Atas insiden luar biasa ini, Wakil Presiden (Wapres) RI secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada para korban, khususnya yang berada di SD Negeri Pasusukan, Senin 28 September 2026.
Berdasarkan laporan Tim Surveilans Imunisasi & KLB Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, dari total 674 kasus, sebanyak 34 orang masih menjalani rawat inap. Pasien tersebar di beberapa fasilitas kesehatan, di antaranya RSUD Batang yang masih merawat 16 pasien, RSUD Limpung 10 pasien, dan Puskesmas Bawang 8 pasien. Selebihnya telah dinyatakan pulang atau menjalani rawat jalan, serta pengobatan di fasilitas kesehatan lain.
Wapres, Gibran Rakabuming Raka meninjau penanganan korban keracunan MBG di RSUD Limpung, Puskesmas Bawang dan SDN Pasusukan. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan para korban mendapatkan penanganan medis serta keluarga memperoleh kepastian terkait penanganan pascakejadian.
Baca Juga: Gibran Kunjungi Korban Dugaan Keracunan MBG di Batang, Minta Investigasi Dipercepat
Gibran pun meminta investigasi terhadap dugaan keracunan di Kecamatan Bawang segera dituntaskan dan hasilnya disampaikan secara transparan kepada masyarakat.
“Hari ini saya langsung datang untuk memastikan korban tertangani dengan baik, keluarga mendapat kepastian, investigasi dituntaskan, dan pengawasan diperkuat. Bahwa penanganan kesehatan korban menjadi prioritas pemerintah,” jelasnya.
Pasien yang masih menjalani perawatan diminta tetap mendapatkan pelayanan hingga kondisinya pulih. Sementara korban yang telah diperbolehkan pulang tetapi kembali mengalami keluhan juga harus memperoleh akses pemeriksaan dan penanganan medis lanjutan.
Pemerintah juga memastikan biaya pengobatan korban tidak membebani keluarga. Mekanisme pembiayaan diminta berjalan dengan baik di seluruh fasilitas kesehatan yang menangani pasien.
Terkait penyebab kejadian, Gibran mengatakan proses pemeriksaan masih berlangsung. Karena itu, ia meminta seluruh pihak terkait mempercepat investigasi untuk mengetahui penyebab kejadian secara ilmiah.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan Keracunan MBG di Batang: Telur Dimasak Sejak Malam, Kepala Dapur Langsung Dicopot
“Penyebab kejadian masih dalam proses pemeriksaan. Tapi investigasi harus segera dituntaskan dan penyampaian hasil investigasi harus secara transparan, sehingga dapat menjadi pembelajaran bersama. Hasil investigasi nantinya tidak hanya penting untuk mengetahui penyebab kejadian, tetapi juga menjadi dasar evaluasi pelaksanaan program MBG,” terangnya.
Gibran juga meminta evaluasi dilakukan secara menyeluruh, terutama terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Evaluasi mencakup pemenuhan standar higiene, proses pengolahan makanan, waktu penyimpanan, distribusi, hingga pengawasan di lapangan.
“Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, standar keamanan pangan harus dipastikan, dan setiap temuan harus segera diperbaiki. Kita ingin program prioritas Presiden ini memberikan manfaat sebesar-besarnya dengan keamanan dan kualitas makanan sebagai prioritas,” tegasnya.
Tragedi ini menyisakan trauma mendalam bagi para korban, termasuk tenaga pendidik di SDN Pasusukan. Sudiatmo, 46, Guru PJOK SDN Pasusukan, mengungkapkan pengalamannya saat memakan telur sajian MBG. Ia mengaku menyantap telur tersebut separuh bagian. Tak ada rasa aneh dan curiga.
"Baru terasa itu habis Isya sekitar jam setengah sembilan. Merasakan pusing pertama pusing, mual, terus kayak tulang nyeri gitu," tuturnya.
Kondisinya yang memburuk membuatnya dilarikan ke RSUD Limpung pada Rabu sore karena fasilitas rawat inap di Bawang sudah penuh (overload). Sudiatmo bahkan mengaku trauma dan menyebut rasa sakitnya melebihi saat ia terkena Covid-19. Hingga saat ini, ia masih merasakan lemas dan terkadang perut yang nyeri.
Baca Juga: Bupati Batang Pastikan Biaya Pengobatan Korban Keracunan MBG Ditanggung Pemkab
"Trauma sudah. Soalnya saya dulu kena covid tapi rasanya lebih sakit ini daripada kena virus covid," tandasnya.
Sementara itu, Nur Makrifah, 27, Guru Kelas 5 SDN Pasusukan menyebut, gejala yang dialaminya bermula dari demam, punggung ngilu, hingga pusing pada siang hari.
"Hari Rabunya demam, pusing, terus hari selanjutnya ganti gejala perutnya sakit, diare sama mual, juga lemes," jelas Nur.
Ia memaparkan bahwa di sekolahnya, dari total 71 siswa, sebanyak 26 anak terdampak keracunan. Sementara dari 8 guru yang ada, 7 di antaranya ikut menjadi korban.
"Harapan ke depan semoga untuk setiap dapur SPPG itu melakukan tugasnya sesuai SOP karena kalau tidak kan merugikan siswa, juga merugikan dapur yang amanah lainnya. Jadi nggih harapannya monggolah SPPG bertanggung jawab sesuai SOP agar tidak ada korban lagi," terangnya
Menanggapi situasi penyembuhan para korban, Kepala Disdikbud Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, menegaskan bahwa penanganan siswa saat ini sudah tertangani dengan baik dan siswa sudah mulai masuk kembali. Terkait kejadian ini, Bambang menyampaikan sejumlah poin penting dari pimpinan.
"Yang pertama Pak Wapres meminta maaf atas kejadian kemarin. Yang kedua berharap kejadian ini tidak terjadi lagi di Batang khususnya," tegas Bambang.
Bambang memastikan bahwa orang tua yang sebelumnya terlanjur mengeluarkan biaya pengobatan sendiri nantinya akan diganti sepenuhnya oleh pemerintah. Lebih lanjut, tata kelola makanan MBG akan diperbaiki dan dilaporkan ke pimpinan agar sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Sebagai langkah mitigasi ke depan, Disdikbud Batang juga telah memberikan instruksi tegas ke sekolah-sekolah agar makanan MBG tidak boleh dibawa pulang oleh siswa.
"Sudah kita sampaikan ke sekolah bahwa makanan jangan dibawa pulang, kalau memang tidak mau dimakan ya silakan dibiarkan saja," ujarnya.
Pihaknya juga menepis isu terkait adanya sekolah di bawah Disdikbud Batang di Bawang yang menolak program MBG ini pascakejadian. Dari koordinasi bersama 40 SD dan TK di wilayah tersebut, Bambang memastikan tidak ada satu pun institusi pendidikan yang mundur dari program MBG.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan