METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Tradisi tahunan pembukaan Pintu Bendung Gembiro (Bedah Bendung) di Desa Krandon, Kesesi, Kabupaten Pelalongan, tahun 2025 ini kemungkinan besar batal atau tidak terlaksana.
Menyusul rusaknya dua dari tiga pintu bendungan. Dalam itung-itungan teknis, pekerjaan perbaikan tak mungkin dilakukan dalam waktu dekat.
Operator Bendung Gembiro Toni Waluyo mengungkapkan, kerusakan bermula dari korsleting pada dinamo motor listrik penggerak pintu.
Situasi makin sulit karena debit air dari Bendungan Sragi/Brondong dan Bendungan Kajen tetap tinggi. Padahal perbaikan rumah pintu butuh kondisi debit kecil.
“Sekarang masuk musim hujan, debit besar terus. Jadi mungkin pekerjaan baru bisa dilakukan saat kemarau,” tambahnya.
Karena hanya satu dari tiga pintu yang masih berfungsi, pembukaan bendung dianggap tak mungkin dilakukan.
Prosedur operasi mengharuskan ketiganya dibuka bersamaan agar pengeringan berlangsung aman.
"Ini saya hanya bisa menjelaskan secara teknis dan SOP. Memang harus begitu. Kalau untuk secara resminya, bakal dibuka atau tidak, atau kapan, saya tidak bisa memastikan," ungkapnya.
Sementara itu Ketua IP3A (Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air) Kalijogo Tangguh Prawiro menilai simpang siur informasi di media sosial turut memicu keresahan warga yang menanti tradisi bedah bendung. Kemarin, ia menyempatkan memantau langsung ke bendungan.
“Kami memantau ke bendungan info di medsos simpang siur. Ternyata memang dalam perbaikan. Sayangnya masyarakat tidak tahu penyebab pastinya karena minim informasi dari pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila Gembiro tak dibuka tahun ini tidak berdampak besar bagi pertanian. Tetapi berpengaruh secara sosial.
“Untuk pertanian, tidak terlalu berpengaruh. Tapi bagi masyarakat umum ini hiburan rakyat. Kami menyayangkan sebenarnya, tapi kami juga paham kondisi teknisnya memang rusak,” tuturnya.
Ia menilai simpang siur informasi di media sosial turut memicu keresahan warga.
Tradisi “bedah bendung” atau “memet iwak” selama ini memang menjadi hiburan rakyat yang ditunggu masyarakat Kabupaten Pekalongan.
Ia berharap BBWS Pemali–Juana maupun Pemkab Pekalongan segera memberi rilis resmi agar tidak memicu polemik berkepanjangan.
“Ini bukan hanya soal tradisi 1 November, tapi untuk kesiapsiagaan banjir dan pengelolaan air. Harapannya perbaikan segera selesai dan tradisi ini bisa kembali digelar tahun depan," ucapnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla