Meski Ada Temukan Cemaran Mikroba, Dinkes Batang Belum Bisa Pastikan Penyebab Utama Keracunan MBG

Riyan Fadli • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 09:01 WIB
Kepala Dinkes Kabupaten Batang Ida Susilaksmi
Kepala Dinkes Kabupaten Batang Ida Susilaksmi

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Dinkes Kabupaten Batang akhirnya mengumumkan hasil uji laboratorium terkait kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, terungkap adanya temuan cemaran mikroba pada sampel makanan yang diambil dari bank sampel SPPG serta pada sampel feses sejumlah pasien. 

Kendati demikian, pemeriksaan pada sampel muntahan dinyatakan negatif atau tidak menemukan adanya cemaran mikroba. Kepala Dinkes Kabupaten Batang Ida Susilaksmi membeberkan detail proses pemeriksaan tersebut di hadapan publik.

“Sampel makanan yang diperiksa berasal dari bank sampel di SPPG, yakni makanan segar yang diambil setelah dimasak dan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat. Sampel makanan yang dikonsumsi langsung oleh masyarakat tidak lagi tersedia saat pemeriksaan dilakukan. Karena itu, pemeriksa juga mengambil sampel feses dan muntahan dari pasien yang menjalani perawatan di puskesmas,” jelasnya.

Adapun rangkaian sampel yang diuji di laboratorium meliputi nasi putih, telur bolognese, ca sayur, tahu goreng tepung, buah anggur, air bersih untuk memasak, air reverse osmosis (RO), hingga air cucian ompreng atau wadah makanan.

Meski temuan cemaran mikroba sudah dikantongi, pihak Dinkes Batang mengakui ada kendala krusial dalam menyimpulkan sumber utama penularan.

“Meski ditemukan cemaran mikroba, Dinkes belum dapat memastikan jenis makanan tertentu yang menjadi penyebab utama kasus tersebut. Hal ini karena tidak tersedianya sampel makanan yang diambil langsung dari makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat,” terangnya.

Akibat tidak adanya sisa makanan asli yang dikonsumsi korban, hasil pemeriksaan ini belum cukup kuat untuk memvonis apakah cemaran bersumber dari menu tertentu atau dipicu oleh faktor lain dalam rantai pengolahan.

Ida menambahkan, cemaran mikroba yang ditemukan dapat berkaitan dengan proses pemasakan yang kurang matang, atau penerapan standar higiene dan sanitasi yang belum optimal. Di sisi lain, faktor distribusi dan penyimpanan makanan juga memegang peranan vital.

Dalam kondisi tertentu, populasi mikroba yang jumlahnya masih sedikit setelah makanan dimasak bisa berkembang biak dengan cepat selama penyimpanan, utamanya apabila suhu makanan tidak terjaga dengan baik.

“Penggunaan ompreng yang ditutup selama distribusi dan penyimpanan juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan bersama faktor suhu serta lamanya makanan disimpan. Karena itu, pengendalian keamanan pangan perlu dilakukan sejak proses persiapan bahan, pemasakan, pengemasan, hingga makanan diterima dan dikonsumsi penerima manfaat,” terangnya.

Menanggapi insiden ini, Dinkes Batang mengingatkan pentingnya konsistensi penerapan higiene dan sanitasi dalam penyelenggaraan program MBG ke depan.

Pengawasan mulai dari seleksi bahan pangan, tingkat kematangan, kebersihan alat, hingga kontrol waktu dan suhu distribusi menjadi kunci pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi penanganan kasus keracunan di Kecamatan Bawang. Namun, penetapan penyebab pasti tetap memerlukan kehati-hatian karena sumber makanan yang dikonsumsi langsung oleh korban tidak tersedia untuk diuji,” ujar dia.(yan)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
hasil lab keracunan batang Mbg