya.(yan)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
batik Batik Rifaiyah batang