Keracunan MBG di Batang Tembus 411 Korban, 53 Persen Orang Tua, SPPG Bawang Minta Maaf 

Riyan Fadli • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:09 WIB
SIDAK: Bupati Batang bersama BGN saat sidak di SPPG Bawang.
SIDAK: Bupati Batang bersama BGN saat sidak di SPPG Bawang.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Kasus dugaan keracunan massal usai menyantap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang terus meluas. Hingga Kamis 24 September 2026 siang, jumlah korban terdampak dilaporkan telah menembus 411 orang, dengan 170 di antaranya harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan puskesmas.

Lebih dari separuh korban atau 53,53 persen merupakan orang dewasa, yang tidak seharusnya tidak mendapatkan MBG. Namun mereka ikut mencicipi makanan yang diperoleh oleh anaknya.

Total ada 220 orang tua yang menjadi korban keracunan. Satu diantaranya adalah relawan SPPG.

Menanggapi kejadian luar biasa ini, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bersama tim Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan sidak langsung ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang sebagai pengelola menu MBG tersebut.

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas musibah yang menimpa ratusan anak-anak dan warga setempat. Ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah keselamatan para korban dan memastikan penanganan medis berjalan maksimal.

"Kita dalam posisi tidak mencari siapa yang salah atau benar, dan bukan mencari skor politik dalam kondisi kedudukan ini. Prioritas kita ada tiga: memastikan penyebab pasti kejadian, memastikan seluruh korban ditangani dengan layak, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali," tegas Faiz usai sidak.

Dari hasil pemeriksaan rekaman CCTV dan kondisi fisik bangunan dapur SPPG, ditemukan sejumlah pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) yang fatal.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, BGN, Hadi Riajaya mengungkapkan bahwa pengolahan makanan dilakukan jauh lebih awal dari jam yang diperbolehkan dalam aturan BGN.

"Melalui pengecekan CCTV, kami melihat adanya pengolahan makanan yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB malam. Padahal dalam SOP, pengolahan makanan seharusnya baru boleh dilakukan setelah pukul 02.00 dini hari," ungkapnya.

Selain masalah jam masak, tim gabungan juga menemukan ketidaksesuaian fasilitas fisik dapur. Di antaranya sekat dinding bangunan yang tidak solid serta sistem pengelolaan limbah yang belum memenuhi standar sanitasi.

Guna meringankan beban masyarakat, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan memastikan seluruh biaya perawatan para korban di rumah sakit maupun puskesmas ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Batang.

Tak hanya itu, Pemkab Batang melalui Dinas Sosial (Dinsos) juga menyiapkan santunan bagi keluarga penunggu pasien yang terpaksa tidak bisa bekerja selama mendampingi anak-anak mereka di fasilitas kesehatan.

"Kami berikan santunan untuk penunggu pasien sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per hari per KK. Kita ingin semua korban tertangani dengan cepat dan keluarga yang tidak bisa bekerja mendapat pengganti," jelas Bupati Batang.

Atas temuan pelanggaran tersebut, BGN langsung mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara operasional dapur SPPG tersebut.

"SPPG ini sudah kita lakukan penutupan sementara selama 30 hari karena jumlah korban masuk dalam kategori suspek berat," ujar Hadi.

Pihaknya juga telah melaporkan hasil temuan ke BGN Pusat untuk dievaluasi lebih lanjut. Jika terbukti melanggar dan tidak layak dilanjutkan, dapur SPPG ini berpotensi ditutup secara permanen.

Saat ini, BGN juga memberlakukan moratorium pembentukan dapur SPPG baru dan fokus mengoptimalkan serta mengevaluasi dapur-dapur yang sudah beroperasi.

Bagi sekolah atau Posyandu yang merasa trauma dan menolak menerima MBG untuk sementara waktu, BGN menegaskan tidak akan memaksakan pendistribusian makanan.

Sebelumnya, Bupati Batang, juga meninjau kondisi para korban yang membeludak di RSUD Kalisari pada Kamis pagi. Dalam kunjungannya, Bupati Faiz memastikan seluruh fasilitas kesehatan di Batang dalam kondisi siaga penuh.

Membludaknya pasien membuat sebagian korban terpaksa dirawat di lorong rumah sakit akibat keterbatasan ruangan. Meski demikian, Bupati memastikan penanganan medis tetap berjalan optimal.

"Kita ngecek kesiapan fasilitas kesehatan. Memang ada keterbatasan kamar, tetapi alhamdulillah semuanya mendapatkan bed. Obat-obatan dalam kondisi yang cukup, termasuk di puskesmas-puskesmas," tegas Bupati Faiz.

