METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Tradisi Bedah Bendungan Gembiro tahun ini dipastikan tidak diselenggarakan.
Debit air bendungan yang kian hari menurun jadi alasannya. Pihak pengelola juga memperhitungkan air untuk pengairan sawah.
Tradisi Bedah Bendungan Gembiro biasanya diselenggarakan tiap tanggal 1 Oktober.
Hingga kini, meski terlewat dari tanggal itu, masih banyak masyarakat yang menanyakan dan berharap tradisi itu diselenggarakan.
Padahal jauh-jauh hari pihak pengelola sudah mengumumkan perihal tidak dibukanya bendungan di Kecamatan Bojong tersebut.
Kepala Bidang Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Pekalongan Dinas PU-Taru Kabupaten Pekalongan Pujo Pramudiarto mengatakan, belakangan ini debit air di Bendungan Gembiro cenderung menurun.
"Sampai tanggal 15 September 2024 itu debit sekitar 458 liter per detik. Untuk debit air diperkirakan akan terus menurun," katanya.
Selain itu, air juga masih dibutuhkan untuk mengaliri areal persawahan sejumlah desa. Di antaranya Desa Sumub Kidul 14 hektare, Desa Kalijambe 3 hektare, Desa Mulyorejo 20 hektare, Desa Krandon 10 hektare, Desa Watu Payung 10 hektare, Desa Jagung 20 hektare, Desa Langensari 15 hektare dan Desa Watu gajah 10 hektare.
"Jadi sesuai hasil rapat di Tegal, Bendungan Pintu Gembiro sementara tidak dibuka. Hal itu dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai situasi area pertanian yang ada di sekitar," jelasnya.
Pertimbangannya, kata dia, jika dipaksakan dibuka maka masa pengumpulan air akan cukup lama. Mengingat debit air sungai saat ini juga masih rendah dan intensitas hujan belum tinggi.
"Kalau mengumpulkan airnya lama, maka para petani yang akan masuk masa tanam ketiga akan terganggu," tandasnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla