Tol Khayangan 2 di Batang Terganjal Anggaran Rp 7,5 Miliar, di Sini Lokasinya

Riyan Fadli • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:38 WIB
JALAN RUSAK: Kondisi jalan rusak yang digadang sebagai jalur Tol Khayangan 2 Batang
JALAN RUSAK: Kondisi jalan rusak yang digadang sebagai jalur Tol Khayangan 2 Batang 

METROPEKALONGAN.COM, Batang - Harapan warga untuk memiliki jalan yang layak di jalur timur Dieng atau yang digadang-gadang sebagai Tol Khayangan 2 masih harus menempuh jalan berliku.

Pemkab Batang mencatat, butuh dana setidaknya Rp 7,5 miliar untuk menuntaskan sisa pembangunan jalan sepanjang enam kilometer tersebut. Namun, kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sangat terbatas.

Pada tahun 2027 mendatang, Pemkab Batang baru bisa mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar untuk jalan Pranten-Dieng tersebut.

Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bapperida Kabupaten Batang, Nona Yulistya Suyono, menjelaskan bahwa jalur menuju kawasan Dieng dari wilayah Batang sebenarnya memiliki dua akses utama.

Jalur barat yang melintasi Ndeles, Bintoro Mulyo, hingga Sigemplong yang populer dengan nama Tol Khayangan saat ini sudah tersambung konstruksi beton.

Sebaliknya, jalur timur yang menghubungkan kawasan Pranten dan sekitarnya masih memprihatinkan dan butuh penanganan serius.

“Untuk jalur sebelah timur, saat ini masih ada kekurangan sekitar enam kilometer, mulai dari Dukuh Ngluwok sampai Desa Pranten. Pembangunannya dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran,” kata Nona.

Baca Juga: Industropolis Batang dan KCC Glass Akselerasi Fasilitas dan Kebersihan Desa Kedawung

Berdasarkan hitungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Batang, alokasi Rp 1,5 miliar pada 2027 diperkirakan hanya mampu meng-cover pembangunan jalan sepanjang 1,2 kilometer dengan lebar empat meter.

Artinya, masih ada sisa sekitar 4,8 kilometer jalur berisiko yang belum tersentuh. Demi mengejar ketertinggalan tersebut, Pemkab Batang melayangkan usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 11 miliar ke pemerintah pusat untuk menangani total jalan sepanjang 10 kilometer.

“Harapannya, pembangunan ini bisa terus berlanjut secara bertahap sehingga akses masyarakat semakin baik dan konektivitas antarwilayah bisa terwujud,” ujar Nona.

Tingginya kebutuhan biaya pembangunan tak lepas dari tantangan geografis kawasan lereng Dieng. Medan yang curam, berbukit, serta memiliki curah hujan tinggi menuntut spesifikasi pengerjaan yang ekstra kokoh.

Nona menyebutkan, Pemkab memilih konstruksi beton semen ketimbang aspal agar jalan lebih awet dan tidak cepat rusak diterjang cuaca ekstrem.

Pentingnya percepatan akses ini bukan sekadar mengejar potensi pariwisata atau kelancaran distribusi sayur-mayur. Lebih dari itu, persoalan ini menyangkut nyawa manusia dan fasilitas pelayanan dasar.

Nona mengungkapkan, pihaknya pernah mendengar cerita mengenai warga sakit yang meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Ada pula ibu yang terpaksa melahirkan di tengah perjalanan akibat sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan.

“Karena itu, akses jalan ini sangat penting. Jangan sampai ketika ada warga yang sakit atau membutuhkan pertolongan darurat, mereka mengalami kesulitan untuk menuju fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bapperida Kabupaten Batang, Bagus Pambudi, menekankan bahwa pembangunan infrastruktur di kawasan perbatasan dan terisolasi seperti Pranten menjadi fokus pemerintah daerah untuk mengurangi kesenjangan wilayah.(yan)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
perbaikan jalan kabupaten batang dieng - batang dieng Tol Khayangan Kabupaten Batang