Untuk mengantisipasi lonjakan pasien lebih lanjut, Bupati telah menginstruksikan agar seluruh tenaga medis disiagakan. Khusus hari ini, sistem pergantian jam kerja (shift) perawat ditiadakan, dan seluruh armada ambulans disiagakan penuh. Pasien saat ini tersebar di RSUD Kalisari, RSUD Limpung, dan beberapa Puskesmas.

"Usianya variatif, ada yang 10 bulan yang paling kecil, sampai dewasa dan bahkan usia senja. Keluhan mayoritas mereka adalah mual, muntah, diare, dan lemas," ungkap Bupati. 

Terkait beredarnya isu adanya korban jiwa dalam insiden ini, Faiz dengan tegas membantah. "Tidak ada. Tidak ada yang meninggal dunia," tegasnya.

Sementara itu, penyebab pasti keracunan masih dalam tahap investigasi. Banyak pihak menduga, keracunan terjadi akibat mereka mengkonsumsi telur bolognese. Namun demikian, pihak berwenang masih melakukan uji laboratorium untuk mengetahui secara pasti sumber racun. 

"Tadi pagi saya sudah telepon Pak Sudaryono dan menyampaikan laporan. Beliau berpesan tolong diaudit semaksimal mungkin, dan di semua SPPG dilakukan monitoring serta investigasi. Kalau direkomendasikan pemda untuk ditutup, dipastikan oleh Pak Kepala BGN untuk ditutup," pungkasnya.

Kondisi memprihatinkan dialami sejumlah keluarga yang harus menjalani perawatan bersama. Salah satu warga Desa Sokasari, Desi, 34, menceritakan bahwa dirinya beserta dua balitanya, Adam, 5, dan Neswa, 3, terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan.  

"Makannya Selasa siang, mulai enggak enak perut sore hari. Gejalanya sama semua, pusing, muntah, diare, sampai panas," tutur Desi.

Ia mengaku menyantap sisa telur dari porsi anaknya dan tidak mencurigai rasa makanan tersebut saat dikonsumsi. Ia baru menyadari adanya keracunan massal setelah Puskesmas dipadati warga dengan keluhan serupa serta adanya pengumuman dari pihak sekolah.  

Kisah serupa disampaikan Siti Fatimah, orang tua dari Roman Arfani, 5, siswa TK B Kuncup Mekar. Putranya mulai merasakan gejala mual dan muntah hebat pada Selasa malam usai menyantap makanan program MBG pada pagi harinya.  

"Awalnya ke Puskesmas dikira sakit biasa dan dikasih obat. Tapi setelah ada kabar di sekolah banyak yang keracunan, baru dirujuk ke Puskesmas Bawang lalu dibawa ke sini tadi malam," ungkapnya.

Sementara itu, Pengelola SPPG Bawang bersama Yayasan Bela Batang Sejahtera akhirnya buka suara terkait insiden dugaan keracunan massal yang menimpa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang.

Pihak pengelola menyampaikan permohonan maaf mendalam sekaligus berjanji menanggung penuh seluruh biaya pengobatan para korban.

Kepala SPPG Bawang, Agung Dindi Santoso, menegaskan bahwa operasional dapur saat ini telah dihentikan sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pihaknya bakal melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai pengolahan makanan.

"Kita akan evaluasi total atas kejadian ini, entah itu dari bahan bakunya, proses memasaknya, ataupun dari para relawan," ujar Agung.

Agung menyebutkan, dapur SPPG Bawang melayani sekitar 2.595 penerima manfaat. Terkait biaya perawatan para korban yang dilarikan ke puskesmas maupun rumah sakit, ia memastikan seluruh biaya menjadi tanggung jawab pengelola. "Untuk kompensasi, kami bertanggung jawab penuh untuk biaya pengobatan para korban," tegasnya.

Sementara itu, pengurus Yayasan Bela Batang Sejahtera, Tutut Wahyuningsih, menjelaskan bahwa menu makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan sebenarnya sudah dua kali disajikan dan sebelumnya tidak mengalami masalah.

Menu yang disajikan saat kejadian terdiri dari nasi putih, telur saus asam manis, tahu goreng, ca sayur (caisim), serta buah anggur.

"Menu tersebut sudah dua kali kami berikan dengan SOP yang sama. Kami sendiri tidak mengerti kenapa bisa terjadi seperti ini. Ini jujur di luar prediksi dan sama sekali tidak kami inginkan," ungkap Tutut.

Seluruh bahan yang digunakan diklaim dalam kondisi segar dan sesuai standar mutu. Dampak kejadian ini ternyata juga dirasakan oleh internal dapur SPPG Bawang. Seorang petugas kebersihan (office boy/OB) di SPPG Bawang turut dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi sisa makanan menu MBG tersebut.

"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh anak-anak penerima manfaat dan keluarga yang terdampak," imbuhnya.(yan)

 

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
bawang SPPG keracunan mbg batang