METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Jembatan Tembelan di Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, putus akibat tersapu banjir bandang pada pekan lalu, Senin, 20 Januari 2025.
Jembatan tersebut sedianya merupakan akses utama warga dan memang berada di jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Pekalongan dengan Kabupaten Banjarnegara.
Tak ayal putusnya jembatan tersebut menghambat mobilitas warga dan matinya lalu lintas dari dan ke arah Banjarnegara.
Sejak Petungkriyono menjadi perhatian nasional usai peristiwa longsor yang menewaskan puluhan orang, Dukuh Tembelan turut mengundang perhatian akibat putusnya jembatan tersebut. Bantuan-bantuan logistik juga mengalir ke dukuh ini.
Namun, putusnya jembatan Tembelan membuat warga harus mencari jalan untuk mendistribusikan bantuan ke penduduk.
Warga membangun jembatan darurat dengan bambu di atas aliran sungai Welo.
Jembatan darurat tersebut sekaligus bisa digunakan untuk mobilitas sehari-hari meski sangat terbatas.
Namun kemudian, warga merasa jembatan darurat tersebut terlalu berbahaya. Apalagi ketika debit sungai Welo sedang deras dan tinggi.
Tak kehabisan akal, warga kemudian berinisiatif merancang katrol gantung.
Mereka menggunakan tali sebagai lintasan katrol yang melintang di atas jembatan putus.
Katrol ini akhirnya meringankan kerja warga dalam mengoper bantuan-bantuan ke seberang jembatan.
Pantauan wartawan Metropekalongan.com di lokasi pada Rabu, 29 Januari 2025 siang, warga tengah sibuk mengoperasikan katrol gantung itu.
Ada sejumlah bantuan yang harus mereka oper ke seberang jembatan.
Tak bisa sekaligus, pengoperan bantuan ini musti warga lakukan secara bertahap sesuai kekuatan katrol menggantung beban.
Pengurus RT 09, RW 05, Dukuh Tembelan, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Bambang Prasetyo mengatakan, katrol gantung tersebut baru warga buat ketika hari kelima setelah jembatan putus.
"Sebelumnya kami ya lewat jembatan darurat bambu itu. Tapi itu ekstrem, berbahaya. Jadi katrol ini sangat meringankan lah," ungkapnya.
Ia menyampaikan, warga saat ini benar-benar belum bisa beraktivitas seperti sedia kala.
Warga yang biasanya bertani, kata dia, saat ini belum bisa melakukan pekerjaannya itu karena sejumlah irigasi turut rusak.
"Boleh dibilang masih bergantung dengan kiriman bantuan-bantuan. Saat ini yang dibutuhkan warga itu makanan, baik bahan mentah atau jadi. Sebab warga kesulitan mencari bahan makanan karena jembatan ini putus," ucapnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla