METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedungwuni Timur, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, tetap berjalan.
Meskipun ada kasus dugaan siswa keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG tersebut.
Kasus tersebut terjadi di SD Negeri 01 Kedungwuni yang lokasinya hanya beberapa langkah dari SPPG Kedungwuni Timur.
Total 15 siswa mengalami mual dan muntah usai menyantap menu MBG, pada Selasa 13 Januari 2026.
Baca Juga: Operasional SPPG di Batang Tertunda Gara-Gara Jejer Kandang Kambing
Sebagian dilarikan ke puskesmas, sebagian lain ke rumah sakit terdekat. Syukur seluruhnya telah dipulangkan, tidak ada yang menjalani rawat inap.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan Edy Herijanto menegaskan hingga kini belum ada hasil pemeriksaan laboratorium yang menyatakan makanan MBG sebagai penyebab kejadian tersebut. Keracunan masih dugaan dan perlu dibuktikan secara ilmiah.
“Itu kan baru diduga. Klasternya juga kecil, hanya satu sekolah dan jumlahnya 15 siswa. Sementara distribusi MBG kan ribuan porsi,” ujar Edy, Rabu 14 Januari 2026.
Edy mengatakan Dinkes telah melakukan pengecekan langsung ke SPPG. Pemeriksaan meliputi proses pengolahan, penyimpanan makanan, hingga sanitasi peralatan serta air yang digunakan.
“Kami sudah datangi, lakukan pembinaan ke pengelola MBG, ahli gizi, dan para penjamah makanan. Kami cek tempatnya, secara umum masih dalam batas wajar,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini SPPG Kedungwuni Timur tetap berjalan normal alias tidak dihentikan.
"Operasional tetap normal. Kami tidak bisa serta-merta menutup. Harus ada dasar, hasil penelitian, dan laporan resmi,” tegasnya.
Meski demikian, Dinas Kesehatan menyiapkan langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Salah satunya dengan mempercepat penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh penyedia MBG, serta memperketat prosedur pengawasan dari hulu hingga hilir.
“Ke depan kami percepat SLHS, prosedur kami perketat, dan pengawasan terhadap MBG yang sudah berjalan juga kami tingkatkan,” tandas Edy.
Sebelumnya, Kepala SPPG Kedungwuni Timur Idhar K.R mengonfirmasi kebenaran kejadian belasan siswa SD Negeri 01 Kedungwumi mengalami mual dan muntah usai menyantap menu MBG.
Ia menyebut, hari itu menu MBG didistribusikan sekitar pukul 07.00, namun baru dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.30.
Baca Juga: Demi Keamanan MGB, Pemkot Pekalongan Wajibkan Relawan SPPG Bersertifikat
Menunya yakni bakmi jawa dengan isian kubis, wortel, serta telur ceplok yang disajikan terpisah. Ada pula anggur, lalu mentimun sebagai lalapan.
Disinyalir, mi yang disajikan telah basi. Namun Idhar menyebut semua sudah melalui pemeriksaan sesuai prosedur.
"Pas ada laporan, saya langsung ke sekolah. Saya cicipi bakminya. Teksturnya masih baik, tidak berlendir, tapi memang rasanya agak asam," ungkapnya.
Plt Kepala Sekolah SD Negeri 01 Kedungwuni Deddy Ardiansyah mengatakan, pihaknya tak bisa berspekulasi soal penyebab kejadian.
Baca Juga: Pusatkan di Batang, PBNU Resmikan 69 SPPG, Gus Yahya Targetkan 1.000 Titik di 2026
Pasalnya, kata dia, di sekolah lain tak ada kejadian serupa. Padahal menu yang disajikan sama dan dari dapur yang sama juga.
"Di SDN 02 Kedungwuni, tempat saya menjabat kepala sekolah definitif, itu tidak ada kejadian apa-apa. Jadi soal penyebab kami tidak mau berspekulasi. Entah karena MBG, atau faktor lain," ujarnya.
Saat ini, Dinkes Kabupaten Pekalongan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Labkesda Provinsi Jawa Tengah untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Pekalongan Nauf menegaskan, dugaan keracunan akibat MBG belum dapat dipastikan.
Baca Juga: Polres Pekalongan Kota Buka Dapur SPPG, Dua Lokasi Lagi segera Menyusul
Menurutnya, penentuan penyebab harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Pihak SPPG, kata dia, akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Badan Gizi Nasional (BGN), TNI, Polri, serta Dinas Kesehatan.
“Kami akan bersikap terbuka dan objektif. Laporan resmi juga akan disampaikan ke BGN pusat sambil menunggu hasil uji laboratorium,” ujarnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla