Sempat Diremehkan "Cuma Monyet yang Beli", Kopi Curug Genting Racikan Wasturi Kini Tembus Pasar Eropa

Riyan Fadli • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 16:35 WIB
Kedai kopi di tengah hutan belantara Dukuh Bawang, Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.
Kedai kopi di tengah hutan belantara Dukuh Bawang, Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.
 

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Cemoohan dan nada pesimis pernah menjadi "makanan sehari-hari" bagi Wasturi, 56, saat pertama kali merintis usaha perkebunan dan kedai kopi di tengah hutan belantara Dukuh Bawang, Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.

Pada awal gerak langkahnya, tidak sedikit warga hingga aparatur desa yang memandang sebelah mata idenya membuka usaha di area hutan lebat tersebut.

"Dulu tantangannya banyak. Dari kepala desa sempat tidak setuju. Ada yang bilang, 'Alas (hutan) kok dibuat warung, yang mau beli itu siapa? Ketek (monyet)?'," kenang Wasturi sembari terkekeh saat mengingat masa-masa sulit tersebut.

Area ini jauh dari pemukiman, dipenuhi pohon-pohon pinus yang tumpang sari dengan pohon kopi.

Monyet hingga lutung ekor panjang pun masih sering berkeliaran di area kedai kopi tersebut. Dengan kondisi alam yang masih asri, keraguan publik massa lalu sudah dibayar lunas.

Baca Juga: Bukit Srawung Diresmikan, KITB Jadi Ikon Wisata Baru di Batang 

Kini kawasan yang dulu dianggap terpencil itu bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru. Orang-orang dan pejabat yang dulu sempat meragukannya, kini justru menjadi pelanggan setia yang sering nongkrong dan menggelar acara di lokasi tersebut.

"Pak Lurahnya sudah jadi ketek ke sini. Wis sering ke sini, sudah sering ke sini juga ngopi," guraunya.

Gagasan pergerakan ini sejatinya telah dirancang Wasturi sejak 2014, sebelum akhirnya benar-benar dieksekusi secara masif pada 2018 lewat gerakan "bedol desa mbangun desa". Wasturi berhasil merangkul sekitar 50 pemuda desa untuk membudidayakan kembali tanaman kopi peninggalan era kolonial Belanda di areal berketinggian 1.000 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL). 

Banyak pemuda yang dulunya merantau menjadi pekerja proyek di Jakarta kini bisa pulang dan bekerja di kampung halamannya sendiri.

“Gagasan ini sejatinya telah dirancang sejak awal 2014, sebelum akhirnya benar-benar tereksekusi pada 2018 lewat penanaman bibit secara masif di areal berketinggian 1.000 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL)," terangnya.

Konsep bangunan di area Kafe Sapta Wening dan Kopi Curug Genting mengusung tema klasik dan tradisional yang mengedepankan nuansa masa lampau.

Wasturi, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Argo Lestari
Wasturi, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Argo Lestari

Wasturi menegaskan bahwa rancangan dan arsitektur bangunan secara keseluruhan sengaja dibuat agar tidak meninggalkan kesan dan estetika zaman dulu.

Pendekatan arsitektur ini mempertahankan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal ketimbang memakai gaya modern yang serba kaku.

Baca Juga: Sedot 10 Ribu Pengunjung, Amphitheater KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Baru Wisata Budaya Jawa Tengah

Suasana yang ingin dibangun adalah perasaan nostalgia, membuat setiap pengunjung yang datang merasa hangat dan tenteram seperti sedang "pulang ke rumah orang tua", bukan seperti mengunjungi tempat asing.

Bangunannya pun dibuat terbuka dan menyatu secara harmonis dengan lanskap alam hutan lebat di lereng pegunungan. Tidak menebang pohon yang ada untuk mendirikan bangunan. Melainkan bangunan dibuat menyatu dengan pepohonan pinus di area tersebut.

Di bawah bendera Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Argo Lestari, Wasturi menerapkan standar operasional dan sortasi pascapanen yang sangat ketat.

Ia mewajibkan metode panen murni petik merah dan menyeleksi biji kopi dengan teliti. Biji kopi yang cacat akibat mesin, dimakan serangga, maupun berkarang langsung disisihkan, dengan batas maksimal kadar air terkontrol ketat di angka 12%.

Tak heran jika rasa kopi olahannya diakui pasar mancanegara. Perwakilan dari Belanda bahkan memuji karakter Robusta Bawang yang memiliki profil rasa sangat bersih (clean) dan aftertaste yang lembut tanpa rasa mengganjal di tenggorokan.

Kedisiplinan standar ini membuat harga kopi Bawang bernilai tinggi di pasaran mulai Rp 150 ribu untuk green bean hingga Rp 750 ribu untuk roast bean liberika per kilogramnya.

Melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Perum Perhutani KPH Pekalongan, LMDH Argo Lestari mengelola lahan seluas 182 hektar, di mana 60 hektar di antaranya telah tertanam penuh dengan produktivitas mencapai 4 ton per hektar.

Sejak memulai langkah ekspor pada 2022, kopi olahan Wasturi dan kelompok koperasinya kini rutin memasok pasar Belanda melalui PT Antasora / buyer Jaja serta agregator di Yogyakarta.

Kedai kopi di tengah hutan belantara Dukuh Bawang, Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.
Kedai kopi di tengah hutan belantara Dukuh Bawang, Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.

Permintaan ekspor ke Belanda mencapai 10 ton per bulan, dengan target hingga 40 ton khusus jenis Arabika dan Robusta pada akhir tahun ini.

Lompatan besar ini tidak terlepas dari pendampingan intensif Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal sejak tahun 2020.

Kepala KPw BI Tegal, Bimala, menjelaskan bahwa BI mengawal kelompok tani hulu-ke-hilir, mulai dari penyediaan bantuan fisik hingga fasilitasi pemasaran.

"Kopi dari Curug Genting ini sudah masuk ke pasar Belanda meskipun melalui agregator di Jogja. Untuk kami ini tidak apa-apa, karena Curug Genting bisa fokus pada produksi dan pengembangan kafenya,” tegasnya.

BI Tegal memberikan bantuan mesin huller, pulper, mesin grading, greenhouse, hingga peralatan mesin espresso modern.

Baca Juga: Punya Titik Tertinggi 2.500 MDPL, Potensi Wisata Pendakian Gunung di Batang Masih Terbentur Regulasi

Para petani juga dikirim mengikuti pelatihan berkelanjutan ke Padang, Surabaya, hingga Purwokerto. Untuk ranah pemasaran, BI memfasilitasi business matching secara reguler, salah satunya melalui ajang Java Coffee Culture.

Kini, kebun rintisan Wasturi yang dulu hanya seluas 1 hektar telah berkembang menjadi 10 hektar milik pribadi, serta menaungi jaringan 62 petani lokal dengan total lahan tertanam 62 hektar.

Unit usahanya pun berkembang pesat mempekerjakan 25 tenaga kerja lokal yang terbagi ke dalam tiga manajemen yaitu, Koperasi, Sapta Wening, dan Sanggan (pusat oleh-oleh).

Selain menjual biji kopi, kawasan ini kini menjelma menjadi destinasi wisata favorit lewat keberadaan Kafe Sapta Wening dan Kopi Curug Genting (Genting Kopi) di area camping ground.

LMDH Argo Lestari yang mampu mengelola keuangan secara mandiri hingga melahirkan unit bisnis baru. Ke depan, kawasan Curug Genting diproyeksikan berkembang menjadi destinasi wisata terpadu dengan fasilitas restoran, homestay, hingga glamping. (yan)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
sapta wening curug genting batang Blado kopi