Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Cerita Pilu di Balik Meninggalnya Rafa, Berencana Sunatan dan Sudah Sebar Undangan

Nanang Rendi Ahmad • Senin, 21 Juli 2025 | 06:05 WIB

 

PILU: Tetangga dan kerabat saat mencoba menenangkan ibunda Rafa yang syok berat saat jenazah diberangkatkan ke makam.
PILU: Tetangga dan kerabat saat mencoba menenangkan ibunda Rafa yang syok berat saat jenazah diberangkatkan ke makam.

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Jenazah Rafa sedang dimandikan saat wartawan Jawa Pos Metro Pekalongan tiba di rumah duka, Desa Bukur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Minggu 20 Juli 2025 pukul 09.30.

Gang kecil menuju rumah duka sudah banyak petakziah, terutama keluarga, kerabat, dan para tetangga. 

Suara tangis nyaris tak henti terdengar mengiringi prosesi memandikan jenazah.

Baca Juga: RSUD Kajen Gembleng Tenaga Medis Soal Penanganan Gigitan Ular, Kasus Rafa jadi Pembelajaran

Bahkan, kata salah seorang tetangga yang bertakziah, sang ibu terlihat menangis sejak jenazah Rafa tiba di rumah duka pada pukul 04.00.

"Rafa itu anak mbajeng (sulung), punya adik satu, laki-laki juga," ungkap pria yang sudah paruh baya itu. 

Petakziah terus berdatangan, termasuk Kepala Sekolah SD Negeri 01 Bukur bersama beberapa teman-teman sekelas Rafa.

Baca Juga: Usai Koma Sebulan Lebih, Bocah Kabupaten Pekalongan yang Digigit Ular Kini Meninggal

Mereka yang kebanyakan perempuan itu awalnya tampak tegar. Juga malu-malu ketika mendekati halaman rumah Rafa. 

Namun ternyata kemudian mereka menangis sejadi-jadinya ketika jenazah Rafa dimasukkan ke dalam keranda.

Mereka lalu berangkulan, berpelukan, saling menguatkan satu sama lain, sambil mengusap air mata dengan kerudung. 

Baca Juga: Ahli dari Kemenkes Turun Tangan, Begini Perkembangan Kondisi Bocah Digigit Ular di Kabupaten Pekalongan

"Rafa itu anaknya baik, ceria. Ya, seperti anak-anak pada umumnya, mudah bergaul,” kata Dewi Wati, Kepala SDN 01 Bukur yang juga tak kuat menahan air mata.

Dewi sedianya ingin mengondisikan semua teman kelas Rafa agar hadir takziah sebagai bentuk solidaritas sekaligus perpisahan.

Terlebih Rafa sudah sebulan lebih tak hadir dalam kelas, padahal biasanya selalu berdama mereka sejak kelas I. 

Baca Juga: Habitatnya Terganggu, Ular Piton Mencari Mangsa hingga Masuk Rumah Warga Gringsing Batang

Namun rencana Dewi mengajak semua teman sekelas Rafa itu tak bisa ia lakukan karena sedang hari libur sekolah.

"Jadi ini yang takziah cuma teman-temannya yang masih satu desa," ucapnya. 

Suara tangis di dalam rumah duka makin keras ketika keranda mulai diberangkatkan ke musala untuk prosesi salat jenazah.

Baca Juga: Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Gagas Kartu Khusus Anak Yatim, Permudah Akses Layanan Pendidikan dan Kesehatan Bagi Anak Yatim

Ibunda Rafa tampak lunglai. Ibu-ibu di sekitarnya mencoba menguatkan dan lalu memapahnya ke dalam rumah. 

Yang membuat perpisahan ini terasa jauh lebih pilu ialah kenyataan bahwa Rafa sebenarnya tengah bersiap menjalani salah satu momen penting dalam hidupnya, yakni sunatan (khitan).

Suwondo, ayah Rafa mengatakan, undangan bahkan sudah disebar. Hanya tinggal lima hari, tapi takdir berkata lain.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Pekalongan bersama BCA Berkolaborasi Meningkatkan Layanan Informasi dan Pengaduan di RS

"Iya, rencananya mau sunat. Kejadiannya (Rafa digigit ular) itu lima hari sebelum disunat. Kurang lima hari saja,” katanya usai pemakaman Rafa.

Selama Rafa koma sejak 16 Juni 2025, Suwondo dan istrinya selalu mendampingi putra sulungnya itu.

Tak ada kata-kata terakhir dari Rafa kepada kedua orang tuanya hingga bocah ini pergi selama-lamanya.

Baca Juga: Penguatan Program Rujuk Balik di Fasilitas Kesehatan Kabupaten Pekalongan Kini Dikuatkan

Sebab Rafa belum sempat sekalipun sadar dari koma sampai ia meninggal. 

Benar-benar tak ada sepatah katapun dari Rafa yang bisa Suwondo kenang untuk mengingat momen terakhir bersama.

"Iya, belum pernah sadar. Keterangan terakhir dokter, Rafa sudah lemah. Kondisinya menurun semua sejak (Sabtu, 19/7/2025) pagi. Jam 11 malam dokter memanggil kami, bilang kondisinya makin menurun. Jam 12 malam sudah tidak ada (meninggal)," ungkapnya. 

Baca Juga: Hasna, Mahasiswi Farmasi Unimma Rasakan Perlindungan Kesehatan dari BPJS Kesehatan

Rafa dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Bukur pada pukul 10.30 WIB.

Kasus Rafa ini menyita perhatian publik dan dunia medis sejak mencuat.

Mulai dari dugaan salah diagnosa oleh RSUD Kajen sebagai rumah sakit pertama yang menangani, hingga turunnya ahli dari Kementerian Kesehatan (kemenkes) dalam penanganan Rafa.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Beri Rasa Aman bagi Rafi Sekeluarga di Pelosok Magelang

Saat Rafa dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang, Dinas Kesehatan Provinsi Jateng juga ikut memantau perkembangannya. 

Namun kini yang tersisa hanya catan-catan tentang Rafa yang telah berjuang melawan racun ular dalam tubuhnya. 

Tentang Rafa yang ceria tapi tak sempat berpamitan kepada orang tuanya. Tentang Rafa yang gagal mendapat momen perayaan khitanannya. 

Baca Juga: BPJS Kesehatan Ringankan Beban dan Bantu Sri Maemuniarti Sembuh Tanpa Biaya

Di antara tangis dan kesedihan, ada pertanyaan menggantung, bisakah kematian ini dicegah jika penanganan medis gigitan ular ditangani dengan cepat dan tepat?

Perlukah edukasi masif kepada masyarakat soal penanganan dan pertolongan pertama terhadap orang yang digigit ular? (nra/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#kabupaten Pekalongan #ular weling #Rafa #bocah digigit ular #digigit ular