METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Budidaya lebah madu klanceng Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, dilirik para penyuluh pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Tak hanya melakukan pendampingan, bahkan Unsoed siap menampung hasil produksi madu tersebut.
Desa Mendolo merupakan salah satu pusat budidaya lebah madu klanceng yang sedang berkembang di Kabupaten Pekalongan.
Saat ini baru ada 25 petani pembudidaya. Padahal koloni lebah madu klanceng yang dibudidayakan sudah mencapai ratusan stup (sarang).
Tim Magister Penyuluhan Pertanian Unsoed telah mengunjungi lokasi budidaya. Termasuk menggelar fokus grup diskusi (FGD) dengan petani, pemerintah desa setempat, hingga Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pekalongan.
Menurut Eko Prasetyo, salah satu mahasiswa Magister Penyuluhan Pertanian Unsoed yang berprofesi sebagai penyuluh kehutanan di CDK Wilayah IV Pekalongan, dalam setahun petani dapat memanen madu klanceng sebanyak empat kali.
"Satu stup lebah madu klanceng dapat menghasilkan madu sebanyak empat botol. Dengan harga Rp 200 ribu per botol, maka satu stup lebah madu klanceng dapat memberikan penghasilan sebanyak Rp 800 ribu," katanya.
Koordinator Tim Magister Penyuluh Pertanian Lilik Kartika Sari mengatakan, pihaknya optimistis ke depan jumlah petani dan produktivitas madu klanceng di Mendolo akan meningkat.
Dari FGD, kata dia, tim menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk peningkatan itu.
Di antaranya yakni dengan cara meningkatkan keberadaan dan fungsi demplot budidaya lebah madu klanceng, meningkatkan ketersediaan pakan lebah, dan meningkatkan modal petani dengan meningkatkan bantuan dari pemerintah, CSR serta sumber lainnya.
Sementara itu Direktur Pasca Sarjana Unsoed Prof. Imam Widhiono menyatakan, pihaknya siap untuk menampung produksi lebah madu klanceng Mendolo.
Hal ini diharapkan akan mendorong semangat petani untuk meningkatkan produksi madu klanceng. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla