METROPEKALONGAN.COM, Batang – Niat hati meraup untung dari berjualan regulator dan selang gas, delapan orang sales justru babak belur diamuk massa. Peristiwa pengeroyokan ini terjadi di Dukuh Kebondalem RT 3 RW 4, Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Selasa (29/9/2026).
Pemicunya adalah para penjual yang disebut berasal dari CV Glory Mega Makmur ini diduga tidak mengembalikan uang sisa hasil penjualan kalung emas milik seorang nenek berusia 77 tahun. Uang itu digunakan untuk membayar regulator seharga Rp900 ribu.
Kasatreskrim Polresta Batang Kompol Bintoro Tio Pratama mengungkapkan, kejadian bermula pada Selasa siang sekitar pukul 12.00 WIB. Terdapat delapan orang dari perusahaan tersebut yang terbagi menjadi empat tim, berkeliling kampung menawarkan regulator, selang, dan tabung gas.
Satu tim kemudian mendatangi rumah seorang perempuan lansia di Dukuh Gondang. Tergiur rayuan sales, sang nenek yang tidak memiliki uang tunai akhirnya menyerahkan kalung emas beserta suratnya untuk melunasi harga regulator sebesar Rp900 ribu.
"Barang tersebut ditawarkan ke warga-warga. Terus ketemulah dengan Mbah-mbah. Dijual ke Mbah-mbah. Di situ Mbah-mbah itu hanya punya kalung emas," kata Bintoro, Rabu 30 September 2026.
Masalah meledak ketika emas tersebut dijual oleh pihak sales. Diketahui emas itu laku dengan harga sekitar Rp1,2 juta. Seharusnya, ada sisa uang Rp300 ribu yang dikembalikan kepada sang nenek. Namun, uang susuk tersebut diduga masuk kantong para sales.
"Seharusnya emas itu dijual, terus kalau ada sisa duitnya dibalikin ke si Mbah tersebut. Kenyataannya, kalau enggak salah dengar, emas itu laku Rp1.200.000. Berarti harusnya masih ada sisa Rp300.000, itu enggak dikembalikan," ungkapnya.
Kabar ini pun dengan cepat menyebar dan menyulut emosi warga setempat. Pada Selasa sore, warga yang marah langsung menyisir desa untuk mencari komplotan sales tersebut. "Jadi kejadian siang, terus dicarilah sama warga situ. 'Mana yang jual? Mana yang jual?' Intinya dicari," ujarnya.
Nahas, beberapa anggota tim sales berhasil ditemukan warga. Massa yang sudah kepalang emosi langsung menghadiahkan bogem mentah. Delapan orang sales itu dilaporkan mengalami luka-luka, mulai dari benjol hingga berdarah, sebelum akhirnya diamankan oleh petugas Polsek Subah dan Satreskrim.
"Yang luka hampir semua, Mas. Dari delapan orang itu," ucap Kasatreskrim.
Mereka langsung dievakuasi ke puskesmas setempat untuk mendapat perawatan. "Memang ada beberapa luka," tuturnya.
Kasus ini sempat viral di media sosial dengan bumbu narasi bahwa sang nenek menjadi korban hipnotis. Menanggapi hal tersebut, pihak kepolisian belum mau berspekulasi dan menyatakan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan mendalam.
"Kalau bahasanya ini dihipnotis karena memang itu Mbah-mbah kalau enggak salah sudah tua, umur 77 tahun. Masih dalam penyelidikan," tegasnya.
Dalam penanganannya, kepolisian mempertimbangkan langkah Restorative Justice (RJ). Mengingat insiden ini melibatkan amarah kolektif warga yang dipicu oleh dugaan kecurangan pihak penjual.
"Ini kan dari Pak Kades pada intinya berharap, ya dia juga ada kesalahan karena emas yang diberikan itu kok malah enggak dikembalikan sisane," jelasnya.
Polisi berupaya mengurai akar persoalan yang meresahkan warga ini tanpa harus buru-buru menyeret seluruh warga yang terlibat ke meja hijau. Pendekatan kekeluargaan dinilai menjadi solusi yang lebih kondusif.
"Ya, kita pun memahami hingga akhirnya kemungkinan saya berusaha mengupayakan RJ, supaya ini kan kejadiannya banyak warga akhirnya," ujarnya.
Meski begitu, Bintoro menegaskan peluang proses pidana tetap terbuka jika mediasi gagal atau ditemukan unsur kejahatan yang memberatkan. "Sementara kalau saya boleh ngomong sih ada. Cuma kita tidak melulu harus ke pidana nantinya. Makanya tetap mengedepankan RJ dulu," pungkasnya. (yan)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan