METROPEKALONGAN.COM, Kajen – Rumah warisan yang beralamat di Kranji, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, yang ditinggali Rohim seorang diri, kondisinya sangat tidak layak.
Apalagi Rohim yang keseharian hidupnya hobi mengumpulkan sampah hanya untuk ditumpuk di rumahnya, menyebabkan kondisinya semakin kumuh. Bahkan warga setempat menyebut rumah tersebut sebagai Rumah Sampah Kranji.
Karena itulah, Ketua RW 09 Kranji, Abdul Hakim sempat mengajukan bantuan perbaikan rumah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan.
Perlu diketahui, rumah tersebut merupakan rumah warisan dari kedua orang tua Rohim yang bernama Hasan.
Namun setelah ibu dan bapaknya meninggal, adik-adik dan kakaknya memilih tinggal di tempat lain bersama pasangannya di daerah lain. Tinggal Rohim yang menetap seorang diri hingga 10 tahun ini. Ternyata Rohim didiagnosa ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Rohim pun mengisi waktunya, dengan mengumpulkan sampah dari sekitar pukul 23.00 WIB hingga pagi berikutnya pukul 06.00 WIB. Sampah itu ditumpuk dari bawah ke atas sehingga rumah berubah menjadi lorong-lorong sampah.
“Sampah-sampah itu tidak dijual, melainkan hanya ditumpuk di dalam rumah, hingga menggunung,” kata Bu Eni, warga asli Kranji tetangga Rohim.
Sudah sejak lama warga ingin membantu membersihkan rumah Rohim, namun setiap kali diusulkan, Rohim selalu menolak dan bahkan mengamuk. Hal ini membuat warga kesulitan untuk bertindak lebih jauh.
"Namun setelah sekian lama, warga kembali mencoba berkomunikasi dan akhirnya Rohim bersedia rumahnya dibersihkan," katanya.
Karena Rohim sudah mengizinkan rumahnya dibersihkan, akhirnya Jumat pagi, 4 Juli 2025 sekitar pukul 06.00 pagi, sebanyak 10 hingga 15 warga bergotong royong membersihkan rumah Rohim.
Kegiatan ini turut didukung oleh Lurah Kedungwuni Timur, Zurittaqi yang memberikan support dan memfasilitasi operasional pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Linggo Asri.
Bahkan Lurah Zurittaqi mengapresiasi kekompakan warga RW 09 Kranji dalam bergotong-royong.
"Ini satu kegiatan yang semakin lama semakin jarang dijumpai. Semangat gotong-royong harus tetap dilestarikan agar tetap melekat sebagai identitas bangsa Indonesia, dimulai dari tingkat RT dan RW," katanya apresiatif memuji warga Kranji.
Abdul Hakim selaku ketua RW menambahkan, kerja gotong royong tersebut juga mendapatkan bantuan dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) Kabupaten Pekalongan berupa dua unit kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah-sampah tersebut ke TPA.
“Namun, pembersihan tersebut baru sekitar 5 persen dari total tumpukan sampah yang diperkirakan bisa mencapai hingga sepuluh truk,” katanya.
Meski begitu, sebagai bentuk kepedulian berkelanjutan, warga Kranji kini rutin melakukan gotong royong setiap hari Jumat untuk membersihkan sisa-sisa sampah di rumah Rohim.
Kendati demikian, Abdul Hakim prihatin, karena pihak Dinas Perkim dan LH Kabupaten Pekalongan masih menganggap rumah Rohim belum termasuk indikator kawasan kumuh.
Hanya karena satu rumah Rohim saja yang kumuh. Padahal, ukuran kekumuhan tidak harus bersifat kolektif.
“Kalau satu rumah sudah membawa dampak lingkungan dan membahayakan masyarakat sekitar, itu seharunya sudah bisa dikategorikan kumuh,” jelasnya.
Karena itulah, warga juga melaporkan kondisi tersebut ke DPR Kabupaten Pekalongan.
"Kami akan memohon kepedulian para wakil rakyat untuk memperhatikan konfdisi rumah Rohim," harapnya.
Selain itu, pihak warga juga mempersilahkan Rohim untuk menjalani aktivitasnya mengumpulkan sampah, dengan diberikan bimbingan yang lebih terarah.
Misalnya, diajari memilah sampah yang bernilai jual seperti kardus. Kemudian diajari bekerja sama dengan pengepul.
“Kami berencana memberikan edukasi supaya Rohim mau memilah sampah yang bernilai jual seperti kardus. Ke depan kami juga akan membantu menjembatani kerja sama dengan pengepul,” ujar Abdul Hakim.
Ini sebagai bentuk kepedulian berkelanjutan, warga Kranji rutin melakukan gotong royong setiap hari Jumat untuk membersihkan sisa-sisa sampah di rumah Rohim.
“Warga tetap berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan dapat membangunkan gubuk yang lebih layak untuk Rohim, sambil memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah yang sehat dan bermanfaat,” tandasnya.
Kendati warga tetap merasa khawatir, jika upaya Pemkab Pekalongan hanya menangani setengah hati.
“Tanpa langkah serius dan berkelanjutan, Rumah Sampah Kranji akan terus menjadi simbol kelalaian dalam menangani masalah sosial dan lingkungan di Kranji,” katanya prihatin. (syafikasaffanah/ida)
Editor : Ida Nor Layla