METROPEKALONGAN.COM, Batang – Momen langka yang ditunggu-tunggu wisatawan akhirnya tiba. Ribuan bunga matahari kini tengah mekar sempurna di kawasan wisata Catra Kopi, Kecamatan Blado.
Pemandangan instagramable berlatar perdesaan pegunungan ini langsung diserbu warga, mengingat fenomena hamparan kuning cerah ini hanya berlangsung singkat hingga awal November mendatang.
Tidak hanya menawarkan pesona alam yang indah, wisata musiman ini sangat ramah di kantong. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek untuk tiket masuk sebesar Rp3 ribu per orang untuk bisa berswafoto sepuasnya di tengah ribuan bunga matahari yang bermekaran.
Founder Catra Kopi Batang, Barozi, menyebutkan bahwa kebun ini memang disiapkan sebagai daya tarik musiman. Saat ini, penanaman bunga matahari di kawasan tersebut telah memasuki tahun kedua.
“Ini sudah memasuki tahun kedua kami melakukan penanaman bunga matahari. Biasanya kami tanam pada bulan Agustus dan mulai mekar pada Oktober.
Masa mekar bunga matahari relatif singkat sehingga menjadi momentum yang tidak dapat dinikmati sepanjang tahun. Bunga-bunga tersebut diperkirakan masih bertahan hingga akhir Oktober atau awal November, dengan masa mekar sekitar satu bulan,” terangnya.
Sensasi berfoto di hamparan bunga ini menjadi magnet tersendiri bagi warga, mayoritas datang dari wilayah Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan.
Tak tanggung-tanggung, terdapat sekitar 1.000 pohon yang siap menghiasi feed media sosial pengunjung. Barozi memaparkan bahwa ribuan bunga tersebut tidak hanya sekadar indah dipandang, namun juga memiliki nilai guna tinggi karena terdiri dari jenis yang berbeda.
“Tanaman tersebut terdiri dari dua varietas, yakni varietas food yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kuaci dan varietas oil yang diperuntukkan bagi produksi minyak nabati. Keberadaan kebun bunga matahari tersebut sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi Catra Kopi dan kawasan wisata di Kecamatan Blado,” jelasnya.
Menariknya, pengelolaan destinasi wisata yang tengah hits ini tidak hanya berpusat pada keuntungan semata, melainkan membawa efek ekonomi ganda dengan memberdayakan masyarakat lokal.
“Pendapatan dari tiket tersebut digunakan untuk mendukung biaya perawatan kebun. Pengelolaan juga melibatkan masyarakat setempat melalui BUMDes dan Karang Taruna. Hasilnya digunakan untuk perawatan kebun dan dikelola bersama teman-teman BUMDes dan Karang Taruna,” ungkapnya.(yan)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan