Anang Purbo, Si Dalang Cilik dari Kaliwareng, Belajar Mendalang sejak Kelas 3 SD

Riyan Fadli • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:38 WIB
DALANG CILIK: Tangan terampil Anang Purbo Carito saat mengendalikan wayang golek.
DALANG CILIK: Tangan terampil Anang Purbo Carito saat mengendalikan wayang golek.

METROPEKALONGAN.COM, Batang-  Suara gamelan terdengar dari kejauhan. Kampung saat itu terlihat sepi, hanya ada satu dua kendaraan melintas. Tak ada keramaian.

Jawa Pos Metro Pekalongan saat ini ada di Desa Kaliwareng, Warungasem, Batang. Terik matahari masih menyengat, waktu menunjukkan pukul 2 siang.

Suara tabuhan itu ternyata berasal dari sebuah rumah milik Caswono Hadi. Tak terlihat ada siapa-siapa di depan rumah itu. Namun, saat dilihat lebih dekat, pintu garasi di samping rumah sedikit terbuka. Terlihat seorang bocah memegang wayang golek di tangan kiri dan kanan. 

Tepat di tengah pintu itu. Suara gamelan semakin keras, wayang yang dibawanya saling bertubrukan, lalu ditancapkan ke batang pohon pisang yang terbaring di depannya. 

Anang Purbo Carito namanya, bocah kelas 4 SD berusia 10 tahun ini merupakan dalang cilik kebanggaan Kabupaten Batang. Ia baru belajar mendalang sejak setahun lalu.

Tangannya luwes menggenggam tongkat penyangga wayang golek. Menggerakkan tangan dan tubuh wayang dengan lincah. Tiap hari, Anang berlatih menghidupkan wayang dengan tangan di sebuah ruangan mirip garasi yang sudah disulap seperti area pertunjukan. Gamelan-gamelan pun tertata rapi di sudut-sudut ruangan. 

“Sudah suka sama wayang golek cepak dari kecil, waktu ayah ndalang pas adegan perang itu paling suka. Akhirnya milih pingin jadi dalang,” katanya.

Wayang golek cepak adalah seni pertunjukan boneka kayu tradisional yang berkembang di wilayah Cirebon dan daerah pesisir utara lainnya. Seni ini ternyata juga berkembang di wilayah Kabupaten Batang, salah satunya di Desa Kaliwareng. Saat latihan, Anang selalu didampingi oleh pemuda-pemuda di kampungnya sebagai penabuh gamelan.

Kesenian ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu media dakwah Islam yang digunakan sejak era Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Cirebon. Tapi di Batang, kesenian ini berkembang dengan mengadopsi lakon cerita-cerita kedaerahan.

 

Saat ini Anang sedang memainkan lakon Raden Joko Bahu. Mengisahkan perjuangan tokoh prajurit Mataram di bawah Sultan Agung untuk membendung sungai demi memudahkan proses irigasi pertanian sebelum menyerbu ke Batavia. Lakon ini mengadopsi cerita rakyat yang berkembang di Kabupaten Batang. 

“Latihannya tiap malam Minggu, sama bapak, Om Uut, Mamas, Mbah Wahyudin, Mbah Kaji Rohim,” ungkapnya menyebut orang-orang yang mengajarinya selama ini. 

Ia mewarisi darah seni mendalang dari sang ayah yang ternyata juga seorang dalang kondang, namanya sering dikenal sebagai Ki Caswono Hadi. Sebagai anak generasi alpha, Anang mulai suka wayang sejak ikut melekan atau begadang melihat ayahnya pentas sebagai dalang.

Adegan peperangan tak pernah dilewatkan, karena itu yang paling disukai. Hingga kini dia benar-benar menjadi dalang cilik yang mementaskan adegan peperangan yang selalu dilihat selama ini.

Berkat ketekunannya berlatih dan selalu iku sang ayah saat mendalang, kini bakat itu pun menitis dalam diri untuk membawa nama Kabupaten Batang di kancah provinsi dalam Festival Dalang Anak.

Meski kini rutinitasnya makin padat dengan berlatih menjadi dalang cilik, ia tak melupakan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Pihak sekolah pun memahami, jika menjadi seorang dalang tentu akan sering begadang.

Seperti saat melihat ayahnya pentas hingga pagi buta. Ia pun ijin tidak mengikuti pelajaran esok harinya. Begitu pula saat, Anang pentas sebagai seorang dalang.

“Teman-teman sama guru udah tahu kalau saya mau jadi dalang, mereka pada dukung,” tuturnya.

Kebetulan, pada waktu yang bersamaan, proses latihan kali ini dipantau langsung oleh Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Batang, Ki Tulus Wahyu Utomo atau akrab disapa Ki U'ut.

Ia merasa bangga proses regenerasi dalang cilik di Batang berjalan secara berkelanjutan. Khusus di seni wayang golek cepak memang lebih mengetengahkan lakon-lakon yang mengadopsi cerita kearifan lokal pesisir pantai utara, antara Cirebon hingga Batang.

“Kalau di Batang lakon yang sering dipentaskan Joko Bahu yang mengisahkan perjuangannya menjadi prajurit Mataram di bawah Sultan Agung untuk membendung sungai demi memudahkan proses irigasi pertanian sebelum menyerbu ke Batavia,” terangnya.

Sedangkan di Cirebon, identik dengan kisah Kesultanan Kacirebonan maupun peran para Wali Songo. Terkait regenerasi dalang cilik, khusus di Batang telah menelurkan 10 anak dari jenjang SD hingga SMP.

Sementara, Ki Caswono Hadi, ayah dari Anang Purbo Carito menyebut, bakat putranya itu menurun dari kakek neneknya yang seorang seniman. Untuk mengoptimalkan penampilan putranya, ia sengaja membeli seperangkat alat gamelan baru untuk menunjang keahlian sang anak.

“Dari kecil Anang itu mesti ikut kalau saya pentas, begitu sampai rumah langsung dipraktikkan gerakan wayang sama adegan perangnya,” ujar dia.(yan)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
Dalang Cilik wayang batang