METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Ratusan kios dan lapak di Pasar Wiradesa tutup tak ditempati pedagang.
Disinyalir, ini gara-gara sepi pembeli. Pedagang lebih memilih berjualan di luar kawasan pasar. Kios dan lapak kosong paling banyak berada di lantai II pasar.
Salah satu pedagang yang enggan menyebut nama mengaku lebih memilih berjualan di luar pasar.
Alasannya lebih laku karena dekat dengan pembeli. Ia mengakui, kios di dalam pasar jauh lebih baik dan bersih.
Namun penjualan sepi karena pembeli lebih memilih berbelanja di luar pasar lantaran dekat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (dinperindag) Kabupaten Pekalongan Susanto Widodo mengakui memang banyak kios dan lapak Pasar Wiradesa tutup tak ditempati.
"Jumlahnya saya tidak hafal. Yang jelas, sisa dari hasil pengundian tempat (saat pasar diresmikan) saja ada lebih dari tiga ratusan. Itu kios yang di lantai atas. Kalau yang di bawah sudah terisi semua," ungkapnya.
Dari pengamatan pihaknya, fenomena ini karena pedagang lebih memilih dagangan laris ketimbang tempat yang representatif.
"Dan bagi pembeli, lebih baik ndang didodoli (cepat dilayani) lalu pulang," ujarnya.
Beberapa waktu lalu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Sumar Rosul meninjau kondisi Pasar Wiradesa.
Ia mengaku prihatin dengan keadaan pasar yang terletak di jalur pantura tersebut.
"Iya, masih banyak pedagang yang di luar menempati lahan-lahan yang tidak semestinya untuk berjualan,"ucapnya.
Ia menyarankan kepada Dinperindag untuk memberi stimulus kepada pedagang.
Caranya, kata dia, dengan membebaskan atau menggratiskan retribusi selama tiga bulan.
"Ini untuk memancing pedagang yang di luar agar masuk. Atau mungkin ada stimulus lain, silakan," ujarnya.
Tak hanya itu, Sumar juga menyarankan ada perancangan ulang desain (redesain) beberapa titik pasar. Salah satunya menambah atau membuat pintu masuk baru.
"Biar orang itu tidak muter-muter, biar lebih mudah akses masuknya. Pasar ini kan sudah menjadi aset milik Pemkab Pekalongan, saya rasa pemkab perlu redesain disesuaikan dengan aspirasi masyarakat," tuturnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla