METROPEKALONGAN.COM, Batang – Anggota DPR RI Dapil X Jawa Tengah sekaligus mantan Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo, memberikan sentilan keras terkait insiden keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan warga Kabupaten Batang.
Pria yang akrab disapa Pak Yoyok ini mewanti-wanti agar program nasional tersebut tidak diselewengkan menjadi ladang bisnis maupun ajang "main proyek" oleh oknum pejabat.
Di sela-sela peninjauannya di RSUD Kalisari Batang pada Kamis (24/(/2026) pagi, Yoyok mengaku kaget dan prihatin lantaran mayoritas korban yang terbaring sakit merupakan tetangganya sendiri. Ia pun sengaja menyempatkan diri datang menjenguk korban.
"Saya prihatin banget dan cukup kaget. Iku tangga-tangangku kabeh, Mas Bup," ujar Yoyok.
Baca Juga: 36 Gelar Dibawa Pulang, Kafilah Jateng Dapat Bonus hingga Hadiah Umrah dari Gubernur Ahmad Luthfi
Meski mendukung penuh niat baik Presiden dalam memberikan gizi gratis bagi anak-anak sekolah, Yoyok menyoroti tajam pergeseran orientasi dalam pelaksanaan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di tingkat bawah.
Menurutnya, masalah keracunan berulang terjadi akibat adanya orientasi keuntungan materi (margin) ketimbang kualitas gizi.
"Niat baik Presiden memberikan makan bergizi gratis ini bagus. Cuma dalam tataran pelaksanaan sampai ke bawah, kalau orientasinya bukan menjabarkan perintah Presiden tapi orientasi margin atau bisnis, mau sampai kapan kuat memikirkan ini?" tegasnya.
Yoyok juga menegaskan pentingnya independensi pengawas dan melarang keras adanya pejabat yang merangkap sebagai pemilik atau pengelola SPPG.
"Kalau pejabat yang seharusnya bertindak sebagai pengawas, penyidik, atau penghukum ikut terjun mproyek di situ, njuk siapa yang melakukan tugas pengawasan? Ya alhamdulillah saya tidak punya SPPG. Kalau saya punya, saya enggak bisa dong melakukan pengawasan," sentilnya.
Tak hanya isu konflik kepentingan, mantan Danramil ini juga menyoroti beban kerja SPPG yang dinilainya terlalu berlebihan dan rawan memicu kelalaian higienitas. Dari hasil pantauannya, terdapat satu SPPG di Batang yang dipaksa melayani hingga 2.600 porsi makanan dalam satu malam.
"Faktanya ini satu SPPG melayani 2.600 porsi loh. Dimasak dalam satu malam dan harus didistribusikan dalam waktu yang bersamaan dan secepat-cepatnya. Harusnya ada hitungan idealnya," ungkap Yoyok.
Menanggapi penanganan kejadian luar biasa ini, Yoyok mengapresiasi langkah cepat Bupati Batang M. Faiz Kurniawan beserta jajaran Dinas Kesehatan dan RSUD yang sigap menangani ratusan pasien.
Baca Juga: Korban Masih Terus Bertambah, Diduga Dari Menu MBG Telur Bolognese dan Mix Sayur
Namun, untuk tingkat pusat, ia mendesak Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Daryono, agar tidak sekadar memberikan sanksi penghentian sementara (hold) kepada SPPG bermasalah.
"Mas Daryono harus mulai memberikan punishment and reward yang jelas kepada seluruh SPPG di bawah BGN. Yang terbaik dikasih penghargaan, tapi kalau yang kurang atau lalai ya harus dikasih hukuman. Jangan cuma di-hold atau dihentikan sementara," pungkas Yoyok.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan