METROPEKALONGAN.COM – Fakta mengejutkan di balik kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang, Kabupaten Batang, akhirnya terungkap.
Hasil inspeksi mendadak (sidak) Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan alur pengolahan makanan yang tidak sesuai, termasuk proses memasak lauk telur yang dicurigai menjadi penyebab keracunan.
Hingga Sabtu, 26 September 2026, tercatat ada 589 orang menjadi korban keracunan MBG, mulai dari pelajar hingga orang tuanya.
Sebanyak 127 orang masih menjalani rawat inap. Para korban dirawat di berbagai faskes. Mulai dari Puskesmas Bawang, Puskesmas Subah, Puskesmas Gringsing 1, Puskesmas Bandar 1, RSUD Limpung, dan RSUD Batang.
Imbas dari kelalaian fatal ini, Kepala Dapur SPPG Bawang resmi dinonaktifkan. Wakil Kepala BGN, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Trenggono, turun langsung memimpin sidak dan menegaskan bahwa sanksi tegas telah dijatuhkan sembari menunggu hasil investigasi menyeluruh.
“Itu salah informasi. Setiap ada kejadian, apakah itu keracunan dan lain-lain, secara otomatis kepala dapur dan operasional dapur langsung dihentikan,” tegas Trenggono menampik isu bahwa kepala dapur masih aktif, Sabtu 26 September 2026.
Walau sudah dicopot dari jabatannya, namun yang bersangkutan masih diperlukan untuk menyelesaikan sejumlah hal. Berkaitan dengan dapur yang sedang dihentikan operasionalnya.
“Secara resmi dia sudah dicopot dari dapur itu, namun ada hal-hal yang perlu diselesaikan di dapur. Artinya pembenahan-pembenahan dan sebagainya nanti akan ditangani,” imbuhnya.
Trenggono mendapati fasilitas dapur SPPG Bawang jauh dari kata ideal untuk melayani penerima manfaat dalam jumlah besar. Menempati bekas bangunan koperasi, dapur ini hanya dibekali satu meja pendingin dengan jumlah relawan yang sangat minim.
Kesalahan paling fatal ditemukan pada penanganan lauk telur yang proses jeda masaknya terlalu lama sehingga rentan memicu bakteri.
"Banyak alur mekanisme bahan ini yang tidak pas. Karena ini ternyata bangunan bekas koperasi yang dibuat dapur, mungkin banyak hal yang kurang sesuai,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti kelalaian tim ahli gizi setempat. “Ketidakpahaman ahli gizi, telur dimasaknya jam 08.30, terus jam 03.45 baru di-steamer, itu sudah salah,” beber Trenggono.
Kondisi tersebut membuat operasional dapur langsung dihentikan (suspend). Ancaman penutupan permanen pun menanti jika hasil uji laboratorium membuktikan kelalaian berat.
“Dapur tidak operasional, di-suspend. Apalagi sampai dampak seperti ini, mungkin suspend berat, ke arah suspend permanen nanti,” jelasnya.
Selain temuan di dapur, Trenggono yang menyempatkan diri menjenguk para pasien di RSUD Batang menemukan fakta lain yang tak kalah penting. Banyak makanan MBG yang seharusnya dikonsumsi langsung oleh siswa di sekolah, justru dibawa pulang.
Baca Juga: Bupati Batang Pastikan Biaya Pengobatan Korban Keracunan MBG Ditanggung Pemkab
Makanan tersebut kemudian dikonsumsi oleh anggota keluarga lain pada waktu yang berbeda, bahkan hingga malam hari, padahal makanan telah melewati batas waktu aman konsumsi.
“Berdasarkan yang tadi saya tanyakan kepada terdampak, baik siswa maupun ada juga orang tua, memang mungkin ada sedikit miss karena makanan ini sempat dibawa oleh anaknya ke rumah,” kata Trenggono.
Atas kejadian ini, BGN mengeluarkan peringatan keras bahwa makanan MBG memiliki label batas waktu dan tidak boleh dibawa pulang.
BGN juga akan berkoordinasi dengan sekolah untuk memperketat pengawasan. Sehingga perlu keterlibatan guru dan PIC sekolah untuk pendisiplinan, bahwa makanan yang diberikan diperuntukkan untuk siswa.
“Tidak ada MBG itu yang dibawa pulang, tidak boleh,” tegasnya.
Lebih lanjut, BGN menyoroti buruknya kerja sama antara yayasan dan mitra pengelola dapur terkait penyediaan fasilitas. Jika tidak ada iktikad perbaikan, BGN tak segan memutus kemitraan.
“Kalau dia saja sudah tidak bisa bekerja sama dengan baik, ya sudah kita tutup dapurnya,” ancam Trenggono.
Di balik insiden ini, BGN memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Batang atas penanganan darurat yang cepat tanggap.
“Kami berterima kasih kepada Pemda Kabupaten Batang yang begitu cepat, begitu sigap dibantu dengan jajarannya, apakah itu dari Polres, Kodim, BPBD, dan lainnya,” katanya.
Trenggono pun mengajak seluruh elemen daerah, termasuk Bupati Batang, untuk terus mengawal ketat jalannya program ini agar kejadian serupa tidak terulang di wilayah lain. “Semua berhak mengawasi, bukan hanya dari BGN saja. Pemda, Bapak Bupati dan jajaran ikut membantu mengawasi,” pungkasnya.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan