METROPEKALONGAN.COM, Batang – Pengelolaan sampah di Kabupaten Batang memasuki babak baru. Guna mengatasi krisis kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Randukuning, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang menghadirkan inovasi terbarunya, Sipilah Mobile - Landfill Mining.
Inovasi ini menjadi unit mobile landfill mining pertama yang dikembangkan dan dioperasikan di Indonesia.
Teknologi canggih ini dirancang khusus untuk memulihkan material dari timbunan sampah lama sekaligus mengembalikan kapasitas ruang landfill. Langkah ini menjadi solusi konkret atas tantangan klasik berbagai daerah, volume sampah lama yang terus menggunung, sementara ketersediaan lahan TPA makin terbatas dan pembukaan lahan baru memakan biaya serta waktu yang tidak sedikit.
Kepala DLH Batang Rusmanto menjelaskan bahwa pengadaan unit ini difokuskan langsung untuk menangani gunungan sampah di lokasi. Pengadaan Sipilah ini untuk meminimalkan volume sampah yang ada di TPA Randukuning.
Sipilah akan digunakan untuk menambang atau mining timbulan sampah yang saat ini sudah ada di TPA Randukuning. Cara kerja unit ini berbeda signifikan dengan mesin olah sampah konvensional.
“Berbeda dengan mesin olah sampah biasa yang menangani sampah segar, Sipilah Mobile memproses material yang sudah tertimbun lama dan mengalami degradasi. Sampah lama digali kembali, lalu dipisahkan antara fraksi organik yang sudah menjadi tanah/kompos dengan sampah anorganik seperti plastik,” katanya.
Baca Juga: Balgis Minta Santri Jadi Contoh Peduli Sampah
Rusmanto menambahkan bahwa hasil pemisahan material tersebut memiliki fungsi vital lain untuk operasional TPA. Timbulan sampah yang sudah lama, akan kita pilah melalui Sipilah.
"Jadi nanti agar kita bisa pisahkan kompos yang sudah jadi atau tanah yang ada di dalam sampah itu kita pisahkan, kemudian nanti yang masih berbentuk sampah nanti mekin terpisah. Nah, tanahnya ini nanti sekaligus bisa kita manfaatkan untuk melakukan sanitary landfill sampah yang ada di TPA Randukuning," tambahnya.
Sebagai unit bergerak (mobile), alat ini menawarkan fleksibilitas tinggi untuk berpindah antar-zona timbunan sesuai kebutuhan di lapangan. Mobil ini memiliki kapasitas pengolahan 5 hingga 7 ton per jam dengan harga mencapai Rp 300 juta.
Langkah pionir dari Kabupaten Batang ini diharapkan mampu mengubah konstelasi penanganan sampah terpadu di tingkat daerah.
“Pengoperasian Sipilah Mobile tidak hanya sekadar menambah alutsista pengolahan sampah, melainkan menjadi strategi jangka panjang untuk memperpanjang usia layanan TPA. Melalui langkah pionir dari Kabupaten Batang ini, sampah yang tertimbun puluhan tahun tidak lagi dibiarkan menjadi beban, melainkan dipulihkan kembali nilainya,” ujar dia.(yan)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan