METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Usia aspal hasil program TMMD Reguler Ke-125 di Desa Windurojo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, diproyeksikan mampu bertahan hingga lima tahun.
Tim Pengawasan dan Evaluasi (wasev) menyarankan pembatasan bobot kendaraan yang melintas tak lebih dari 4 ton.
"Kalau dilalui kendaraan berat, umur aspal bisa jauh berkurang. Jadi saya minta pak lurah dan warga ikut menjaga. Kendaraan yang lewat jangan sampai melebihi 4 ton," kata Brigjen TNI Parlindungan Hutagalung, Ketua Tim Wasev dari Markas Besar Angkara Darat (Mabesad) saat meninjau langsung ke Windurojo, Kamis 7 Agustus 2025.
Baca Juga: Sentuh Banyak Sektor, TMMD Reguler Desa Windurojo Kabupaten Pekalongan Dinilai Layak Jadi Role Model
Dari hasil pengecekan di lapangan, pengerjaan jalan penghubung Desa Windurojo dan Ujung Negoro itu sudah mencapai 70–80 persen.
Ia mengapresiasi teknik pengaspalan yang dinilai rapi dan berkualitas.
"Kalau dirawat dengan baik, proyeksi usia aspal bertahan lima tahun ke depan itu bisa tercapai," ujarnya.
Baca Juga: Antusias Jalan Bakal Diaspal TMMD, Warga Desa Windurojo Kabupaten Pekalongan Turun Kerja Bakti
Selain jalan, Tim Wasev juga memantau program pembuatan sumur bor sebagai bagian dari TNI Manunggal Air Bersih.
Di wilayah ketinggian seperti Windurojo, ketersediaan air bersih memang menjadi masalah utama.
"Sumur bor ini harapannya jadi solusi sebagai bentuk kehadiran negara lewat TNI. Kalau airnya mengalir, warga tak perlu lagi ngangsu jauh-jauh," jelasnya.
Baca Juga: Warga Sapuro Kebulen Kompak Bantu TNI Bangun Jalan Lewat Program TMMD
Sementara itu Kepala Desa Windurojo Rahmat menyebut, jalan yang sedang diaspal itu merupakan akses distribusi hasil pertanian.
Warga setempat menyebutnya sebagai jalan kebo (kerbau). Sejak dulu tak pernah layak dilintasi kendaraan.
"Warga memang sudah antusias sekali begitu mengetahui jalan ini akan diaspal. Mereka jadi bisa lancar angkut hasil pertanian," ungkapnya.
Rahmat juga mengapresiasi TMMD mengerjakan pengeboran sumur. Sebab, kata dia, selama ini warga mengandalkan mata air.
"Tapi tidak mencukupi. Kalau pas kemarau malah kekurangan, sulit sekali," ucapnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla