METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Potensi bencana masih mengintai Kabupaten Pekalongan seiring cuaca ekstrem awal tahun 2026.
Pemkab Pekalongan mengantisipasi risiko dengan mengalokasikan anggaran Rp 1,2 miliar untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah atas kemungkinan bencana.
Kepala Pelaksana BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Pekalongan Agus Pranoto mengatakan, anggaran kebencanaan itu mencakup tiga tahapan utama penanggulangan bencana, yakni pencegahan, penanganan kedaruratan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Baca Juga: Dishub Kabupaten Pekalongan Petakan Jalur Rawan Bencana, Arah Dieng Rawan Longsor dan Pohon Tumbang
“Anggaran ini digunakan untuk mendukung seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pencegahan hingga penanganan setelah bencana terjadi,” ujarnya.
Pada tahap pencegahan, BPBD memfokuskan anggaran pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan kebencanaan.
Selain itu, penguatan peran kecamatan dan desa juga menjadi perhatian melalui program pembentukan desa dan kecamatan tangguh bencana sepanjang 2026.
Baca Juga: Siaga Nataru dan Bencana, KSR PMI Batang Digembleng Pertolongan Pertama
Kebutuhan operasional, termasuk honor satuan tugas kebencanaan, turut dialokasikan dalam pos ini.
Sementara pada tahap kedaruratan, anggaran disiapkan untuk mendukung respon cepat ketika bencana terjadi, meliputi penyediaan logistik, peralatan, serta kebutuhan penanganan di lapangan.
Adapun pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi, BPBD akan melakukan pendataan dampak serta menyusun kajian sebagai dasar penanganan lanjutan.
“Rinciannya memang belum dijabarkan satu per satu, namun kebutuhan dasar kebencanaan sudah terakomodasi,” kata Agus.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
Wilayah pegunungan dinilai rawan longsor akibat curah hujan tinggi, sementara kawasan pesisir berpotensi terdampak banjir rob.
Baca Juga: Ribuan Pelari Industropolis Run Galang Donasi untuk Bencana di Pulau Sumatera
Masyarakat diminta menghindari aktivitas di lokasi rawan serta mengenali tanda-tanda awal terjadinya bencana.
Sejumlah titik rawan, lanjut Agus, telah dilengkapi dengan Early Warning System (EWS) sebagai peringatan dini.
Selain itu, BPBD telah berkoordinasi dengan para camat agar desa-desa di wilayah rawan menetapkan titik aman dan menyiapkan jalur evakuasi.
Baca Juga: Kemenag Beri Relaksasi Perkuliahan PTKI Terdampak Bencana Alam
Perhatian juga diberikan pada kawasan permukiman yang kerap tergenang meski hujan berlangsung singkat, yang diduga akibat sistem drainase belum optimal.
BPBD meminta dukungan dinas teknis terkait, seperti PSDA dan DPU kabupaten maupun provinsi, untuk melakukan pemangkasan pohon rawan tumbang serta penanganan saluran air tersumbat.
Sejumlah ruas jalan, salah satunya Karanganyar–Wonopringgo, disebut kerap mengalami luapan air saat hujan singkat. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla