METROPEKALONGAN.COM, Batang – Pemkab Batang bersama PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGN), Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan BRIN terus mengeksplorasi solusi penanganan lahan terdegradasi akibat abrasi dan banjir rob di wilayah pesisir.
Salah satu langkah terobosan yang terbukti berhasil adalah budidaya padi varietas Biosalin yang mampu bertahan di tingkat salinitas tinggi dengan produktivitas mencapai 6 ton per hektare.
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq menyebut, pemanfaatan lahan krisis pesisir menjadi fokus utama pemerintah.
"Di dalam salinitas yang cukup tinggi ini, ternyata ada padi yang masih mampu berproduksi hingga 6 ton per hektare. Tampakan fisiologis bulirnya pun padat. Ini menjadi solusi nyata penanganan areal yang terdegradasi akibat abrasi air laut," ungkapnya, di area persawahan Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang, Jumat 18 September 2026.
Ia menambahkan, hasil panen padi Biosalin ini diharapkan tidak langsung masuk ke penggilingan padi (RMU), melainkan direkognisi oleh Kementerian Pertanian untuk dijadikan benih unggul yang dikembangbiakkan di sepanjang kawasan pantai utara.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menyampaikan bahwa keberhasilan varietas Biosalin menjadi jawaban atas keresahan para petani pesisir yang lahannya terdampak rob selama bertahun-tahun.
Saat ini, percontohan tanam padi Biosalin telah mencapai 25 hektare dan ditargetkan terus meluas.
"Alhamdulillah keresahan petani selama 6 sampai 7 tahun terakhir sudah terjawab. Dari 25 hektare saat ini, kita berharap ke depan bisa terus meningkat hingga 100 sampai 200 hektare dengan dukungan Kemenko Pangan, BRIN, Kementan, dan seluruh stakeholder," jelas M. Faiz Kurniawan.
Baca Juga: 6 Tahun Jadi 'Lahan Mati' Akibat Rob, Pemkab Batang dan BRIN Kembangkan Padi Biosalin di Sicepit
Faiz menegaskan, Pemkab Batang berkomitmen menjaga keseimbangan tata ruang antara kawasan industri dan ketahanan pangan daerah. Pihaknya mengadopsi konsep tata ruang terpadu layaknya Kota Zhujiang di Hubei, Tiongkok, di mana kawasan industri, pendidikan, perikanan, dan pertanian dapat tumbuh berdampingan tanpa saling mengganggu.
"Kita harus siapkan ekosistemnya secara utuh dari hulu ke hilir, mulai dari tempat pembibitan, penyediaan areal tanam, hingga penanganan pascapanennya," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang menjelaskan, berdasarkan data pemetaan terbaru tahun 2026, total lahan yang terdampak rob dan abrasi di Kabupaten Batang mencapai 540 hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 300 hingga 350 hektare di antaranya dinilai masih memiliki potensi produktif untuk ditanami padi Biosalin maupun komoditas tahan salinitas lainnya, sedangkan sisanya telah tergenang rob secara permanen.
"Tentu ini membutuhkan penanganan lintas sektoral. Kendala utama saat ini ada pada sarana dan prasarana seperti pembenahan pintu-pintu air dan saluran irigasi sekunder maupun primer. Kami terus berkomunikasi dengan KKP dan Kementerian PU untuk menyinergikan infrastruktur pendukungnya," terangnya.
Keberhasilan penanganan lahan rob ini kian memperkokoh posisi Kabupaten Batang dalam menjaga ketahanan pangan.
Baca Juga: Setelah 17 Tahun Terendam Rob, Sawah Clumprit Pekalongan Kembali Ditanami Padi Biosalin
Berdasarkan penilaian Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kabupaten Batang menempati peringkat ketiga nasional dalam Indeks Ketahanan Pangan (IKP) dengan skor mencapai 83 koma sekian.
Skor tinggi tersebut didasarkan pada tiga variabel utama, yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan, dan pemanfaatan. Dengan capaian ini, Batang masuk dalam kategori tingkat 6 atau predikat "Sangat Tahan", menjadikannya satu dari sedikit kabupaten/kota di Indonesia yang berhasil meraih predikat ketahanan pangan tertinggi.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan