METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Program Sekolah Lapang (SL) jagung di Kabupaten Pekalongan menunjukkan hasil nyata.
Demplot seluas 2 hektare di Desa Lambur, Kecamatan Kandangserang, resmi dipanen bersama kelompok tani setempat, Rabu 3 Desember 2025.
Panen di Lambur itu sekaligus mempertegas capaian luas tanam jagung Kabupaten Pekalongan yang telah menembus 981 hektare, jauh di atas target nasional 650 hektare.
Baca Juga: Panen Raya Jagung di Kota Pekalongan Hasilkan 10 Ton, Bukti Sinergi Polri-Pemkot
“Per Oktober, kami sudah mencapai 981 hektare. Bahkan sekarang kami mengejar angka 1.200 hektare,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan Yudhi Himawan.
Dalam konsep SL, seluruh kebutuhan budidaya dibantu pemerintah. Mulai benih, pupuk, pestisida, hingga penghubung ke off-taker seperti Bulog, agar petani mendapat kepastian harga.
"Intinya, kami membuat demplot di lahan masyarakat. Semua kebutuhan dibantu penuh, termasuk nanti kita bantu komunikasikan ke Bulog atau pembeli lain dengan harga yang tidak memberatkan petani,” jelas Yudhi.
Ia menambahkan, tanam jagung kini tersebar di seluruh kecamatan. Potensi terbesar berada di Kandangserang, Kesesi, Doro, Karanganyar, dan Kajen.
Peningkatan luas tanam dilakukan tanpa mengganggu lahan baku sawah, karena memanfaatkan lahan kering di luar area padi.
“Demplot jagung di Desa Lambur itu kini memasuki tahap pemasaran. Hasil panen akan dikomunikasikan ke Bulog yang telah menetapkan harga Rp6.400 per kilogram dengan kadar air 14 persen. Jika serapannya baik, kami berencana memperluas replikasi program ke kelompok tani lain,” imbuhnya.
Baca Juga: Beli Sembako Pakai QRIS, Warga Pekalongan Panen Diskon di Fesyar 2025
Tahun ini SL Kabupaten Pekalongan fokus pada dua komoditas, yakni padi dan jagung. Untuk jagung, panen di Lambur menjadi capaian penting, hasil kolaborasi Pemkab Pekalongan dan Polres.
Sementara untuk padi, didampingi TNI, sedangkan tebu dikembangkan bersama Kejaksaan. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla