METROPEKALOANGAN.COM, Batang – Cuaca terik menyengat di area perkebunan jagung yang sudah dipanen di Desa Brayo, Kecamatan Wonotunggal. Letaknya yang persis di dekat jalan raya membuat suasana mendadak tegang ketika kobaran api tiba-tiba muncul dan membakar tumpukan pohon jagung kering.
Angin kemarau membuat api sangat cepat membesar dan meluas. Pusaran angin juga ikut muncul secara tiba-tiba di tengah kobaran api.
Namun, kepanikan tersebut dengan cepat diatasi. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemadam Kebakaran (Damkar), hingga puluhan relawan dari berbagai unsur langsung berhamburan mendatangi titik api.
Menariknya, anak-anak sekolah yang tergabung dalam PMR Wira dan Pramuka Peduli ikut serta memadamkan api dengan alat seadanya. Mereka bahu-membahu memukul mundur lidah api menggunakan tongkat, pelepah daun kelapa, hingga ranting pohon.
Suara sirine armada pemadam kebakaran pun menggema memecah suasana, membuat penasaran para warga dan pengendara yang melintas di jalan raya Brayo tersebut. Petugas Damkar langsung turun tangan menyemprotkan air untuk memastikan titik api benar-benar padam.
Baca Juga: Viral Dugaan Pelecehan dan Pungli, 2 Guru di Cilacap Dinonaktifkan
Rangkaian aksi dramatis tersebut rupanya bukanlah kebakaran sungguhan, melainkan bagian dari Simulasi Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang digelar oleh gabungan unsur di Kabupaten Batang.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setda Batang, Darsono, menjelaskan bahwa simulasi ini sangat krusial mengingat tingginya risiko Karhutla di musim kemarau.
"Kondisi saat ini sedang cuaca kemarau, sehingga diupayakan secepat mungkin kita tangani segala potensi kebakaran. Kita sudah membuat skema mitigasi bencana bersama BPBD, Damkar yang siaga 24 jam, Perhutani, dan berbagai elemen masyarakat," jelasnya, Kamis 17 September 2026.
Simulasi ini melibatkan unsur gabungan yang sangat solid, mulai dari KSR Subah, MDMC Muhammadiyah, LPBI NU, Banser, Baranusa Rifa'iyah, Pramuka Peduli, hingga PMR Wira tingkat SLTA. P
Pemilihan lokasi di bekas panen jagung juga dinilai efektif agar para relawan bisa mempraktikkan langsung cara menangani api dari sisa material pertanian yang rawan terbakar.
Berdasarkan data terbaru periode Januari hingga 14 September 2026, telah terjadi 30 kejadian Karhutla di wilayah Kabupaten Batang. Rinciannya meliputi 28 kebakaran lahan, 1 kebakaran hutan, dan 1 kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Total luasan lahan yang hangus terbakar mencapai 7,5 hektar yang tersebar di 12 kecamatan. Bahkan, insiden Karhutla tahun ini telah menelan 1 korban jiwa dengan total estimasi kerugian materiil mencapai Rp20 juta.
Beberapa titik lokasi yang kerap mengalami kebakaran berulang antara lain Desa Lebo, Desa Depok, Desa Wringin Gintung, Desa Cepoko Kuning, Desa Gringsing, dan wilayah Kecamatan Kandeman.
Selain Karhutla, PMI Batang juga menyoroti peningkatan kasus kebakaran rumah yang mayoritas dipicu oleh korsleting listrik dan kelalaian meninggalkan kompor menyala.
Sebagai bentuk kepedulian, PMI bersama BPBD, Dinas Sosial, dan Bagian Kesra terus bersinergi menyalurkan bantuan bagi para korban kebakaran.
Melalui simulasi dan kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Batang semakin tanggap dan waspada, sehingga angka kejadian Karhutla dan kerugian yang ditimbulkannya dapat ditekan seminimal mungkin.
"Kami selalu turun bersama-sama. Dari Bagian Kesra dan PMI memberikan bantuan berupa uang tunai, sementara BPBD dan Dinas Sosial menyalurkan sembako. Besaran bantuan PMI bervariasi mulai dari Rp5 juta hingga Rp10 juta tergantung tingkat kerusakan, bahkan kami memiliki program bantuan satu paket Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp17,5 juta," terang Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang, Achmad Taufiq.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan